Pembacok Jurkani di Tanbu Juga Rampas Barang Pribadi, Pelaku Disebut Berhalusinasi Jasad Wanita Muda Banjarmasin dengan Luka Tusuk di Dada Itu Ternyata… Sosok Pembacok Advokat Jurkani di Tanah Bumbu, dan Detik-Detik Penganiayaan IKN Dipimpin Kepala Otorita, Sederet Nama Kandidat Termasuk Ahok Pesona Danau Sentarum Kalbar Bikin Takjub, Tertarik Berkunjung?

Setelah Bercerai, Kapan Pria Boleh Menikah Lagi?

- Apahabar.com     Senin, 16 Agustus 2021 - 00:20 WITA

Setelah Bercerai, Kapan Pria Boleh Menikah Lagi?

Ilustrasi menikah. Foto: Net

apahabar.com, JAKARTA – Seperti diketahui idah atau iddah merupakan istilah suatu masa seorang wanita menanti atau menangguhkan perkawinan setelah ia ditinggal mati suaminya, atau setelah diceraikan.

Sebuah ajaran yang bertujuan untuk menjaga keturunan dan memastikan rahim perempuan itu benar-benar bersih sebelum memutuskan menikah kembali.

Namun, yang menjadi pertanyaan adalah adakah masa tunggu bagi pria setelah bercerai? Adakah istilah idah bagi laki-laki? Kapan seorang pria bisa menikah lagi setelah bercerai?

Melansir Republika.co.id, para ulama menjelaskan, pada dasarnya masa idah merupakan ketentuan yang hanya diwajibkan atas wanita.

Para fuqaha berpendapat bahwa setelah bercerai dari istrinya, seorang pria bisa menikah lagi dengan orang lain tanpa ada masa idah, terlebih bagi pria yang istrinya meninggal dunia.

Namun, memang ada dua kondisi yang membuat seorang pria harus menjalani masa tunggu untuk menikahi wanita lain.

Kondisi tersebut adalah jika ada seorang laki-laki yang menalak istrinya dengan talak raj’i , kemudian dia ingin menikahi seorang yang tidak boleh dikumpulinya, seperti saudara perempuan istri, maka pria tersebut tidak boleh menikah hingga idah istri pertama selesai.

Kondisi kedua adalah jika seorang suami mempunyai empat istri, dan dia menalak raj’i salah satunya untuk menikah yang kelima, maka dia tidak boleh menikah dengan yang kelima hingga idah istri yang ditalak selesai.

Adapun pemakaian istilah idah bagi laki-laki, para ulama berbeda pendapat dalam mendefinisikan masa penantian yang harus dijalani seorang laki-laki dalam dua kondisi tersebut. Ulama dari kalangan Hanafiyah berpendapat bahwa penantian tersebut tidak dikatakan idah secara syari.

Pendapat yang sama juga dikemukakan oleh Wahbah Zuhaili dalam kitab ‘al-Fiqh al-Islami wa Adillatuhu’ bahwasanya seorang laki-laki tidak mempunyai masa idah, penantian tersebut hanyalah penantian wajib yang harus dilalui disebabkan adanya Mani’ syar’i (larangan syar’i).

Dr Hamdallah al-Safty, anggota World Organization of Al-Azhar Graduates menekankan istilah iddah hanya untuk wanita.

Adapun jika ada yang menyebut periode penantian untuk dua kondisi di atas disebut adalah perumpamaan saja.

Editor: Aprianoor - Apahabar.com


Share :

Baca Juga

apahabar.com

Religi

Ribuan Jemaah Hadiri Haul Guru Bawai
apahabar.com

Religi

Nyai Aisyah Ali Yafie, Rajin Khatamkan Alquran
apahabar.com

Sirah

Detik-Detik Penaklukkan Konstantinopel di Tangan Umat Islam
apahabar.com

Habar

Live Streaming Perdana Pengajian Guru Bakhiet via YouTube
Syekh Ali

Habar

Jadi Korban Penusukan di Bandar Lampung, Siapa Sebenarnya Sosok Syekh Ali Jaber?
apahabar.com

Hikmah

Pekerjaan Paling Utama ‘di Mata’ Rasulullah SAW
apahabar.com

Habar

Sambut Tahun Baru Islam, Rumah Tahfidz Al Maher Banjarmasin Gelar Festival Anak Islam se-Kalsel
apahabar.com

Sirah

Sunan Prapen, Penyebar Islam di Tanah Lombok
error: Dilarang copy paste artikel berita tanpa menyertakan link url : https://apahabar.com