Biang Prostitusi Anak di Banjarmasin, Takut Diantar ke Panti karena Utang Kreditan Belasan Mahasiswa-Polisi Luka-Luka, Polres Ungkap Biang Ricuh #SaveKPK II di Banjarmasin #SAVEKPK Bergaung di Banjarmasin: Ratusan Mahasiswa Ultimatum Ketua DPRD Kalsel di Tengah Guyuran Hujan Tagih Janji Reklamasi, Dewan Tabalong Ngotot Panggil Bos Adaro UPDATE! Tunggu Supian HK, Massa #SaveKPK di Banjarmasin Ngotot Bertahan

Palestina Berduka, ‘Dokter Corona’ di Gaza Jadi Korban Serangan Israel

- Apahabar.com Kamis, 20 Mei 2021 - 19:36 WIB

Palestina Berduka, ‘Dokter Corona’ di Gaza Jadi Korban Serangan Israel

Dokter Ayman Abu al-Ouf memimpin penanganan pasien Covid-19 di Rumah Sakit al-Shifa. Foto-Handout

apahabar.com, JAKARTA – Serangan udara Israel menghancurkan tempat tinggal seorang dokter yang selama ini merawat pasien Covid-19 di Gaza, Palestina.

Dia bernama dokter Ayman Abu al-Ouf. Ayman menjadi korban bersama ibu, ayah, istrinya yang bernama Reem, dan putranya yang berusia 17 tahun, Tawfik, serta putrinya yang berumur 12 tahun, Tala.

Total terdapat 12 anggota keluarga Ayman yang tewas dalam serangan yang menghancurkan rumahnya, Minggu (16/05). Rumah berlantai empat itu berada di Jalur Gaza.

“Ini kehilangan yang amat besar, bukan hanya bagi kami yang secara pribadi mengenal Ayman, tapi juga untuk pasien dan mahasiswanya,” kata Ghaith al-Zaanin, seperti dilansir detik.com, Kamis (20/05).

Ghaith al-Zaanin adalah teman dekat sekaligus mantan rekan kerjanya yang kini tinggal di Kanada.

Dokter Ayman Abu al-Ouf memimpin penanganan pasien Covid-19 di Rumah Sakit al-Shifa.

Selain bertanggung jawab atas pasien penyakit dalam di Rumah Sakit al-Shifa di Kota Gaza, Ayman juga mengawasi penanganan pasien Covid-19.

Dia melakukan supervisi perawatan di bangsal yang khusus menangani pasien Covid-19 dengan kondisi parah. Hanya terdapat sedikit dokter spesialis penyakit pernapasan yang bekerja di bangsal itu.

Ayman juga melatih para calon dokter dari dua sekolah kedokteran di Gaza.

“Untuk mendapatkan dokter dengan kualifikasi seperti Ayman, perlu setidaknya 10-15 tahun pelatihan,” kata Zaanin, yang memberi nama putrinya, Tala, seperti anak perempuan kawan Ayman.

“Dia mendedikasikan kehidupannya untuk membantu orang lain, merawat pasien, dan mengajar generasi baru dokter.

“Saya akan menyebutnya sebagai orang yang paling baik hati dan penuh kasih yang pernah saya lihat dalam kehidupan saya,” ujar Zaanin.

Ayman telah meninggalkan rumah sakit sekitar satu jam sebelum serangan udara Israel menghancurkan tempat tinggalnya di Jalan al-Wahda, Kota Gaza.

Kawasan itu dipenuhi gedung apartemen dan pertokoan.

Militer Israel mengeklaim serangan udara itu ditujukan untuk menyerang kekuatan bersenjata kelompok militan Hamas di bawah tanah.

“Fondasi bawah tanah runtuh, menyebabkan permukiman warga sipil di atasnya runtuh dan memicu korban yang tidak diinginkan,” begitu keterangan Israel.

Dokter Ayman terkubur di bawah reruntuhan bangunan selama hampir 12 jam. Dia sempat mampu bertahan hingga enam jam, menurut putrinya, Haya Agha.

Agha adalah salah satu dokter yang mendapat pengajaran dan pelatihan dari Ayman.

Jenazah Ayman baru ditemukan 48 jam setelah bangunan itu ambruk.

“Tidak yang percaya bahwa dia sudah mati sampai seorang dokter di rumah sakit mengirimkan foto tubuhnya,” kata Agha kepada BBC.

“Kematiannya adalah bencana. Dia mengajar tiga atau empat dokter. Dia pekerja keras sehingga kami pikir dia tak terkalahkan.”

