Braakk! Pemuda “Gaduk” Tubruk Bokong Truk di Kotabaru Golkar Banjar Terbelah, Antung Aman & H Rusli Saling Klaim Kepemimpinan INNALILLAHI, Nelayan Kerumputan Kotabaru Ditemukan Tak Bernyawa Geger Api di Liang Anggang, Relawan Sulit Jangkau Titik Api Kisah Istri Alm Brimob Kalsel Jadi Sopir Travel Demi Hidupi 8 Anak, Gaji Habis Bulan Depan

Produksi Oksigen untuk Medis Diperbanyak

- Apahabar.com     Selasa, 29 Juni 2021 - 19:58 WITA

Produksi Oksigen untuk Medis Diperbanyak

Oksigen medis. Foto-Istimewa

apahabar.com, JAKARTA – Produksi dan distribusi gas oksigen untuk kebutuhan medis, khususnya bagi penanganan pasien Covid-19 diperbanyak. Sebelumnya rasio peruntukan oksigen bagi keperluan medis dan bagi industri adalah 40:60.

Saat ini, rasio penggunaan oksigen menjadi 60:40 antara kebutuhan medis dan kebutuhan industri.

“Suplai oksigen dari industri aman dengan kemampuan pasok sebesar 850 ton/hari, sementara kebutuhan oksigen untuk penanganan Covid-19 sekitar 800 ton/hari. Kami juga mendahulukan kebutuhan pasokan oksigen untuk medis,” ujar Menteri
Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita dalam siaran pers, Selasa (29/6/2021).

Menurut data Kemenperin, saat ini utilitas rata-rata industri gas oksigen 80% dari kapasitas terpasang sebesar 866.100.000 kg/tahun. Sehingga, masih ada “idle capacity” sekitar 225 juta kg/tahun. Apabila “idle capacity” masih belum mencukupi, pasokan gas oksigen untuk industri dapat dialihkan untuk kebutuhan medis.

Dia melanjutkan, produksi dan distribusi gas oksigen diprioritaskan untuk kebutuhan rumah sakit dan fasilitas kesehatan dalam menangani lonjakan kasus Covid-19. Gas oksigen untuk kebutuhan industri disalurkan setelah kebutuhan untuk rumah sakit serta fasilitas kesehatan terpenuhi. “Sampai saat ini pengaturan keduanya masih terkendali,” tegasnya.

Menurut Menperin, peningkatan kebutuhan tabung oksigen terjadi karena rumah sakit menambah fasilitas ruang perawatan dalam penanganan Covid-19, baik dalam bentuk bangsal maupun tenda darurat. “Kami mencoba agar kebutuhan tabung oksigen untuk perawatan pasien Covid-19 bisa terpenuhi,” katanya.

Populasi tabung oksigen di Indonesia saat ini sekitar 1,5-1,8 juta tabung. Adapun kondisi yang terjadi adalah lambatnya perputaran tabung oksigen akibat lonjakan kasus Covid-19. Namun, sekitar 70-80% rumah sakit di Pulau Jawa telah memiliki fasilitas Instalasi Regasifikasi Oksigen.

Agus menambahkan, dalam Sistem Informasi Industri Nasional (SIINas), terdapat kurang lebih 104 industri tabung dengan KBLI 25120 yang mampu menghasilkan produk-produk seperti tangki air, pressure vessel, boiler, tabung gas LPG, komponen tabung gas, heat exchanger, silo, kaleng, dan tabung pemadam api.

“Kami mengoptimalkan sumber-sumber yang ada di dalam negeri untuk dapat memperkuat logistik tabung oksigen untuk keperluan saat ini,” jelasnya, kutip apahabar.com dari Okezone.

Untuk menanggulangi terjadinya kelangkaan tabung oksigen, diperlukan sinergi antara Kementerian/Lembaga, terutama untuk menangani pengendalian harga tabung dan pencegahan penimbunan. Selain itu, perlu kemudahan dalam mobilitas dan distribusi oksigen cair maupun tabung oksigen dalam bentuk dispensasi dari pembatasan Over Dimension Over Load (ODOL).

“Kami juga mengharapkan dukungan suplai listrik yang andal dan kontinyu dari PT PLN (Persero) untuk industri gas oksigen, sehingga tidak terjadi pemadaman, kedip, maupun ayunan voltase dan frekuensi,” jelas Agus.

Editor: M Syarif - Apahabar.com


Share :

Baca Juga

apahabar.com

Nasional

Menkes Cabut Hak Istimewa, BPOM: “No Comment”
apahabar.com

Nasional

Duh, Seorang Balita Dianiaya Paman dan Bibi Saat Ortu Dipenjara
apahabar.com

Nasional

Thailand Laporkan 109 Kasus Baru Covid-19, Total 1.245

Nasional

Update Corona di Indonesia: Tambah 5.001 Kasus, Kematian 270

Nasional

Persenjataan ‘Nubika’, Ancaman baru Korpaskhas TNI AU
apahabar.com

Nasional

Untuk Kuatkan Nilai Pancasila, PMP akan Diajarkan Lagi
apahabar.com

Nasional

Pertemuan Ketum JMSI dan KPK, Seirama Berantas Korupsi
apahabar.com

Nasional

Horeee, Temuan Vaksin Bikin Rupiah Berpeluang Menguat
error: Dilarang copy paste artikel berita tanpa menyertakan link url : https://apahabar.com