Duduk Perkara Heboh Piton Patuk Majikan di Q-Mall Banjarbaru Drama #SAVEKPK di Banjarmasin, Supian HK Dicari-cari Mahasiswa Kalsel Kalah Jumlah, Polisi Pastikan Aksi #SaveKPK di Banjarmasin Kondusif Skenario Kelolosan di Grup B dan C: Harapan Terakhir Denmark, Ukraina Cari Imbang Isi Tuntutan Lengkap Demo #SAVEKPK di Banjarmasin: Pecat Firli hingga Ketua BKN!

Hasil Studi: 40% Anak yang Tertular Covid-19 Berisiko Meninggal

- Apahabar.com Minggu, 6 Juni 2021 - 15:45 WIB

Hasil Studi: 40% Anak yang Tertular Covid-19 Berisiko Meninggal

Ilustrasi pemakaman Covid-19. Foto-Istimewa

apahabar.com, JAKARTA – Berdasarkan hasil studi yang dilakukan tim Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo (RSCM) Jakarta menunjukan anak-anak berisiko tinggi mengalami kematian setelah terinfeksi Covid-19.

Hasil studi tersebut menyatakan 40% pasien anak yang terinfeksi Covid-19 berisiko tinggi mengalami kematian.

Penelitian tersebut dilakukan pada periode Maret-Oktober 2020 dengan meneliti 490 pasien anak yang dirawat karena Covid-19.

Hasil penelitian ini juga telah diterbitkan dalam jurnal dengan judul International Journal of Infectious Diseases ‘Mortality in children with positive SARS-CoV-2 polymerase chain reaction test: Lessons learned from a tertiary referral hospital in Indonesia’.

“Sebagian besar pasien anak yang meninggal memiliki komorbid. Umumnya memiliki lebih dari satu komorbid. Kebanyakan yang dominan adalah pasien dengan gagal ginjal, kemudian pasien dengan keganasan,” ujar peneliti utama riset, Dr. dr. Rismala Dewi, SpA, mengutip keterangan tertulisnya, Sabtu (5/6/2021).

Selanjutnya, Guru Besar Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran dan dokter spesialis anak, Prof. Cissy Kartasasmita, Sp.A (K), M.Sc, mengatakan bahwa menurut referensi jurnal medis terpercaya yang ada, risiko anak untuk terinfeksi dan sakit akibat Covid-19 sangat rendah.

Kalaupun tertular, tidak bergejala ataupun pada umumnya ringan. Meski begitu, Prof. Cissy mengatakan pula bahwa tidak menutup kemungkinan pasien anak memiliki bergejala berat, masuk ICU, hingga sampai meninggal dunia akibat Covid-19.

“Biasanya karena memiliki penyakit lain sebelumnya seperti komorbid atau kurang gizi. Fatalitas di negara lain sebenarnya cukup rendah meski dalam hasil studi di Indonesia kita tinggi,” ujarnya.

Pernyataan Prof. Cissy ini mengacu salah satunya pada jurnal medis berjudul Children and Adolescents With SARS-CoV-2 Infection, yang menjabarkan bahwa saat terinfeksi Covid-19, anak- anak tidak menunjukkan gejala (asymptomatic) atau bergejala ringan.

Jurnal tersebut menunjukkan dari 203 pasien anak yang tertular Covid-19, 54,7% tidak memperlihatkan gejala.

Selanjutnya, hanya 26,1% saja yang perlu perawatan akibat Covid-19 dan yang paling banyak dirawat adalah bayi berusia kurang dari satu tahun yaitu 19,5% dari total kasus.

Hal lain yang penting untuk diketahui dari penelitian ini adalah orang dewasa berperan krusial dalam penularan virus ini kepada anak-anak, sementara anak-anak menularkan ke sesamanya dalam level yang moderat.

Adapun kecenderungan level penularan yang tinggi juga tergantung dari usia mereka. Jurnal medis lain dari RSUD Mataram, NTB dengan judul “Characteristics and Outcomes of Children with COVID-19 in West Nusa Tenggara Province, Indonesia” menjelaskan bahwa fatalitas kasus Covid-19 pada anak karena terlambatnya datang ke pelayanan kesehatan.

Kemudian adanya penyakit lain, hingga akses ke pelayanan kesehatan yang sulit. Meski data-data menunjukkan kasus Covid-19 pada anak biasanya tidak bergejala, orang tua perlu terus menjaga anak-anak mereka agar tidak tertular Covid-19.

Khawatirnya apabila anak-anak dengan penyakit penyerta seperti jantung, ginjal, TBC, asma, memperburuk kondisinya apabila tertular COVID-19.

“Protokol kesehatan harus dijalankan dengan ketat untuk menjaga anak-anak tidak tertular COVID-19. Orang tua harus berperan dengan mengajarkan anak-anak mereka cara menjaga diri dengan baik. Perlu diberikan contoh seperti misalnya, tidak dibawa ke kerumunan seperti ke pusat perbelanjaan, piknik, atau ke restoran yang banyak orangnya,” jelas Prof. Cissy.

Selain itu Prof. Cissy juga menekankan agar terus mempertahankan daya tahan tubuh anak-anak dengan mencukupi kebutuhan makanan bergizi seimbang, minum air putih yang cukup, istirahat yang cukup, olahraga secara teratur dan cek serta lengkapi imunisasinya.

“Kalau perlu siapkan jadwal kegiatan harian untuk anak usia sekolah dasar. Kalau sudah remaja, kontrol dan tanyakan kegiatan hariannya, ini penting untuk mempersiapkan mereka saat nanti pembelajaran tatap muka dibuka kembali, agar disiplin protokol kesehatan dari rumah sampai sekolah nanti,” tutup Prof. Cissy.

Editor: Puja Mandela - Apahabar.com


Share :

Baca Juga

Nasional

Hari Ini, Kalsel Duduki Empat Besar Klasemen Hotspot Terbanyak!
apahabar.com

Nasional

Marinir TNI AL Kirim Satgas Kemanusiaan ke Natuna, Ada Apa?

Nasional

Dewas Cermati Risiko Keamanan Nasional di Isu Data BPJS Bocor
apahabar.com

Nasional

Begini Sikap MUI Tentang Kasus Anjing Masuk Masjid
apahabar.com

Nasional

WHO: Karantina Wilayah Tidak Cukup untuk Kalahkan Virus Corona
Presiden Jokowi Sampaikan Duka Cita Atas Wafat Gus Sholah

Nasional

Presiden Jokowi Sampaikan Duka Cita Atas Wafat Gus Sholah
Vaksin

Nasional

BPOM Resmi Keluarkan Izin Darurat Vaksin Covid-19
apahabar.com

Nasional

Kapolda Sumut: Tersangka Bom Medan Sempat Latihan di Tanah Karo
error: Dilarang copy paste artikel berita tanpa menyertakan link url : https://apahabar.com