Duduk Perkara Heboh Piton Patuk Majikan di Q-Mall Banjarbaru Drama #SAVEKPK di Banjarmasin, Supian HK Dicari-cari Mahasiswa Kalsel Kalah Jumlah, Polisi Pastikan Aksi #SaveKPK di Banjarmasin Kondusif Skenario Kelolosan di Grup B dan C: Harapan Terakhir Denmark, Ukraina Cari Imbang Isi Tuntutan Lengkap Demo #SAVEKPK di Banjarmasin: Pecat Firli hingga Ketua BKN!

Kisah Getir Sukarno Kecil: Miskin dan Sakit-sakitan

- Apahabar.com Minggu, 6 Juni 2021 - 15:56 WIB

Kisah Getir Sukarno Kecil: Miskin dan Sakit-sakitan

Presiden pertama Indonesia, Ir. Sukarno lahir dan tumbuh di keluarga yang miskin sebelum menjadi tokoh yang dikenal dunia internasional. Foto-AFP

apahabar.com, JAKARTA – Presiden pertama Indonesia, Sukarno selalu diingat sebagai tokoh besar. Tidak hanya oleh masyarakat Indonesia, tetapi juga oleh dunia berkat jasanya terhadap dunia internasional khususnya Asia-Afrika di masa silam.

Melansir CNN Indonesia, Sukarno lahir dan tumbuh di keluarga yang jauh dari berkecukupan. Tak sedikit kisah getir yang dialaminya seperti diceritakan kepada Cindy Adams, penulis buku Penyambung Lidah Rakyat Indonesia.

Pada 6 Juni 1901 di Surabaya, Sukarno lahir dengan nama Kusno. Kepada Cindy Adams, Sukarno bercerita ayahnya tidak mampu memanggil dukun beranak saat dia dilahirkan. Ida Ayu Nyoman Rai, ibu Sukarno, hanya ditemani sahabat yang sudah sangat tua saat melahirkan.

“Bapak tidak mampu memanggil dukun beranak untuk menolong kelahiran sang bayi. Kami terlalu miskin,” kata Sukarno sebagaimana tertuang dalam buku Penyambung Lidah Rakyat Indonesia.

Meski begitu, Sukarno merasa diliputi keberuntungan saat dilahirkan ke dunia pada 6 Juni 1901. Dia merasa bernasib baik lantaran dilahirkan di bawah bintang gemini.

Saat itu pula, Gunung Kelud yang berada tidak jauh dari rumah Sukarno meletus. Menurutnya, orang-orang Jawa yang mempercayai hal-hal gaib menyebut bahwa peristiwa itu merupakan bentuk penyambutan terhadap bayi Sukarno.

Sang ibu juga menceritakan bahwa Sukarno lahir saat fajar menyingsing. Idayu lantas berkata pada Sukarno kecil bahwa kelak ia akan menjadi sosok besar.

“Kita orang Jawa memiliki suatu kepercayaan, bahwa seseorang yang dilahirkan di saat matahari terbit, nasibnya telah digariskan sebelumnya. Jangan sekali-kali kau lupakan, nak, bahwa engkau ini putra sang fajar,” kata Sukarno menirukan ibunya.

Sukarno memiliki garis darah bangsawan Jawa-Bali. Ayahnya Raden Soekemi Sosrodihardjo merupakan cucu dari seorang pejuang.

Nenek Soekemi merupakan pengikut Pangeran Diponegoro. Ia menunggang kuda di belakang sang pangeran dan terlibat dalam perang Jawa yang berkobar pada kurun 1825-1830. Dia tewas dalam perang yang paling merepotkan Belanda kala itu.

Sementara, ibu Sukarno, Ida Ayu Nyoman Rai merupakan keturunan Kerajaan Singaraja Bali dengan kasta Brahmana. Moyangnya gugur dalam Perang Puputan. Setelah kerajaan itu ditaklukkan, keluarga ibu Sukarno jatuh melarat.

Meski keturunan pejuang dan kasta Brahmana, Sukarno lahir dan tumbuh di keluarga yang jauh dari kemewahan. Dia mengaku tak pernah mengenal sendok dan garpu semasa kecil.

Ia tinggal bersama ibu, ayah, dan kakaknya, Sukarmini di sebuah rumah sewa di Jalan Pahlawan 88 seharga 15 rupiah. Gaji ayahnya dari menjadi seorang guru hanya 25 rupiah per bulan.

Saat Kusno menginjak usia enam tahun, mereka pindah ke Mojokerto. Keluarga Kusno kemudian tinggal di perkampungan di mana warga setempat juga memiliki taraf ekonomi yang tak kalah miskin.

Tetangga Kusno selalu masih bisa menyisihkan sedikit uang untuk sekadar membeli permen. Tapi tidak dengan Sukarno. Pun saat lebaran. Ketika orang-orang bisa makan besar dan berbagi hadiah, keluarganya tidak.

“Tetapi kami tak pernah makan besar ataupun memberi hadiah. Karena kami tidak punya uang,” ungkap Sukarno.

Klik halaman selanjutnya

Editor: Puja Mandela - Apahabar.com


Share :

Baca Juga

apahabar.com

Nasional

PSBB Jakarta: Anies Baswedan Berlakukan 8 Aturan Ketat Mulai Hari Ini

Nasional

Habib Rizieq Umumkan Kepulangan, Jadwalkan 10 November 2020 Tiba di Tanah Air, Sudah Kantongi Tiket!
apahabar.com

Nasional

Kapal Berbendera Malaysia Kena Ringkus di Perairan Pulau Berhala, 30 Drum Ikan Disita
Sutardji Calzoum

Nasional

Penghargaan Nobel Sastra, Sosok Sutardji Calzoum Dinilai Pantas
apahabar.com

Nasional

Gempa di Sulteng: Peringatan Dini Tsunami Dinyatakan Berakhir
apahabar.com

Nasional

Kampung Adat Sukabumi Masuk Zona Rentan Gerakan Tanah
apahabar.com

Nasional

Kapolda: Aksi Demonstrasi di Wamena karena Isu Hoaks
apahabar.com

Nasional

Trauma, Istri Wartawan Korban Pembakaran Rumah di Aceh Takut Bekerja
error: Dilarang copy paste artikel berita tanpa menyertakan link url : https://apahabar.com