BREAKING! Gugatan Jilid II Denny Indrayana Rontok, MK Kuatkan Kemenangan BirinMu Coffee Shop Banjarmasin Dibobol Maling, Terekam CCTV Pelaku Telanjang Bulat PPKM Level IV, Covid-19 di Banjarmasin-Banjarbaru Malah Naik…. LEGAWA! Tim H2D Ucapkan Terima Kasih ke Warga Kalsel MK Jelaskan Insiden Cegat Mobil di Gugatan Jilid II Denny Indrayana

Kisah Inspiratif, Abbas Si Pandai Besi Pejuang Ekonomi di Tengah Pandemi

- Apahabar.com     Rabu, 14 Juli 2021 - 11:40 WITA

Kisah Inspiratif, Abbas Si Pandai Besi Pejuang Ekonomi di Tengah Pandemi

Kisah inspiratif, Abbas si pandai besi pejuang ekonomi di tengah pandemi. Foto-Antara

apahabar.com, PEKANBARU – Pada masa lalu, pahlawan disebut untuk mereka yang berperang mengusir penjajah.

Namun kini, nilai kepahlawanan tersebut bergeser disaat banyak negara coba bangkit di tengah pandemi COVID-19.

Terutama di sektor ekonomi yang sangat berdampak.

Nah, sosok pejuang ekonomi di masa pandemi tersebut, di antaranya dapat ditemukan di sebuah desa yang berada persis di bibir Sungai Kampar, Kabupaten Kampar, Provinsi Riau.

Sebuah kampung yang penuh dengan riuh rendah suara baja ditempa palu raksasa. Berikut kisahnya seperti dilansir Antara, Rabu (17/6).

Suara logam berdentang berikut percikan api berpendar dari lempengan baja merah nyaris bisa terdengar setiap hari.

Suara tempaan besi itu saling bersahutan ketika sejumlah lelaki bertangan kekar dengan sabar membentuk baja keras menjadi alat panen perkebunan.

Abbas, lelaki 77 tahun, adalah salah satu di antara mereka.

Abbas tak bergeming meski harus dikelilingi hawa bara dan percikan api yang melenting.

Sesekali dia menyeka butiran keringat yang membasahi lembah-lembah tajam di keningnya.

Abbas adalah salah satu pandai besi paling senior di Desa Teratak, Kecamatan Rumbio Jaya, Kabupaten Kampar.

Abbas layak disebut sebagai “pahlawan” karena dedikasi dan semangatnya menularkan ilmu pandai besi di kampung itu.

Kini, Abbas menjadi pandai besi paling senior di kampung yang dihuni 250 pandai besi di sana.

Kiprahnya begitu lama. Sejak duduk di Sekolah Rakyat (setara Sekolah Dasar), dia telah menasbihkan dirinya sebagai pandai besi, sekitar tahun 1960.

Abbas saat ini menjadi kepala tukang. Jabatan setingkat lebih tinggi dari pandai besi yang bernaung di bawah kelompok industri kecil menengah (IKM) Rumbio Jaya Steel.

Meski berusia senja, Abbas tak mengeluh dengan pekerjaannya yang menguras tenaga.

Dia justru bersyukur usaha pandai besi yang berjalan puluhan tahun dan diwariskan turun temurun masih berjalan di tengah pandemi COVID-19 seperti saat ini.

Bahkan, berkat kerja keras dia dan ratusan pandai besi lainnya, ekonomi kampung yang mayoritas mengandalkan dari tukang pukul baja itu terus terjaga.

“Alhamdulillah ekonomi di kampung kami ini masih terus berjalan dengan baik meski saat ini tengah pandemi,” kata kakek yang telah memiliki 13 cucu itu.

Rumbio Jaya Steel atau RJS merupakan kelompok IKM yang khusus memproduksi alat-alat pertanian, terutama untuk perkebunan sawit. Perjuangan Abbas tak sendiri.

Ada sosok sentral lainnya, Syarial (40), ketua produksi IKM RJS.

Senada dengan Abbas, dia mengatakan usaha pandai besi itu sejatinya telah ada sejak 60 tahun silam.

Meski telah lama berdiri, Syarial menuturkan baru setahun terakhir mereka membentuk kelompok IKM.

Sebelumnya, para pandai besi hanya beraksi di masing-masing rumah mereka. Hingga akhirnya, desa itu dijuluki Kampung Pandai Besi.

Ada tiga desa yang mayoritas masyarakatnya menjadi pandai besi.

Selain Desa Teratak, ada juga Desa Simpang Petai dan Pulau Payung. Seluruhnya berada di Kecamatan Rumbio Jaya.

Selama ini, mereka memasarkan sendiri produk hasil pandai besinya.

Bahkan, mereka pernah mengirim hingga ke Kalimantan, Aceh, dan beberapa provinsi lainnya di Sumatera. Namun, pesanan tersebut tak menentu.

Namun, di awal 2020, IKM RJS dilirik PT Perkebunan Nusantara V.

Perusahaan milik negara yang bergerak di bidang agroindustri perkebunan sawit dan karet dengan luas areal mencapai 78.000 hektare tersebut sepakat membeli alat-alat panen sawit dan karet senilai lebih dari Rp 1,6 miliar.

Kesepakatan tersebut ditandai dengan kontrak pertama yang dilaksanakan pada Februari 2020 lalu, atau sebulan sebelum Indonesia resmi menjadi salah satu yang terdampak pandemi.

Saat ini seluruh pandai besi di kampung itu, termasuk yang bekerja di sentra IKM RSJ tengah mengerjakan pesanan miliaran rupiah itu.

Alhasil, warga di sana pun mendapatkan pendapatan tetap hingga lebih Rp 6 juta per bulan.

Angka itu lebih dari cukup untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari di desa yang berlokasi persis di bibir Sungai Kampar tersebut.

Editor: Ahmad Zainal Muttaqin - Apahabar.com


Share :

Baca Juga

apahabar.com

Nasional

Pemindahan Ibu Kota Indonesia Jadi Atensi Warganet: ‘Ibu kota boleh pindah, tapi jangan hatimu’
apahabar.com

Nasional

Panglima TNI Tegaskan Pembangunan Jembatan Kali Yigi
Jilbab

Nasional

Anggota DPR RI: Insiden ‘Jilbab’ di Sekolah Jangan Sampai Terulang!
apahabar.com

Nasional

Kondisi Terbaru Pasien Rujukan Suspect Covid-19 di RSUD Ulin
apahabar.com

Nasional

Terkait Pemberian Hibah dan Bansos, Apkasi Dukung Penuh Permendagri 13/2018
apahabar.com

Nasional

Inilah Waktu Larangan Lontar Jumrah bagi Jemaah Haji Indonesia
apahabar.com

Nasional

Gunung Merapi Luncurkan Awan Panas Guguran Minggu Pagi Ini
apahabar.com

Nasional

Bukan PAN Reformasi, Nih Nama Partai Baru Amien Rais
error: Dilarang copy paste artikel berita tanpa menyertakan link url : https://apahabar.com