Agha berkata, serangan Israel juga menghancurkan jalan menuju daerah itu dan rumah sakit al-Shifa. Akibatnya, tim penyelamat semakin terhambat untuk sampai di sana tepat waktu dan menyelamatkan korban.

Putra Ayman yang berusia 15 tahun, Omar, adalah satu-satunya anggota keluarganya yang selamat dari serangan udara Israel.

Omar saat ini dirawat karena mengalami luka. Dia tidak tahu bahwa orang tua dan dua saudara kandungnya telah meninggal.

Saudara laki-laki Omar, Tawfik, tengah menjalani tahun terakhir di jenjang sekolah menengah. Dia bermimpi mengejar gelar di bidang kimia.

Adapun guru yang mengajar Tala menyebut bahwa putri Ayman itu adalah pelajar yang sangat baik, tertarik pelajaran agama dan senang menghafal Alquran.

Kementerian Kesehatan Gaza menyatakan setidaknya 227 orang, termasuk 102 anak-anak dan perempuan, tewas akibat serangan Israel sejak 10 Mei lalu.

Sementara di Israel 12 orang, termasuk dua anak, tewas dalam serangan roket dari militan di Palestina, menurut otoritas medis setempat.

Militer Israel mengeklaim hanya menyerang yang mereka anggap target militer. Mereka juga menyebut telah melakukan yang terbaik untuk menghindari korban sipil.

Serangan udara yang menewaskan Ayman juga menyebabkan 42 warga Palestina lainnya kehilangan nyawa. Dua korban di antaranya adalah seorang ahli saraf bernama Mouin al-Aloul dan Rajaa Abu al-Ouf, seorang psikolog

Enam rumah sakit dan 11 pusat kesehatan utama di Gaza juga rusak digempur Israel, termasuk satu-satunya laboratorium pengujian Covid-19 di Gaza.

Rumah sakit lain tidak berfungsi karena kekurangan bahan bakar.

“Ini tidak adil. Sangat tidak adil Israel membunuh warga sipil yang tidak bersalah. Mereka tidak hanya menghancurkan infrastruktur fisik, tapi juga membunuh sumber daya manusia kami,” kata Zaanin.

Sistem perawatan kesehatan Gaza rapuh karena konflik menahun dan blokade yang diberlakukan Israel dan Mesir.

Rumah sakit di Gaza kini kelebihan beban karena lonjakan kasus Covid-19. Hampir seluruh rumah sakit di sana kekurangan ruang perawatan intensif, ventilator, dan peralatan medis lainnya.

Pertempuran yang kini berlangsung menambah beban para petugas medis.

“Dokter menghadapi luka dan cedera yang belum pernah terlihat sebelumnya. Mereka perlu melakukan operasi yang rumit tapi kebanyakan dokter tidak terlatih melakukannya,” kata Agha.

Sementara itu Zaanin berkata meninggalkan Gaza pada tahun 2017. Dia beralasan, pendidikan spesialis yang dia kejar tidak tersedia di Gaza.

Baik Zaanin maupun Agha percaya bahwa tewasnya dokter seperti Ayman Abu al-Ouf akan berdampak signifikan bagi sektor medis di Gaza.

“Ayman meninggalkan kenangan indah di benak semua pasiennya. Saya berharap kami memiliki kesempatan untuk setidaknya mengucapkan selamat tinggal,” kata Agha.

Editor: Muhammad Bulkini - Apahabar.com


Share :

Baca Juga

apahabar.com

Global

Akhir dari “Perceraian Rahasia”, Perempuan Saudi Akan Dapat Konfirmasi Status Janda
apahabar.com

Global

Pembicaraan Perdamaian Suriah Dimulai di Astana
Covid-19

Global

Gawat! 3.000 WNA Masuk Indonesia Positif Covid-19
apahabar.com

Global

India Buru Macan Tutul Pembunuh Biksu
apahabar.com

Global

Penumpang Ini Lahirkan Bayinya dalam Penerbangan ke Istanbul
apahabar.com

Global

Makam Pendeta Agung Berusia 4.400 Tahun Ditemukan, Begini Penampakannya
apahabar.com

Global

Yenny Wahid Unjuk Gagasan Perdamaian di Dubai
apahabar.com

Global

Diancam Digempur China, Taiwan Minta Bantuan Internasional
error: Dilarang copy paste artikel berita tanpa menyertakan link url : https://apahabar.com