Dikira Ijazah, Ternyata SKCK Prof Denny Berserakan di Martapura, Bawaslu Angkat Bicara Prof Yusril: Penetapan Tersangka Eks Sekda Tanbu Labrak HAM Legislator Kalsel Kecam e-Sport Disponsori Judi Online KPU Banjar Tanggapi Santai Protes BirinMu Soal Pembukaan Kotak Suara Ricuh Safari Subuh Denny dan ‘Paman Bakul’ Disetop, Pelanggaran ASN Jalan Terus

Guci Berisi Tulang di Tala dan Penguburan Sekunder Tradisi Dayak

- Apahabar.com Sabtu, 3 April 2021 - 21:08 WIB

Guci Berisi Tulang di Tala dan Penguburan Sekunder Tradisi Dayak

Tim Arkeolog Kalsel saat memeriksa piring melamin yang juga terdapat dari penemuan guci berisi tulang belulang di Tala. Foto: Istimewa.

apahabar.com, PELAIHARI – Penemuan guci berisi benda diduga tulang belulang di Tanah Laut (Tala) menarik perhatian sejarawan Kalsel, Mansyur SPd MHum.

Seperti diketahui, pada awal April tadi, seorang warga di wilayah Saranghalang, Kecamatan Pelaihari, Kabupaten Tala, Kalimantan Selatan (Kalsel), menemukan guci berisi benda yang diduga tulang belulang.

Kemudian terdapat piring melamin bermotif biru sebagai penutup bagias atas guci yang posisinya telungkup.

Tulang belulang yang ada di dalam guci ini telah rapuh, tercerai berai serta mengapur.

Adapun Kedalaman guci itu sekitar setengah meter dari permukaan tanah.

Kondisi fisik guci berwarna cokelat terbuat dari tanah liat dengan ragam hias naga.

Selain itu Terdapat ukiran mirip kepala macan. Tinggi guci sekitar 50 centimeter.

Namun, menurut Mansyur dalam sudut pandang sejarah, hanya bisa memberikan gambaran umum mengenai penguburan guci ini.

Sementara terkait hal lainnya, kata Mansyur, mengenai masyarakat pendukung penguburan guci hingga usia guci itu termasuk domain dari arkeolog dari Balai Arkeologi Kalimantan Selatan.

“Hal yang pasti tinggalan ini perlu penelitian pendalaman oleh arkeolog. Waktu yang diperlukan juga cukup panjang untuk menghasilkan kesimpulan,” ujar Mansyur dalam catatannya ke redaksi apahabar.com, Sabtu (3/4/2021).

Dia menjelaskan, praktik penguburan menggunakan guci sudah dilakukan di beberapa belahan dunia sejak lama.

Yakni, sejak tahun 900 Sebelum Masehi dan berlangsung hingga Abad ke-17 Masehi.

Bukti pemakaman guci juga telah ditemukan mulai dari India, Indonesia, sampai Libanon, Filipina, dan Mesir.

Lebih jau dia menjelaskan, dari beberapa literatur dituliskan pada masyarakat di Kalimantan umumnya, mengenal penguburan guci dengan istilah lain.

Yakni kuburan tajau yang sudah ada sejak masa prasejarah. “Biasanya dibagi dalam dua jenis menurut ada tidaknya wadah kubur,” kata Mansyur.

Ada penguburan dengan wadah dan penguburan tanpa wadah yang langsung diletakkan di atas permukaan tanah, tebing, gua, atau dalam tanah.

Hasil penelitian Hartatik (2011) tentang Kubur Tajau Sanga Sanga dan variasi budaya Austronesia di Asia Tenggara, kubur dengan wadah tajau atau tempayan keramik di Kalimantan sangat jarang ditemukan di situs-situs penguburan yang dikenal sejak masa prasejarah akhir dan berlanjut sebagai tradisi.

Tajau yang digunakan sebagai wadah kubur diletakkan di lokasi penguburan, biasanya di hutan, bukit atau gua.

