Jokowi Resmikan Jembatan Alalak, Jalan Hasan Basri Kayutangi Macet Parah Jokowi Resmikan Pabrik Johnlin, Paman Birin Pinta Dua PSN Tiba di Banjarbaru, Presiden Jokowi Bertolak ke Banjarmasin Pak Jokowi! Siswa Peserta Vaksinasi Banjarmasin Tak Mau Sepeda Jokowi Tiba di Kalsel, Panggung Alalak Jadi Tontonan Warga

Harga Nikel Bikin Optimis Emiten Tambang

- Apahabar.com     Rabu, 18 Agustus 2021 - 10:52 WITA

Harga Nikel Bikin Optimis Emiten Tambang

Salah satu pekerja menunjukan feronikel. Naiknya harga nikel menjadi angin segar bagi sejumlah emiten pertambangan. Foto ilustrasi: Istimewa

apahabar.com, JAKARTA – Naiknya harga nikel yang sempat lesu efek pandemi Covid-19 membuat optimis emiten pertambangan, seperti PT PAM Mineral Tbk.

“Perseroan berkeyakinan kinerja operasional pada tahun 2021 akan lebih meningkat dibandingkan dengan tahun 2020, kinerja operasional diperkuat oleh semakin meningkatnya harga nikel di tahun 2021 dibandingkan dengan tahun 2020,” kata Corporate Secretary PT PAM Mineral Tbk Suhartono, Rabu (18/8) dilansir Antara.

Berdasar laporan keuangan tahun 2020 yang telah diaudit, emiten berkode saham NICL itu berhasil mencatatkan laba operasional sebesar Rp45,8 miliar atau lebih tinggi 36,6 persen dibandingkan dengan laporan keuangan sementara atau in-house 2020 yang telah diterbitkan NICL pada laporan sebelumnya. Saat itu laba operasionalnya tercatat hanya Rp33,5 miliar.

Sedang, laba bersih pada 2020 sebesar Rp32 miliar atau lebih tinggi 12,5 persen dibanding laporan keuangan in-house 2020, yang telah diterbitkan NICL pada laporan sebelumnya, yang hanya mencatatkan laba bersih sebesar Rp28,4 miliar.

Suhartono menyampaikan peningkatan tersebut disebabkan adanya penurunan nilai beban pokok penjualan pada laporan in-house 2020 NICL yang tercatat sebesar Rp147,9 miliar, sedang berdasarkan laporan audit NICL, beban pokok penjualan tercatat sebesar Rp116,6 miliar atau lebih rendah 21,2 persen.

“Hal ini tentunya juga menopang gross profit dan operating profit yang lebih besar dibandingkan yang tercatat pada buku inhouse. Margin gross profit dan operating profit NICL masing-masing sebesar 50,3 persen dan 36,6 persen,” ujar Suhartono.

Selain itu, perseroan juga mencatatkan nilai aset lancar yang lebih tinggi pada laporan buku audit. Total nilai aset lancar NICL sebesar Rp124,1 miliar, lebih tinggi sebesar 11,9 persen dibandingkan dengan nilai aset lancar pada buku in-house 2020 yang hanya sebesar Rp110,8 miliar.

Kondisi tersebut disebabkan karena posisi nilai uang muka dan dibayar di muka yang mengalami kenaikan dari Rp1,9 miliar menjadi Rp23 miliar. Secara keseluruhan, NICL mencatatkan nilai total asetnya sebesar Rp189,7 atau lebih tinggi 7,7 persen dari laporan keuangan Inhouse.

Di sisi lain, NICL mencatatkan nilai utang sebesar Rp82,9 miliar atau lebih tinggi sebesar 11,7 persen dari yang tercatat di posisi laporan keuangan in house 2020.

Peningkatan tersebut terjadi karena adanya peningkatan posisi utang jangka pendek, yaitu sebesar 12,3 persen dari Rp69,8 miliar menjadi Rp78,4 miliar.

Pada posisi ekuitas, NICL mencatatkan nilai ekuitas sebesar Rp106,7 miliar, lebih tinggi sebesar 4,7 persen dari posisi inhouse 2020.

PAM Mineral merupakan perusahaan yang bergerak di bidang pertambangan mineral nikel, yang memiliki anak usaha bernama PT Indrabakti Mustika (IBM).

Bijih nikel perseroan maupun anak perusahaan, IBM memiliki kadar Ni antara 1,4 persen-1,8 persen.

IBM memiliki lahan konsesi pertambangan nikel di Langgikima, Kabupaten Konawe Utara, Sulawesi Tenggara. Lahan tersebut merupakan lahan Izin Usaha Pertambangan (IUP) operasi produksi seluas 576 hektare (ha).

Sedangkan perseroan memiliki lahan konsesi pertambangan nikel di Desa Buleleng, Kabupaten Morowali, Sulawesi Tengah. Lahan tersebut merupakan lahan IUP operasi produksi seluas 198 ha.

Area potensi nikel dari IUP perseroan seluas 198 ha sudah seluruhnya dieksplorasi, di mana seluas 47 ha sudah ditambang. Sedang sisanya belum dilakukan penambangan.

Sementara itu, area potensi nikel dari IUP IBM adalah seluas 450 ha, di mana area yang sudah tertambang dan terganggu (area IUP yang sudah dibuka atau land clearing, namun belum dilakukan penambangan) seluas 15 ha, dengan rincian, area tertambang utara seluas 10 ha dan selatan seluas 5 ha. Area yang belum ditambang dari IUP IBM seluas 435 ha.

Editor: Fariz Fadhillah - Apahabar.com


Share :

Baca Juga

apahabar.com

Ekbis

PLN Ikut Keputusan Pemerintah soal Pembatalan Kenaikan Tarif
apahabar.com

Ekbis

Merugi, DPRD Minta Bank Kalsel Tarik Kantor Cabangnya di Jakarta
apahabar.com

Ekbis

Stok Gula Kalsel Menipis, Ribuan Pelaku UMKM Menjerit!
apahabar.com

Ekbis

Surat Edaran Menaker, THR Bisa Dicicil atau Ditunda
apahabar.com

Ekbis

Pak Pos Sering Tersesat, DPMPTSP Banjarmasin Merugi
apahabar.com

Ekbis

Tokopedia Laporkan Kasus Kebocoran Data Pengguna
apahabar.com

Ekbis

Penjelasan Luhut Terkait Utang Indonesia Bertambah
apahabar.com

Ekbis

Data Ekonomi Global Membaik, Rupiah Berpotensi Menguat Tipis
error: Dilarang copy paste artikel berita tanpa menyertakan link url : https://apahabar.com