Tok! Banjarmasin Esok PPKM Level IV, Berikut Ketentuannya Meninggal di Rumah, Guru Khalil Sempat Tak Sadarkan Diri Sejak Kamis Dikenal Karismatik, Alumni Ponpes Darussalam Sukses Jadi Bupati Banjar Kini Telah Tiada Ibnu Sina Ingin Penerapan PPKM Level IV Banjarmasin Lebih Humanis Perkelahian di Lapo S Parman Banjarmasin, Seorang Pemuda Tertusuk

Mencermati Kasus Potong Alat Kemaluan Sendiri di Batola, Apa Jadinya Jika Kehilangan Penis?

- Apahabar.com     Kamis, 27 Mei 2021 - 22:20 WITA

Mencermati Kasus Potong Alat Kemaluan Sendiri di Batola, Apa Jadinya Jika Kehilangan Penis?

Ilustrasi. Foto-Istimewa

apahabar.com, BANJARMASIN – Mencermati kasus potong alat kemaluan sendiri di Barito Kuala (Batola) tempo hari, lantas terpikir apa yang terjadi jika seorang pria harus kehilangan penisnya?

Seperti diketahui, seorang pria KS (29) warga Desa Karya Baru, Kecamatan Barambai, Batola, nekat memotong alat kelamin sendiri.

Peristiwa itu terjadi pada Senin (23/5/2021) sekitar pukul 17.00 WITA.

Aksi itu kemudian baru diketahui sang istri MW (28) sepulang dari acara perkawinan keluarga di desa tetangga.

Sementara KS mengaku nekat melakukannya karena ada bisikan gaib.

Bahkan bisikan itu diakuinya datang tidak sekali. Sebelumnya juga melalui mimpi.

“Sebelum kejadian itu korban mengaku tertidur. Kemudian dalam tidur, korban mendapat bisikan gaib melalui mimpi,” ujar Kapolres Batola, AKBP Lalu Mohammad Syarif Arif, melalui Kapolsek Barambai, Ipda Janner Sihite, Selasa (25/5/2021).

Usai aksi nekat itu, potongan alat kelaminnya disimpan dalam toples. KS memotong penisnya dengan cutter.

Belakangan kondisi mental KS diperiksa normal alias tidak mengalami gangguan jiwa.

Lantas, apa yang terjadi jika seorang pria kehilangan penisnya?

Dilansir klikdokter.com, di luar unsur kecelakaan, ada kalanya seorang pria harus merelakan organ kemaluannya dipotong.

Tentu saja hal ini didasari oleh indikasi medis oleh dokter atau ahli spesialis, yaitu situasi yang menempatkan seorang pria harus menjalani pemotongan penis atas pertimbangan kesehatan dan keselamatan hidupnya.

Memotong penis dalam istilah medis dikenal dengan nama penektomi.

Salah satu contoh indikasi medis untuk tindakan penektomi adalah kasus kanker penis.

Meski tindakan ini dilakukan untuk alasan kesehatan dan keselamatan hidup seorang pria, kehilangan penis tetaplah mendatangkan akibat-akibat yang kurang menyenangkan.

Memotong penis tanpa pemotongan skrotum akan membuat seseorang mengalami depresi.

Ini karena hasrat seks yang dipicu oleh hormon testosteron pria diproduksi di dalam skrotum.

Ketika skrotum tetap ada, sedangkan penis sudah tidak ada, maka pria akan mengalami gangguan penyaluran hasrat dan kepuasan seksualnya.

Tentunya, hal ini bisa memengaruhi kondisi mental pria tersebut.

Masalah lain adalah perbedaan kebiasaan saat buang air kecil.

Pria memiliki kepraktisan tersendiri dengan proses buang air kecil yang biasa dilakukan dengan cara berdiri.

Saat penis dipotong, buang air kecil harus dilakukan sambil berjongkok atau duduk seperti wanita.

Meskipun buang air kecil duduk memang lebih tuntas mengeluarkan urine pria, namun bisa dibayangkan kerepotan awal yang ditimbulkan akibat perubahan ini.

Selain penektomi, dikenal juga prosedur pengangkatan buah zakar atau orchiectomy.

Prosedur pengangkatan testis pada pria biasanya dilakukan karena adanya indikasi medis kanker testis atau karena terjadinya trauma berat pada organ testis.

Apa dampaknya jika testis diangkat?

Lokasi buah zakar merupakan area yang menampung organ reproduksi hormon testosteron. Jika buah zakar diambil, maka produktivitas testosteron ikut terganggu.

Testosteron merupakan pemeran penting terciptanya dorongan seks atau libido pada pria.

Ketika libido tidak muncul, maka aktivitas seks pun berkurang. Bagi beberapa pria, hal ini menjadi sumber masalah besar.

Dengan vakumnya hormon testosteron, bentuk tubuh pria juga menjadi cenderung membulat dan jauh dari kekar.

Ini karena testosteron merupakan hormon yang membantu pembentukan massa otot.

Selain itu, tanpa testosteron, pria juga bisa mengalami perubahan bentuk tubuh.

Biasanya yang terjadi adalah munculnya payudara pada pria yang dikenal dengan istilah ginekomastia.

Lebih jauh lagi, bagi sebagian pria, perubahan ini selanjutnya bisa berdampak pada kepercayaan dirinya.

Tak heran, pada mereka yang rentan, masalah ini bisa mendorong terjadinya gangguan depresi.

Gangguan lain akibat tak berproduksinya testosteron adalah tulang keropos atau osteoporosis.

Meski faktor usia yang bertambah ikut berperan, tapi tanpa testosteron, pria bisa lebih cepat mengalami penurunan kepadatan (densitas) tulang.

Begitu pula dengan gejala kerontokan rambut yang berujung pada kebotakan yang bisa terjadi lebih cepat karena vakumnya hormon testosteron pada tubuh pria.

Kini Anda tahu apa yang akan terjadi pada tubuh pria saat ia kehilangan penis.

Itulah sebabnya, menjaga kesehatan penis tak kalah penting dengan organ tubuh lainnya.

Potong Kemaluan Sendiri, Kejiwaan Warga Barambai Batola Diklaim Normal

Dapat Bisikan Gaib, Seorang Pria di Barambai Batola Nekat Potong Kemaluan

Editor: Ahmad Zainal Muttaqin - Apahabar.com


Share :

Baca Juga

apahabar.com

Kalsel

Penolakan RUU Pertanahan Bergema di DPRD Kalsel
apahabar.com

Kalsel

Kumpulkan Benih, Adaro Bertekad Selamatkan Hutan Kalimantan
apahabar.com

Kalsel

Dewan Banjarmasin Minta Ada Metode Belajar Siswa Kurang Mampu
apahabar.com

Kalsel

Belajar Saat Pandemi, Dengar Curhat Pengurus Ponpes di Kabupaten Banjar
apahabar.com

Kalsel

Terungkap, Identitas Mr X Tewas di Depan Pasar Harum Manis
apahabar.com

Kalsel

DPD TMP Kalsel Soroti Permenristekdikti Nomor 55 tahun 2018
apahabar.com

Kalsel

Urutan ke-10 Nasional, Kesembuhan Covid-19 di Kalsel Sudah 90 Persen
Batu Bara

Kalsel

Kasus Police Line Batu Bara CV RMB, Polres Tanbu Belum Pastikan Ilegal
error: Dilarang copy paste artikel berita tanpa menyertakan link url : https://apahabar.com