Dalam penguburan tersebut, mereka menggunakan wadah kubur yang disesuaikan dengan status sosial si mati.

Sebagai perbandingan, kata Mansyur, sebelum penemuan guci yang berisi tengkorak di Tala ini, sudah ada penemuan menghebohkan sekitar sepuluh tahun lalu.

Dia menyebutkan, Tepatnya pada tahun 2010 lalu di Kecamatan Sanga Sanga, Kutai Kartanegara, Kaltim.

Saat itu, dijelaskan Mansyur, tim peneliti dari Balai Arkeologi Kalsel menemukan kuburan berupa 52 tajau atau guci berisi kerangka manusia, tiga kerangka masih utuh.

Kuburan tajau, yang juga diistilahkan dengan nama lain guci atau martavan ini sudah ada pada abad ke-18 dan menjadi terbesar yang pernah ditemukan di Indonesia.

“Penguburan tajau di wilayah Sanga Sanga ini memiliki banyak kemiripan dengan penguburan guci yang ada di Tala,” terang Mansyur.

Pada penguburan tajau di Sanga Sanga, tajau atau guci itu bermotif ukiran Tiongkok dari abad ke-16 sampai abad ke-18.

Sementara piring yang ditemukan di lokasi berasal dari abad ke-18.

Setiap guci berisi kerangka satu individu tanpa harta benda.

“Kerangka dalam guci merupakan pola penguburan sekunder pada tradisi Dayak,” ungkapnya.

Sekunder berarti jenazah dikubur dalam tanah sampai saat dipindahkan ke dalam guci dengan ritual adat.

Jumlah individu dalam guci menggambarkan jumlah minimal hewan yang dikurbankan.

Dari rilis BPCB Kalimantan Timur (Kaltim), ada lima deret yang masing-masing deret terdiri atas sembilan atau sepuluh tajau.

Masing-masing kubur tajau berisi tulang-tulang anggota tubuh dan tengkorak tanpa rambut, ditutup dengan piring keramik dengan posisi terbalik (mulut piring menghadap ke dalam tajau).

Kubur tajau tersebut terkonsentrasi di dalam tanah dengan kedalaman sekitar 50 – 100 centimeter dari permukaan tanah.

Secara morfologis, tajau yang ditemukan di Sanga Sanga dapat digolongkan dalam dua jenis, yaitu tajau berbadan ramping dengan bibir bergelombang dan tajau berbadan tambun dengan bibir polos tanpa hiasan.

Tajau berbadan ramping mempunyai hiasan naga, awan, geometris motif titik-titik dalam pita, dan flora.

Tajau berbadan ramping dengan pola hias tersebut mirip dengan tempayan Martavan yang banyak diproduksi di Cina Selatan pada abad ke-17-18 Masehi.

“Berdasarkan perbandingan tersebut, penguburan tajau atau guci yang ditemukan di Kabutan Tala ini memiliki kemiripan yakni berupa pola penguburan sekunder yang umumnya ada pada tradisi Suku Dayak,” bebernya.

Jenazah dikubur dalam tanah sampai saat dipindahkan ke dalam guci dengan ritual adat.
Kategorinya kubur sekunder dengan wadah.

Hal ini memang bukan hal baru karena berdasarkan data etnografi masyarakat tradisional di Kalimantan masih melaksanakan sistem penguburan dengan menggunakan keriring, tebela, dan lungun serta tempayan sebagai wadah kubur.

Sebagai perbandingan lain menurut Hartatik (2011), secara umum memang terdapat tradisi penguburan yang kemudian berkembang di kawasan karst Pegunungan Meratus adalah penguburan dengan wadah, baik wadah yang terbuat dari kayu dan wadah terbuat dari tanah liat bakar (tembikar).
Pada umumnya penguburan ini dilakukan secara primer, yang pada masa selanjutnya berubah menjadi penguburan sekunder (kedua).

Jenis penguburan ini dilakukan oleh etnis suku Dayak yang bermukim di sekitar Pegunungan Meratus.

