Bantuan Rp 300 Disetop, Puluhan Ribu Keluarga di Banjarmasin Terdampak Fakta Baru! Motif Lain Pembunuhan Paman Es Kandangan di Paramasan OTT Amuntai, Belasan Nama Baru Dua Hari Diperiksa KPK BREAKING! KPK Periksa 10 Nama Terkait OTT Amuntai, dari Sekda hingga Swasta Salah Tangkap Mahasiswa HMI di Barabai, Rafi Boyong Selongsong Peluru ke Polda

Isoter Banjarmasin Segera Dibuka, Nih Panduan Isolasi Mandiri Antipanik

- Apahabar.com     Selasa, 31 Agustus 2021 - 10:23 WITA

Isoter Banjarmasin Segera Dibuka, Nih Panduan Isolasi Mandiri Antipanik

Banyak hal yang perlu diperhatikan saat melakukan isolasi mandiri di rumah. Terlebih mereka yang memiliki penyakit penyerta. Foto ilustrasi: Istimewa

apahabar.com, BANJARMASIN – Tingginya tren penularan membuat rumah sakit-rumah sakit rujukan di Kalimantan sesak akan pasien Covid-19.

Warga terinfeksi Covid-19 pun banyak tidak tertampung. Mereka yang tanpa gejala atau dengan gejala ringan ini umumnya melakukan isolasi mandiri (isoman) di rumah.

Di Banjarmasin, Pemkot menyiapkan fasilitas isolasi terpusat (isoter). Isoter ini meminjam fasilitas milik Balai Besar Pendidikan dan Pelatihan Kesejahteraan Sosial (BBPPKS) Regional IV Kalsel.

Namun, isoter di Jalan Batu Besar ini baru siap digunakan pada pekan pertama September mendatang. Lantas, apa saja yang perlu diperhatikan saat menjalani isolasi mandiri di rumah?

Banjarmasin Evaluasi PPKM Level IV, Berikut Hasil Lengkapnya

Dokter spesialis penyakit dalam dr. Jeffri Aloys Gunawan, Sp.PD, bilang isolasi mandiri harus dilakukan dengan benar agar efektif.

Persiapan yang harus dilakukan selama isolasi mandiri, baik untuk pasien tanpa gejala (10 hari isolasi mandiri) maupun bergejala ringan-sedang (10+3 hari), adalah logistik dan medis.

“Ingat, isoman perlu waktu cukup lama. Tidak bisa dilakukan tanpa persiapan. Pertama, siapkan kebutuhan pokok seperti makan, minum, cuci baju, dan lain-lain. Pemeriksaan medis jangan dilupakan,” ujar dr. Jeffri dilansir Antara, Selasa (31/8).

Memeriksa saturasi oksigen, suhu tubuh, dan tanda-tanda vital lainnya adalah hal penting lainnya yang perlu diperhatikan saat memutuskan untuk melakukan isolasi mandiri. Konsultasi ke dokter atau memanfaatkan layanan telemedisin juga harus dilakukan memantau kemajuan penyembuhan.

“Saat isoman, sebaiknya isolasi sendiri, tidak serumah dengan anggota keluarga yang lain. Tapi bila terpaksa tetap serumah, sebisa mungkin harus terpisah,” ujarnya.

Sebisa mungkin menggunakan kamar mandi berbeda. Menurut dr. Jefrri, sangat disarankan untuk pergi ke tempat isolasi terpusat, hal ini guna melindungi keluarga dari risiko terpapar virus.

“Sebenarnya yang boleh isoman adalah mereka yang tidak bergejala atau bergejala ringan. Mereka yang bergejala sedang, jadi tidak cuma demam atau batuk ringan, tapi juga ada napas berat atau sesak, apalagi bila disertai penurunan saturasi oksigen, sebaiknya diperiksakan ke rumah sakit,” kata dr. Jeffri.

Gejala sedang sendiri merupakan perbatasan antara gejala ringan ke berat. Pada pasien seperti ini, bila dilakukan foto toraks biasanya sudah ada gambaran infeksi paru sehingga harus dirawat di rumah sakit.

Jika seorang pasien Covid-19 ditemukan adanya pneumonia maka perlu terapi yang lebih agresif, yang diberikan via infus, dan pemantauan yang lebih ketat.

Sindrom pelana kuda Covid-19 dan komorbid penyakit kronis

Isoman

Wali Kota Banjarmasin Ibnu Sina melakukan pemantauan dan memberikan bantuan warga pasien isoman. apahabar.com/Bahaudin Qusairi

Menurut dr. Jeffri ada tiga fase COVID-19 dan sindrom pelana kuda, yaitu fase pertama, fase pulmonary, dan fase badai sitokin. Intinya, pengobatan harus dilakukan agresif sebelum masuk fase dua atau fase pulmonary, apalagi jika sampai masuk ke fase tiga atau badai sitokin.

Pada orang dengan komorbid penyakit kronis seperti diabetes atau hipertensi dan lansia, risiko kematiannya akan meningkat enam kali lipat.

