AnandaMu Dihentikan, Kasus SARA Ustaz HA Berlanjut ke Polisi! Dinilai Cacat Hukum, Kuasa Hukum AF Pertanyakan SPDP dari Kejari Tanbu di Praperadilan Besok, Bandara SAMS Sepinggan Balikpapan Mulai Terapkan Tes GeNose Rancangan Van Der Pijl Mulai Bias, Sejarawan Kalsel Ingatkan Lagi Sejarah Kota Banjarbaru Triwulan I, Bank Kalsel Laporkan Laba Rp 121 Miliar

Viral Kisah Muazin Tunanetra Bersuara Merdu di Banyuwangi

- Apahabar.com Rabu, 24 Maret 2021 - 14:47 WIB

Viral Kisah Muazin Tunanetra Bersuara Merdu di Banyuwangi

apahabar.com, BANYUWANGI – Seorang muazin tunanetra di Banyuwangi mendadak viral, lantaran bersuara merdu.

Awalnya sosok itu diketahui dari video unggahan akun @ayung_n di Twitter, Rabu (24/3). Dalam video yang berdurasi 45 detik, terlihat seorang kakek sedang mengumandangkan azan.

“Namanya Pak Mad. Muadzin di Masjid Baitul Muttaqin, Desa Kalipait, Tegaldlimo, Banyuwangi. Suaranya, masyaallah, merdu,” tulis akun @ayung_n.

Berdasarkan keterangan sang pemilik akun, Pak Mad atau Ahmad Bisri kehilangan penglihatan dalam 5 tahun terakhir.

“Saya memang muazin di masjid ini. Beberapa orang bilang suara saya bagus. Padahal menurut saya biasa saja. Katanya ada yang video gitu, saya tidak tau,” ungkap Ahmad seperti dilansir Detik.

Pria berusia 61 tahun itu merupakan muazin tetap di Masjid Baitul Muttaqin. Sementara jarak masjid dengan rumah Pak Mad sekitar 300 meter.

Dalam setiap menunaikan tugas, Pak Mad diantar sang istri, Siti Halimah, dari rumah ke depan pintu masjid, “Saya pasrah. Sekarang mengandalkan istri yang setia merawat,” lirih Pak Mad.

Untuk salat subuh, Halimah mengantarkan Pak Mad sejak pukul 04.00 dan dijemput sekitar 07.00. Pak Mad kembali ke masjid pukul 10.00 WIB untuk persiapan azan zuhur.

“Saya berada di masjid seharian penuh. Pulang ke rumah sekitar pukul 20.00 usai salat isya,” jelas Pak Mad.

Pak Mad diketahui belajar mengumandangkan azan sejak kecil, ketika menimba ilmu di Pondok Pesantren Darussalam Blokagung, Desa Karangdoro, Kecamatan Tegalsari.

Selama berada di pesantren terbesar di Bumi Blambangan itu, Pak Mad langsung ditangani KH Muhtar Syafaat Abdul Gofur yang sekaligus pengasuh ponpes.

“Saya belajar di Ponpes Blokagung selama enam tahun. Sekarang hanya ini yang saya mampu. Alhamdulillah kemampuan ini bermanfaat untuk orang lain,” papar Pak Mad.

Pak Mad sendiri mengalami kebutaan sejak 2010, atau setelah diserang penyakit glaukoma. Pun pengobatan medis hingga tradisional sudah dilakukan.

“Saya sempat berobat ke Surabaya. Namun akibat keterbatasan biaya, saya berhenti berobat. Biayanya sekali berobat sekitar Rp2 juta,” jelas Pak Mad

Pak Mad sebelumnya bekerja sehari-hari sebagai petani di Desa Kalipait, Kecamatan Tegaldlimo, “Akibat penyakit itu, saya tidak bisa bekerja lagi dan mengkhususkan menjadi tukang azan,” pungkasnya.

Editor: Bastian Alkaf - Apahabar.com


Share :

Baca Juga

apahabar.com

Gaya

Radja Pempek, Menyicipi Lezatnya Pempek Asli Palembang di Batulicin
apahabar.com

Gaya

Bau Mulut dan Jerawat Akibat Masker, Simak Cara Atasinya
apahabar.com

Gaya

Nutanix Gandeng Microsoft Azure untuk Mengusung Seamless Hybrid
apahabar.com

Gaya

Poco X3 NFC dengan Snapdragon 732G Bidik Pasar Menengah, Berikut Harganya

Gaya

Berjuang, Starcase Event Banjarmasin Gelar Konser Musik dengan Prokes Covid-19
apahabar.com

Gaya

Kalimantan Selatan Relatif Aman DBD
apahabar.com

Gaya

Pemkot Ajak Semua Pihak Promosikan Kuliner Khas Banjar
apahabar.com

Gaya

Menggiurkan, Budi Daya Ikan Cupang Raup Untung Hingga Ratusan Juta per Bulan
error: Dilarang copy paste artikel berita tanpa menyertakan link url : https://apahabar.com