Selain di Sanga Sanga, kubur tajau ditemukan dalam penelitian ekskavasi di Haringen dan Magantis, Kabupaten Barito Timur, Kalimantan Tengah.

Situs Haringen merupakan situs penguburan sekunder masyarakat Dayak Maanyan yang sekarang menjadi ladang, dengan temuan permukaan berupa fragmen keramik.

Tajau sebagai wadah kubur yang ditemukan di Situs Haringen dikubur dalam tanah.

Dalam banyak budaya kuno, kematian dipandang sebagai transisi bertahap dari proses hidup ke proses kematian. Untuk menghormati tradisi ini, mayat akan diletakkan begitu saja sehingga anggota keluarga dapat mengamati proses dekomposisi.

Setelah jangka waktu tertentu, mayat tersebut kemudian akan dimakamkan ke dalam guci dan dikubur di dalam tanah. Akan tetapi mengapa situs-situs tertentu dipilih sebagai tempat penguburan untuk guci itu masih menjadi misteri.
Penguburan guci adalah penguburan manusia dimana jenazah ditempatkan ke dalam gerabah berukuran besar dan kemudian dikebumikan. Penguburan guci adalah pola yang berulang di suatu situs atau dalam budaya arkeologi.

Mengenai guci ini perlu penelitian lebih mendalam. Sebagai perbandingan barang berupa guci/tajau atau balanga, bagi Suku Dayak termasuk barang yang bernilai sakral.

Kemudian untuk mengamati, memahami, dan mengetahui asal usul, perkiraan tahun pembuatan dan kualitas bahan pembuatan, dibutuhkan pengamatan yang sangat cermat untuk membedakannya.

Di antaranya adalah mengamati lukisan/ragam hias pada tajau atau balanga tersebut.

Menurut keyakinan pada Suku Dayak Ngaju misalnya, tajau atau balanga ada dua macam yaitu laki dan perempuan.

Memiliki banyak koleksi balanga, mampu meningkatkan status sosial seseorang, bahkan warga sekampung akan menyeganinya.

Orang Dayak juga bahwa meyakini balanga mempunyai roh yang bertempat tinggal di langit keenam.
Itulah sebabnya pada telinga balanga, sering digantungkan sesajen.

Apabila ada balanga yang pecah, upacara adat diadakan, agar roh balanga tidak marah.

Fungsi tajau sendiri dipergunakan sebagai barang adat pada acara meminangan gadis, tempat menyuguhkan sesaji bagi para leluhur atau roh-roh suci.

Walaupun demikian, ditemukan fakta tajau juga dipergunakan untuk menyimpan tulang belulang manusia yang telah meninggal.

Heboh Guci Misterius Berisi Tengkorak di Tala, Arkeolog Turun Tangan

Editor: Ahmad Zainal Muttaqin - Apahabar.com


Share :

Baca Juga

apahabar.com

Kalsel

Gelar Pasar Murah Jelang HUT Kodim 1007
apahabar.com

Kalsel

Hujan Lagi Siang Ini, Lihat Ramalan BMKG untuk Kalsel
apahabar.com

Kalsel

Pandai Manfaatkan Situasi, Kanit Binmas Sampaikan Beberapa Imbauan
apahabar.com

Kalsel

Ulama Manado Asal HST Wafat, Dua Bupati Sampaikan Duka Mendalam
apahabar.com

Kalsel

Ritel Modern ‘Gusur’ Pedagang Kecil
apahabar.com

Kalsel

Waspada Kebakaran Lahan Kawasan Bandara
apahabar.com

Kalsel

Usai Akad Islam, Mempelai di Banjarmasin Lakukan Pemberkatan
Alalak

Kalsel

Buntut Postingan Wabup, Feri Penyeberangan di Alalak Banjarmasin Berhenti Beroperasi!
error: Dilarang copy paste artikel berita tanpa menyertakan link url : https://apahabar.com