Raisya, Gadis Kelua Tabalong yang Hilang Sempat Ingin Mondok Alokasi Rp 1,5 M, Kawasan Siring Piere Tendean Banjarmasin Bakal Dipagar Dimotori Arul Efansyah, Eks Power Metal Dirikan Band XREAL Ditertibkan, Belasan Supeltas di Alalak Batola Diingatkan Jangan Pungli Kecelakaan Beruntun Berujung Maut, Pengemudi Diduga Konsumsi Miras

Heboh Penerima Dua Tahun Meninggal Usai Divaksin, Benarkah?

- Apahabar.com Jumat, 4 Juni 2021 - 17:45 WIB

Heboh Penerima Dua Tahun Meninggal Usai Divaksin, Benarkah?

Ilustrasi vaksin Covid-19. Foto-Getty Images

apahabar.com, JAKARTA – Kabar beredar, kalau penerima vaksin Covid-19 akan meninggal setelah dua tahun divaksin.

Pemerhati imunisasi dari Indonesian Technical Advisory Group on Immunization (ITAGI), Julitasari Sundoro, menepis informasi terkait risiko kematian penerima vaksin Covid-19 pada dua tahun usai menerima suntikan.

“Sekarang penelitian di dunia itu belum sampai dua tahun. Jadi kita tidak tahu yang menyebabkan akan meninggal dua tahun itu hanya Tuhan yang tahu,” katanya, kutip apahabar.com dari Okezone.

Julitasari mengatakan, tujuan memberikan vaksin supaya terbentuk imunitas pada tubuh seseorang, sebagai proteksi terhadap penyakit Covid-19.

Harapannya, kata Julitasari, akan timbul antibodi pada tubuh seseorang yang menerima vaksin untuk melawan SARS-CoV-2 penyebab Covid-19.

“Meskipun kita tidak tahu 100 persen (kemanjuran), tetap harus memakai protokol kesehatan,” katanya.

Pada akhir Mei 2021, beredar pesan berantai di media sosial WhatsApp dengan narasi bahwa seseorang yang menerima suntikan vaksin Covid-19 akan meninggal pada dua tahun kemudian.

Dalam pesan itu juga tercantum salah satu nama mantan peneliti vaksin Pfizer yang menyatakan selepas suntikan vaksin pertama terdapat sejumlah 0,8 persen akan mati dalam masa dua pekan.

“Mereka akan mampu bertahan hidup sekitar dua tahun, namun kemampuan tersebut dikurangi dengan penambahan top-up suntikan vaksin sebab menyebabkan kemerosotan fungsi organ tertentu dalam badan manusia, termasuk jantung, paru-paru dan otak,” demikian salah satu poin dari isi pesan tersebut.

Perempuan yang menjabat sebagai sekretaris ITAGI itu memastikan bahwa pesan tersebut merupakan kabar bohong. Sebab penelitian vaksin di dunia hingga saat ini belum ada yang tuntas 100 persen.

“Semua vaksin akan diuji dalam waktu 2 bulan setelah vaksinasi lengkap, 6 bulan, 1 tahun, jadi belum sampai 2 tahun itu masih lama, yang 12 bulan aja belum selesai,” katanya.

Editor: M Syarif - Apahabar.com


Share :

Baca Juga

apahabar.com

Nasional

Lihat Survei Pilpres Cyrus Network

Nasional

Kalimantan Utara Masuk 10 Provinsi dengan UMP Tertinggi di Indonesia, Bagaimana Kalsel?

Nasional

VIDEO: Jadi Gembel Andika Kangen Band Ditangkap, Kasat Pol PP Angkat Bicara
apahabar.com

Nasional

PDIP: Tidak Boleh Ada Pembunuhan Tokoh Politik di Indonesia
Edhy Prabowo

Nasional

Edhy Prabowo Diduga Gunakan Uang Suap untuk Modifikasi Mobil
Batik Air

Nasional

Kronologi Pesawat Batik Air Tabrak Garbarata di Bali
apahabar.com

Nasional

Kemenkes: Belum Ada Kasus Positif Corona di Indonesia
apahabar.com

Nasional

Hadiri Pernikahan Mantan, Para Pria Ini Berakhir Tragis
error: Dilarang copy paste artikel berita tanpa menyertakan link url : https://apahabar.com