Aglomerasi Banjar Bakula Ditiadakan, Banjarbaru Mulai Sekat Pemudik! Khotbah Tak Boleh Lewat 10 Menit, Tabalong Resmi Larang Takbir Keliling Dinonaktifkan KPK Saat Tangani Kasus Besar, Novel Siapkan Perlawanan  Tegas, Kapolda Kalteng Minta Anak Buahnya Larang Mudik di Kapuas Lucky Birthday Bjb 60versary Tawarkan Hadiah Jutaan Rupiah, Ayo Ikuti Promonya

Rupiah Loyo Lagi, Apa Penyebabnya?

- Apahabar.com Senin, 12 April 2021 - 11:24 WIB

Rupiah Loyo Lagi, Apa Penyebabnya?

Ilustrasi rupiah dan dolar AS. Foto-Katadata/Adi Maulana Ibrahim

apahabar.com, JAKARTA – Nilai tukar rupiah kembali loyo melawan dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan Senin (12/4/2021), hingga melewati Rp 14.600/US$.

Sebelumnya rupiah sudah membukukan pelemahan dalam 8 pekan beruntun dengan total 4,37%.

Melansir data CNBC Indonesia, pada pukul 09:33 WIB, rupiah melemah 0,31% ke Rp 14.605/US$. Level tersebut merupakan yang terlemah sejak 3 November 2020 lalu.

Pada pekan lalu, indeks dolar AS sebenarnya mengalami penurunan nyaris 1%, tetapi tidak bisa dimanfaatkan rupiah untuk menguat. Saat indeks yang mengukur kekuatan dolar AS ini melemah, rupiah tidak bisa bangkit, apalagi sebaliknya. Indeks dolar AS pagi ini sudah menguat 0,12%, rupiah tentunya terpukul.

Data terbaru dari AS menunjukkan berlanjutnya pemulihan ekonomi. Jumat kemarin, indeks harga produsen (producer price index/PPI) dilaporkan meroket 4,2% pada bulan Maret.

Kenaikan tersebut merupakan yang tertinggi dalam lebih dari 9 tahun terakhir. Selain itu, kenaikan PPI mengindikasikan roda bisnis mulai semakin menggeliat, dan para wirausahawan mulai meningkatkan aktivitasnya.

Pelaku pasar bahkan mulai melihat peluang bank sentral AS (Federal Reserve/The Fed) akan menaikkan suku bunga di akhir tahun ini. Padahal ketua The Fed, Jerome Powell, berulang kali menegaskan suku bunga 0,25% akan ditahan setidaknya hingga tahun 2023.

Berdasarkan perangkat FedWatch milik CME Group, pelaku pasar melihat ada probalitas sebesar 10% The Fed akan menaikkan suku bunga menjadi 0,5% pada bulan Desember 2021. Meski probabilitas tersebut kecil, tetapi terus mengalami kenaikan.

Jika data ekonomi AS terus menunjukkan perbaikan, tidak menutup kemungkinan probabilitas tersebut akan semakin meningkat, yang bisa membuat dolar AS kian perkasa.

Editor: Puja Mandela - Apahabar.com


Share :

Baca Juga

Ekbis

Agen ‘Nakal’ hingga Pengecer Sepeda Motor Menjamur, LPG di Kalsel Jadi Langka?
apahabar.com

Ekbis

Awal Pekan, Harga Emas Antam Dibuka Turun Jadi Rp 931.000 per Gram

Ekbis

UMKM Pemula Wajib Tahu, Ini Kiat Sukses Jualan Online
apahabar.com

Ekbis

BPS: Kupang Paling Tinggi Inflasi, Banda Aceh Terendah
apahabar.com

Ekbis

RUPS 2020, XL Axiata Sepakat Bagi Deviden Serta Perubahan Susunan Direksi dan Dewan Komisaris
apahabar

Ekbis

Akhir Tahun BI Prediksi Inflasi 0,3%
apahabar.com

Ekbis

Ekonomi Dalam Negeri Membaik, Rupiah Ditutup Menguat
apahabar.com

Ekbis

Indosat Luncurkan Asisten Google, Cara Baru Cari Informasi Lewat Telepon Gratis
error: Dilarang copy paste artikel berita tanpa menyertakan link url : https://apahabar.com