Duh, Trio ‘Penjagal’ Paman Es Kandangan Terancam Lolos Pasal Pembunuhan Berencana Sssttt.. Catcalling Mahasiswi di Banjarmasin Cuma Satu dari Sekian Banyak Kasus KPK Rilis Hasil Penggeledahan Kedua di Amuntai HSU Kritik Pedas Pengamat Soal Komunitas Moge Lintasi Jembatan Alalak Baru Dua Hari Menghilang, Seorang Pria Ditemukan Tewas di Bawah Kolong Rumah Banjarmasin Utara

Fenomena Surya Pethak Bikin Orang di Indonesia Lebih Mudah Menggigil

- Apahabar.com     Senin, 2 Agustus 2021 - 09:14 WITA

Fenomena Surya Pethak Bikin Orang di Indonesia Lebih Mudah Menggigil

Ilustrasi. Foto-CNNIndonesia

apahabar.com, JAKARTA – Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (LAPAN) mengatakan fenomena surya pethak atau Matahari tampak memutih berpotensi terjadi di seluruh wilayah Indonesia.

Fenomena Surya Pethak diduga menyebabkan suhu Bumi termasuk di Indonesia lebih dingin.

Mengutip edukasi sains LAPAN, efek dari surya pethak dapat membuat orang di atas bumi lebih mudah kedinginan dan menggigil.

“Manusia akan mudah menggigil,” kata peneliti LAPAN Andi Pangerang.

Selain itu, tumbuhan juga tidak dapat tumbuh dengan optimal dan Kejadian tersebut dapat berlangsung paling lama 7 hingga 40 hari.

Menurut Andi, fenomena surya pethak adalah saat matahari merona putih selama siang hari sejak terbit hingga terbenam. Jika dikaitkan dengan musim, surya pethak umumnya hanya terjadi di musim-musim penghujan, yang saat itu penguapan air cenderung tinggi sehingga kabut awan lebih mudah terbentuk.

“Surya pethak hanya bisa terjadi jika kualitas udara di lokasi pengamatan kurang baik, dan dari sisi meteorologis, lokasi tersebut tertutup kabut awan, sehingga penghamburan (scattering) tidak sekuat ketika langit bersih dan cerah,” katanya

Adapun penyebab munculnya surya pethak karena letusan gunung berapi dan perubahan sirkulasi air laut yang dapat mempengaruhi penguapan dan pembentukan awan.

Secara harfiah, katanya, surya “pethak” bermakna matahari tampak memutih. Surya “pethak” dapat dimaknai sebagai alam sunya ruri atau siang hari yang temaram seperti malam hari. Siang hari yang dimaksud di sini adalah dihitung sejak matahari terbit hingga matahari terbenam.

Menurut dia sinar matahari yang biasa kemerahan ketika terbit dan terbenam akan memutih, sedangkan ketika matahari meninggi, sinar matahari tidak begitu terik dikarenakan terhalang oleh semacam kabut awan.
Penurunan Aktivitas Matahari

Fenomena surya pethak juga dikenal dengan kemungkinan kabut awan yang menyelimuti permukaan Bumi menimbulkan penurunan aktivitas Matahari, seperti yang pernah terjadi tahun 1645-1715

Fenomena tersebut dikenal dengan Maunder Minimum yang berasal dari seorang astronom Matahari, Edward Walter Maunder dan istrinya Annie Russell Maunder.

“Fenomena ini berlangsung ketika zaman es kecil atau rendahnya suhu rata-rata bagi kawasan Eropa dalam waktu yang cukup lama, antara tahun 1550 hingga 1850,” tulis Andi.

“Meskipun demikian, tidak cukup bukti bahwa Maunder Minimum ini dapat menyebabkan zaman es kecil, terlebih lagi, awal zaman es kecil lebih awal seratus tahun daripada Maunder Minimum,” lanjut Andi.

Oleh sebab itu, hubungan antara siklus Matahari dan pendinginan iklim tidak terkait sama sekali.

Apabila ada aktivitas Matahari minimum berkepanjangan, sehingga iklim Bumi mendingin (yang mana keduanya tidak terbukti), maka pendinginan dari aktivitas Matahari minimum yang berkepanjangan tidak mungkin mengurangi pemanasan yang disebabkan manusia dalam jangka panjang.

“Akhir kata, dalam waktu dekat ini, fenomena surya pethak tidak akan terjadi setidaknya jika dikatikan dengan aktivitas Matahari,” ujar Andi.

Akan tetapi, fenomena surya pethak masih dapat dimungkinkan terjadi oleh letusan gunung berapi dan perubahan sirkulasi air laut yang hingga saat ini masih sulit diprediksi oleh para ilmuwan vulkanologi dan oseanografi.

Editor: Puja Mandela - Apahabar.com


Share :

Baca Juga

Mahkamah Konstitusi

Nasional

MK Terima 21 Pengajuan Sengketa Pilkada, Termasuk Pilwali Banjarmasin

Nasional

Bank Bjb Raih Top 50 Emiten di The 12th IICD Corporate Governance Award
apahabar.com

Nasional

Kambing Mata Satu Mirip ‘Dajjal’ Lahir di Bogor
apahabar.com

Nasional

China Percaya Kemitraannya dengan Indonesia Tak Terganggu Wabah Virus Corona
apahabar.com

Nasional

Sesuai Telegram Kapolri, Pendemo UU Cipta Kerja Bakal Ditindak Tegas!
apahabar.com

Nasional

BPPTKG: Gunung Merapi Erupsi, Tinggi Kolom Asap 6.000 Meter
apahabar.com

Nasional

Puluhan Warga Desa Rambutan Masam Keracunan Makanan
apahabar.com

Nasional

Dirut BuLog: Tidak Ada Lagi Impor Beras Tahun Ini
error: Dilarang copy paste artikel berita tanpa menyertakan link url : https://apahabar.com