Biang Prostitusi Anak di Banjarmasin, Takut Diantar ke Panti karena Utang Kreditan Belasan Mahasiswa-Polisi Luka-Luka, Polres Ungkap Biang Ricuh #SaveKPK II di Banjarmasin #SAVEKPK Bergaung di Banjarmasin: Ratusan Mahasiswa Ultimatum Ketua DPRD Kalsel di Tengah Guyuran Hujan Tagih Janji Reklamasi, Dewan Tabalong Ngotot Panggil Bos Adaro UPDATE! Tunggu Supian HK, Massa #SaveKPK di Banjarmasin Ngotot Bertahan

AJI Desak Polisi Usut Tuntas Intimidasi Jurnalis di Lampung

- Apahabar.com Rabu, 5 Mei 2021 - 23:40 WIB

AJI Desak Polisi Usut Tuntas Intimidasi Jurnalis di Lampung

Ilustrasi. Foto-Ist

apahabar.com, BANDAR LAMPUNG – Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Bandar Lampung mengecam keras aksi intimidasi terhadap Yehezkiel Ngantung, jurnalis Metro TV Lampung yang bertugas di Kabupaten Lampung Barat.

Saat meliput keributan di Pemkab Lampung Barat, jurnalis tersebut dikejar-kejar, diancam, dan diintimidasi beberapa preman.

“Korban telah melaporkan kasus ini ke Polres Lampung Barat. Kami mendesak kepolisian untuk mengusut tuntas kasus tersebut,” kata Ketua AJI Bandar Lampung Hendry Sihaloho dilansir dari Republika.co.id, Rabu (5/5).

Hendry mengatakan peristiwa itu bermula ketika Yehezkiel menyaksikan kericuhan di depan kantor bagian Unit Layanan Pengadaan di kompleks Pemkab Lampung Barat, Selasa (4/5) siang.

Instingnya sebagai jurnalis pun bekerja. Sambil mengatur jarak aman, Yehezkiel mendokumentasikan keributan tersebut.

Menyadari direkam, beberapa orang yang diduga oknum preman menghampiri Yehezkiel. Mereka melarang Yehezkiel mengambil gambar, bahkan berusaha merebut kamera sang jurnalis. Dalam situasi tersebut, korban mendengar perkataan bernada ancaman,

“Jangan macam-macam. Saya pecahkan kepala kamu!”

“Keterangan korban, ada seseorang yang terus mengejarnya. Saat itu, korban melihat orang yang mengejarnya menyimpan pisau yang diselipkan di bagian pinggang,” ujar Hendry.

Ia meminta semua pihak menghormati aktivitas jurnalistik. Sebab, keberadaan jurnalis untuk menjaga dan memastikan hak-hak publik terpenuhi, di antaranya hak atas informasi. Selain itu, kerja-kerja jurnalisme dilindungi Undang Undang Nomor 40 Tahun 1999 tentang Pers.

“Pasal 18 UU Pers mengatur bahwa setiap orang yang menghambat atau menghalangi aktivitas jurnalistik dipidana penjara dua tahun atau denda Rp 500 juta,” kata dia.

Hendry mengimbau komunitas pers, termasuk perusahaan media, berkomitmen terhadap keselamatan jurnalis. Perlu upaya bersama-sama untuk memutus rantai kekerasan terhadap jurnalis. Bila tidak, maka kekerasan yang menimpa wartawan akan terus terulang.

“Kekerasan demi kekerasan terhadap jurnalis membuktikan bahwa kebebasan pers itu mesti diperjuangkan. Jika memang serius dan peduli akan kebebasan pers, mari mengawal kasus kekerasan terhadap jurnalis agar diusut tuntas. Jangan menoleransi upaya-upaya yang mengarah pada perdamaian,” ujar Hendry.

Editor: Puja Mandela - Apahabar.com


Share :

Baca Juga

Gibran

Nasional

Blusukan Usai Dilantik Jadi Wali Kota Surakarta, Simak Potret Gibran Putra Jokowi
apahabar.com

Nasional

Gelombang Setinggi 4-6 Meter Ancam Perairan NTT
apahabar.com

Nasional

Selain Tarif Batas Atas, Pemerintah Diminta Turunkan PPN 10%
apahabar.com

Nasional

Mardani H Maming : Manfaatkan Jumpa Jokowi untuk Kemajuan Generasi Milenial Kalsel
Kawal Wacana PPN

Nasional

Kawal Wacana PPN 12%, DPR: Insyaallah Tak Terjadi
apahabar.com

Nasional

Penerjung Payung asal Kalimantan di Jogya Air Show Gagal Mendarat

Nasional

Hidayat Nur Wahid Dorong Pemerintah Berdialog dengan Habib Rizieq Shihab
apahabar.com

Nasional

Gunung Soputan Erupsi, Status Siaga
error: Dilarang copy paste artikel berita tanpa menyertakan link url : https://apahabar.com