Kalah Jumlah, Polisi Pastikan Aksi #SaveKPK di Banjarmasin Kondusif Drama #SAVEKPK di Banjarmasin, Supian HK Dicari-cari Mahasiswa Kalsel Skenario Kelolosan di Grup B dan C: Harapan Terakhir Denmark, Ukraina Cari Imbang Isi Tuntutan Lengkap Demo #SAVEKPK di Banjarmasin: Pecat Firli hingga Ketua BKN! RESMI! H2D Daftarkan Gugatan Pilgub Kalsel Jilid II ke MK

Alam Meratus HST Terganggu, SMR Angkat Isu Ekologi di Hari Lingkungan Hidup Sedunia

- Apahabar.com Minggu, 6 Juni 2021 - 11:47 WIB

Alam Meratus HST Terganggu, SMR Angkat Isu Ekologi di Hari Lingkungan Hidup Sedunia

Yayasan SMR berbagi dan menanam pohon untuk merestorasi ekosistem alam Meratus di HST, Jumat (6/6)./Foto: SMR for apahabar.com.

apahabar.com, BARABAI – Lima bulan pascabanjir bandang, Hulu Sungai Tengah (HST) masih dalam masa pemulihan.

Bertepatan dengan Hari Lingkungan Hidup Sedunia 5 Juni, Yayasan Sunting Melayang Rescue (SMR) mengangkat isu ekologi di HST, khususnya di pegunungan Meratus, Kecamatan Hantakan.

Seperti diketahui bencana banjir bandang yang terjadi sejak 13 Januari lalu disinyalir akibat ilegal logging alias pembalakan hutan Meratus secara besar-besaran. Hal itu diperkuat dengan citra satelit dari arsip Dinas Lingkungan Hidup dan Perhubungan (DLHP) HST.

Berdasarkan tangkapan satelit, dalam 3 tahun terakhir terjadi penurunan tutupan lahan sebanyak 23 persen di HST. Pada 2018 tutupan lahan mencapai angka 61 persen.

Pada 2020, tutupan lahan tersisa 38 persen saja. Itu disebabkan penebangan pohon-pohon di hutan. Idealnya satu daerah pegunungan harus memiliki tutupan lahan minimal 50 persen.

Menanggulangi hal itu, bertepatan Hari Lingkupan Hidup Sedunia 2021 ini, Yayasan SMR berupaya merestorasi ekosistem di Meratus, khususnya di Hantakan, Sabtu (5/6).

“Tema yang kita angkat pada puncak Hari Lingkungan Hidup Sedunia 2021 kemaren yakni ‘Kembalikan Hutan Kami’,” kata Ketua Yayasan SMR, Syarif, Minggu (6/6).

Yayasan ini pun melakukan penghijauan demi melestarikan lingkungan dan menyelamatkan alam Meratus. Total ada 1.000 pohon jengkol yang dibagikan kepada masyarakat untuk ditanam.

“Kegiatan itu perdana dilakukan di Desa Datar Ajab Kecamatan Hantakan, Kabupaten HST. Selanjutnya akan merambat ke lingkungan alam Meratus lainnya,” terang Syarif.

Perlunya penanaman kembali untuk alam Meratus ini, kata Syarif, akan menumbuhkan jutaan harapan baru bagi kelangsungan ekosistem alam.

“Sudah saatnya upaya menanam pohon dilaksanakan dengan terencana dan melibatkan seluruh pemangku kepentingan,” harap Syarif.

Penanaman pohon yang masif, lanjut Syarif, berarti mengantisipasi perubahan iklim global, degradasi dan deforestasi hutan dan lahan serta mencegah kerusakan lingkungan. Terutama yang mengakibatkan penurunan produktivitas alam dan kelestarian lingkungan.

Selain itu, juga dapat mengurangi dampak pemanasan global, meningkatkan absorbsi gas CO2 dan polutan lainnya. Seperti mencegah banjir, kekeringan dan tanah longsor.

Untuk meningkatkan upaya konservasi sumberdaya genetik tanaman penghijauan ini, Syarif berharap dapat meningkatkan kesadaran masyarakat, baik untuk menanam maupun memelihara tanaman.

Sebab, kata Syarif, perilaku tersebut adalah sebagian dari sikap atau budaya bangsa yang akan melekat pada kehidupan sehari-hari.

“Penghijauan alam Meratus rencananya akan rutin dilaksanakan. Ke depannya akan melibatkan birokrat, komunitas, ormas, perkumpulan pelajar dan seluruh komponen masyarakat untuk ikut andil dalam kegiatan tersebut,” tutup Syarif.

Perlu diketahui, musibah yang terjadi mulai Rabu 13 Januari malam lalu tercatat sebagai bencana terbesar sepanjang sejarah di HST.

Banjir bandang saat itu juga melumpuhkan pusat kota pemerintahan di Barabai dan memakan korban jiwa. Ada 10 orang yang meninggal.

Berdasarkan laporan BPBD HST terakhir yang dirilis Diskominfo per 12 Februari, 10 dari 11 kecamatan di HST terdampak. Total ada 92 desa/kelurahan yang ikut terendam pascabanjir bandang Sungai Hantakan.

Ratusan fasilitas umum hingga belasan ribu lahan pertanian dan peternakan warga ikut terdampak. Mulai dari rusak hingga hilang disapu air bah. Tak terkecuali rumah warga, jumlahnya juga puluhan ribu yang ikut terendam; 183 di antaranya hilang, 2.973 rusak berat dan 20.553 yang terendam.

 

 

Editor: Puja Mandela - Apahabar.com


Share :

Baca Juga

apahabar.com

Kalsel

STKIP PGRI Banjarmasin: PTS Mampu Bersaing dengan PTN
apahabar.com

Kalsel

Pilwali Banjarbaru, Anak Rudy Ariffin Mantapkan Komitmen
apahabar.com

Kalsel

KPU Banjarmasin Usulkan 12 Titik Kampanye Terbuka
Hotel

Banjarmasin

Sudah 5 Hari Mogok Kerja Karyawan Grand Mentari Banjarmasin, Manajemen Bungkam
Denny

Kalsel

Tensi Politik Memanas, Bawaslu RI Turun Gunung ke Kalimantan Selatan
apahabar.com

Kalsel

Kualitas Udara Banjarmasin Relatif Aman dari Asap Kiriman Karthula
apahabar.com

Kalsel

Raih Juara 7 di MTQ Nasional Tingkat Kalsel, Bupati HST: Tidak Perlu Berkecil Hati
apahabar.com

Kalsel

Hidup Sebatang Kara, Almarhum Kakek Tabrani Dikenal Baik
error: Dilarang copy paste artikel berita tanpa menyertakan link url : https://apahabar.com