Sopir PT BKB Ditemukan Tewas di Tapin, Diduga Korban Pembunuhan Duh, Nelayan Dirgahayu Kotabaru Lenyap di Perairan Samber Gelap Rujuk Ditolak! Pemuda di Kelua Tabalong Jambret Ibu Muda Viral, Foto Anji Tersenyum Usai Ditangkap Polisi karena Narkoba Bawa Timnas Brasil Sikat Venezuela, Neymar Ancam Pele

Rupiah Perkasa ke Rp14.250 Bersama Mata Uang Kawasan Asia

- Apahabar.com Kamis, 10 Juni 2021 - 10:41 WIB

Rupiah Perkasa ke Rp14.250 Bersama Mata Uang Kawasan Asia

Ilustrasi rupiah. Foto-Istimewa

apahabar.com, JAKARTA – Nilai tukar rupiah berada di posisi Rp14.250 per dolar AS pada perdagangan pasar spot Kamis (10/6) pagi.

Mata uang Garuda menguat 0,04 persen dibanding posisi Rabu (9/6) sore di level Rp14.255 per dolar AS.

Melansir CNN Indonesia, pagi ini, mayoritas mata uang di kawasan Asia perkasa terhadap dolar AS.

Kondisi ini ditunjukkan oleh yen Jepang naik 0,07 persen, dolar Singapura menguat 0,02 persen, dolar Taiwan bertambah 0,08 persen, dan won Korea Selatan naik 0,06 persen.

Selanjutnya, peso Filipina menguat 0,04 persen, yuan China naik 0,06 persen, ringgit Malaysia meningkat 0,02 persen, dan bath Thailand menguat 0,03 persen. Sedangkan, rupee India berkurang 0,12 persen terhadap dolar AS.

Sementara itu, mata uang di negara maju tampak bergerak bervariasi di hadapan dolar AS. Tercatat, poundsterling Inggris naik 0,04 persen dan dolar Australia menguat 0,05 persen. Sedangkan, dolar Kanada dan franc Swiss masing-masing turun 0,02 persen dan 0,01 persen.

Analis Pasar Uang Ariston Tjendra mengatakan rupiah dibayangi penantian pasar terhadap data penting AS, yaitu indeks Harga konsumen (IHK) AS periode Juni 2021 yang akan dirilis malam ini sekitar pukul 19.30 WIB.

Apabila IHK naik atau mengalami inflasi di atas perkiraan pasar, kondisi ini bisa memicu penguatan dolar AS, dan sebaliknya.

Oleh sebab itu, ia memprediksi rupiah berpotensi melemah pada perdagangan hari ini, meskipun menguat pada perdagangan pagi hari.

“Mewaspadai data inflasi tersebut, rupiah bisa melemah tipis lagi hari ini,” ujarnya dikutip CNNIndonesia.com.

AS sendiri mencatatkan inflasi sebesar 2,6 persen (yoy) pada Maret 2021 dan 4,2 persen pada April 2012. Angka tersebut melebihi ekspektasi bank sentral AS, The Fed yakni 2 persen.

Namun, ia menuturkan pelemahan rupiah tertahan oleh membaiknya tingkat keyakinan konsumen Indonesia dan menurunnya imbal hasil (yield) obligasi AS tenor 10 tahun yang sekarang berada di bawah 1,50 persen.

“Potensi pelemahan rupiah ke arah Rp14.270, sementara potensi penguatan ke arah Rp14.230 per dolar AS,” imbuh dia.

Editor: Puja Mandela - Apahabar.com


Share :

Baca Juga

apahabar.com

Ekbis

Polisi Jaga Penjualan Elpiji 3 Kg di Basirih Selatan
apahabar.com

Ekbis

Telkomsel Raih Penghargaan Frost & Sullivan Awards 2019
apahabar.com

Ekbis

Wakil Ketua DPRD Kalsel Inisiasi Lahirnya Aplikasi Online Penampung UMKM
Bukalapak Buka Jalur Khusus Petugas Medis Beli Alkes

Ekbis

Bukalapak Buka Jalur Khusus Petugas Medis Beli Alkes
apahabar.com

Ekbis

Ramadan, Distribusi Ikan di Delapan PPI Kaltim 80 Ton/Hari
apahabar.com

Ekbis

Berkah Harganas 2019 di Kalsel, Hotel Berbintang Laris Manis
apahabar.com

Ekbis

Siasat Disperindag Banjar Atasi Meroketnya Harga Si Melon

Ekbis

Coca-Cola Setop Produksi 200 Merek Minuman
error: Dilarang copy paste artikel berita tanpa menyertakan link url : https://apahabar.com