“Komorbid adalah salah satu indikasi untuk dirawat di rumah sakit. Terlebih bila komorbidnya lebih dari dua penyakit maka dianjurkan untuk dirawat seperti pasien Covid gejala sedang. Namun, orang dengan komorbid boleh isoman bila kondisinya terkontrol dengan obat rutin,” ujar dr. Jeffri.

Selama isoman, orang dengan komorbid disarankan tetap rutin meminum obatnya dan memantau saturasi oksigen.

Lansia biasanya minum banyak obat atau polifarmasi sehingga perlu dipantau oleh dokter berkaitan dengan obat yang harus dilanjutkan, obat yang perlu dihentikan dulu sementara, dan obat yang dosisnya perlu disesuaikan atau diganti.

Pada pasien diabetes misalnya, biasanya kadar gula darah naik karena Covid-19, sehingga memerlukan injeksi insulin. Bila minum polifarmasi, jangan ragu untuk konsultasi ke dokter.

Obat dan suplemen yang harus disiapkan

Bantuan sosial (Bansos) untuk warga Isolasi Mandiri (Isoman) Banjarmasin mulai dibagikan. Foto- apahabar.com/Bahaudin Qusairi.

Persediaan obat selama isoman biasanya menjadi perhatian pasien. Menurut dr. Jeffri, sekarang banyak tersedia paket isoman yang dikemas dalam boks dan dilengkapi daftar obat beserta dosisnya.

“Kita harus kritis dan tahu, apa saja isinya. Jangan cuma terima paket dan langsung minum obatnya. Di dalam paket banyak sekali obat, bisa belasan,” kata dr. Jeffri.

Hal pertama yang perlu diperhatikan saat mengonsumsi obat selama isoman adalah cocokkan obat dengan daftarnya. Cek diri sendiri, Anda masuk dalam kategori mana; OTG, ringan, sedang, atau berat.

Setelah itu cek pedoman yang sudah disusun. Untuk gejala ringan obatnya lebih sederhana, cukup vitamin C, D, zinc, juga vitamin B dan E. Terkadang ada obat yang ditambahkan, biasanya antivirus (favipiravir), dan mungkin juga antibiotik.

Namun harus ada indikasinya, dan biasanya ditemukan oleh dokter/nakes. Untuk antibiotik, indikasinya yaitu infeksi sekunder, biasanya oleh bakteri H. influenza atau Strepococcus.

Kedua bakteri ini sering menjadi infeksi oportunistik pasien Covid-19. Kalau ada tanda infeksi bakteri ini, apalagi ada tanda atipikal/tidak khas, boleh diberikan antibiotik dan biasanya azithromycin.

Jika ada gejala batuk, dahak diperiksa dulu dengan pemeriksaan lab apus, untuk mengetahui apakah ada kuman infeksi sekunder.

Pada gejala berat juga diperlukan antivirus, dan bisa dipertimbangkan antikoagulan (pengencer darah). Ini harus berdasarkan pertimbangan atau resep dokter dan tidak boleh sembarangan.

Untuk gejala berat, juga diperlukan steroid. Biasanya jika ada penurunan saturasi oksigen, sehingga perlu oksigen.

Akan tetapi, dr. Jeffri mengatakan terdapat salah kaprah mengenai hal ini. Di dalam paket isoman terdapat steroid tablet, padahal yang dianjurkan adalah steroid infus/IV, bukan yang tablet. Untuk steroid tablet, bukti ilmiahnya untuk Covid-19 belum jelas.

Terakhir, pastikan untuk selalu berkonsultasi dengan dokter. Hal ini sudah sangat terbantu dengan adanya layanan telemedis sehingga memudahkan pasien untuk mendapat pantauan.

Dear Warga Isoman, Isoter Banjarmasin Siap Digunakan!

Editor: Fariz Fadhillah - Apahabar.com


Share :

Baca Juga

apahabar.com

Lifestyle

Angkat Brand Lokal, Weekend Bazaar Clothing Siapkan Diskon Besar di Q Mall Banjarbaru
apahabar.com

Lifestyle

Wanita Cinta Mati dengan Pria Berkumis dan Berjenggot
Lebaran

Lifestyle

Bingung Pilih Pakaian Baru? Intip Baju Lebaran Ala Ariel Noah Dan Al Ghazali
Bams eks Samsons pernah obesitas. Foto-Instagram

Lifestyle

Pernah Obesitas, Berat Badan Bams Eks Samsons 100 Kilogram
apahabar.com

Lifestyle

Bioskop XXI Duta Mall Banjarmasin Dibuka Bisa Pacu Imunitas? Simak Penjelasan Ahli
apahabar.com

Gaya

Dear Bunda, Ahli Gizi Ungkap Alasan Penting Anak 5-12 Tahun Wajib Bergerak Aktif
Kerajaan Banjar

Lifestyle

Unik, Model asal Tapin Koleksi Benda Pusaka Kerajaan Banjar

Lifestyle

Nasi Padang dan Hal Unik di Dalamnya, dari Lagu Cinta hingga Rahasia Bumbu Tanah Minang
error: Dilarang copy paste artikel berita tanpa menyertakan link url : https://apahabar.com