Polres Tala Salurkan Bantuan Kemanusiaan Bagi Korban Banjir HST Balangan Tambah Daftar Kawasan Terdampak Banjir di Kalsel Eks Galian Tambang Banjarbaru Siap Disulap Atasi Banjir dan Tempat Wisata Periksa Asjer Bank Kalsel, KPK Dalami Aliran Uang ‘Majid Hantu’ Warga Kandangan Geger, Jasad Pensiunan TNI Mengapung di Sungai Amandit HSS

WHO Sebut Varian Delta Dominasi Infeksi Covid-19 Global

- Apahabar.com     Sabtu, 19 Juni 2021 - 13:44 WITA

WHO Sebut Varian Delta Dominasi Infeksi Covid-19 Global

Seorang warga berjalan melewati tanda informasi di tengah wabah penyakit virus corona (Covid-19) di Bolton, Inggris, Senin (17/5/2021). Foto-Reuters/Phil Noble/WSJ/sa via Antara

apahabar.com, JENEWA – Kepala ilmuan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), Soumya Swaminathan, pada Jumat (18/6) waktu setempat menyebutkan varian Delta dari Covid-19 yang awalnya muncul di India, menjadi varian dominan secara global.

Melansir Antara, Swaminathan juga menyuarakan kekecewaan atas kegagalan calon vaksin CureVac dalam uji coba untuk memenuhi standar kemanjuran WHO, terlebih saat varian yang sangat menular meningkatkan kebutuhan vaksin baru dan ampuh.

Inggris melaporkan lonjakan tajam infeksi varian Delta, sementara pejabat senior kesehatan masyarakat Jerman memprediksikan varian Delta akan dengan cepat menjadi varian dominan di sana meski tingkat vaksinasi tinggi.

Pemerintah Rusia menyalahkan lonjakan kasus Covid-19 pada keraguan vaksinasi dan “nihilisme” setelah rekor infeksi baru di Moskow, kebanyakan varian Delta baru, mengipasi kekhawatiran gelombang ketiga.

“Varian Delta sedang dalam perjalanan menuju varian dominan secara global sebab penularannya yang sangat tinggi,” kata Swaminathan saat konferensi pers.

Varian Covid-19 dikutip oleh CureVac ketika perusahaan asal Jerman itu pekan ini melaporkan bahwa vaksin buatannya hanya memilik kemanjuran 47 persen dalam mencegah penyakit, jauh dari ambang batas 50 persen standar WHO.

Perusahaan mengatakan telah mencatat sedikitnya 13 varian yang beredar dalam studi populasi mereka.

Mengingat bahwa vaksin mRNA serupa dari Pfizer-BioNTech dan Moderna mencatat tingkat kemanjuran di atas 90 persen, Swaminathan mengatakan dunia berharap lebih pada calon vaksin CureVac.

“Hanya karena ini mRNA yang lain, kami tidak dapat menganggap bahwa semua vaksin mRNA sama, sebab masing-masing mempunyai teknologi yang sedikit berbeda,” katanya.

Ia menambahkan bahwa kegagalan yang mengejutkan tersebut menggarisbawahi nilai uji klinis yang kuat untuk menguji produk baru.

Para pejabat WHO mengatakan Afrika masih menjadi kawasan yang membutuhkan perhatian, meski hanya menyumbang sekitar lima persen infeksi baru dan dua persen kematian secara global.

Kasus baru di Namibia, Sierra Leone, Liberia, dan Rwanda naik dua kali lipat pekan lalu, menurut kepala program kedaruratan WHO, Mike Ryan, pada saat akses vaksin Covid-19 masih sangat minim.

“Ini salah satu lintasan yang sangat, sangat memprihatinkan,” kata Ryan.

“Kenyataan yang sadis adalah bahwa di era berbagai varian, dengan tingkat penularan yang tinggi, kita membiarkan sebagian besar populasi, penduduk Afrika yang rentan, tak terlindungi oleh vaksin.”

Editor: Aprianoor - Apahabar.com


Share :

Baca Juga

apahabar.com

Internasional

Jejak Buaya Purba Ditemukan di Korea, Fakta Baru Tunjukkan Mereka Berjalan dengan Dua Kaki
apahabar.com

Internasional

Resmi, Demokrat Usung Joe Biden Tantang Trump di Pilpres AS
Genetik Virus Corona

Internasional

Terkait Mutasi Genetik Virus Corona, Belanda Larang Penerbangan dari Afrika Selatan

Internasional

Komisioner HAM PPB Soroti Pelanggaran Taliban
Kucing di China

Internasional

Warganet Marah! Kucing di China Dimusnahkan Akibat Covid-19
apahabar.com

Internasional

Rusia Enggan Tiru Prancis, Terbitkan Karikatur Hina Islam
Samuel Paty

Internasional

Fakta Baru Kasus Kartun Nabi Muhammad di Prancis: ‘Kabar Hoaks’ Picu Pembunuhan Samuel Paty
apahabar.com

Internasional

Uji Coba Mobil Terbang, Bagaimana Hasilnya?
error: Dilarang copy paste artikel berita tanpa menyertakan link url : https://apahabar.com