Pemukiman Warga Danau Rangas Palangka Raya Kini Jadi Daerah Banjir Terparah Duh, Petugas Dishub Palangka Raya Dipukul Gegara Tertibkan Jukir Liar Tugu Soekarno Azis Syamsuddin Tersangka Dugaan Suap Terancam Hukuman Hanya 5 Tahun Penjara Jadi Tersangka, Azis Syamsuddin Diduga Suap Mantan Penyidik KPK Rp 3,1 Miliar Bukti Cukup, KPK Tetapkan Wakil Ketua DPR RI Azis Syamsuddin Tersangka Suap

Sosok Ahmad Massoud, Oposisi Anti-Taliban yang Digandeng Wapres Afghanistan

- Apahabar.com     Kamis, 19 Agustus 2021 - 12:48 WITA

Sosok Ahmad Massoud, Oposisi Anti-Taliban yang Digandeng Wapres Afghanistan

Ahmad Massoud. Foto-Istimewa

apahabar.com, JAKARTA – Wakil Presiden Afganistan, Amrullah Saleh menggandeng salah seorang tokoh dari Lembah Panjshir, Ahmad Massoud guna melawan Taliban.

Ahmad Massoud merupakan putra dari Ahmad Shah Massoud, komandan mujahadin dan pahlawan Tajik dari Lembah Panjshir.

Dilansir dari Reuters, Ahmad Massoud diketahui kehilangan ayahnya saat berusia 12 tahun. Ayahnya dibunuh oleh wartawan gadungan yang membawa bom dalam bentuk kamera beberapa hari sebelum serangan 11 September 2001 di Amerika Serikat. Ahmad Shah Massoud dikenal sebagai komandan Mujahidin yang menentang fundamentalisme yang diusung oleh Taliban.

Perjuangan Ahmad Shah Massoud pun diteruskan oleh putranya. Ahmad Massoud kini dikenal sebagai tokoh Afghanistan yang menentang keras kesepakatan damai antara Amerika Serikat dan Taliban.

Ahmad Massoud kini berusia 32 tahun. Pemuda yang menjalani pendidikan keperwiraan oleh militer Inggris itu menawarkan wilayahnya sebagai benteng terakhir anti-Taliban.

Meskipun dia masih relatif baru dalam politik Afghanistan. Namun, aura nama ayahnya menambah bobot orasinya di negeri ini.

“Ini sangat rahasia. Itu terjadi di balik pintu tertutup,” kata Massoud kepada Reuters dalam sebuah wawancara mengomentari perjanjian Taliban dan AS pada 6 September 2019 lalu.

“Kami melihat kesepakatan damai sebagai peluang besar, tetapi sayangnya cara mengelolanya mengecewakan,” kata Massoud. “Kami ingin melihat kejelasan, kami ingin melihat orang-orang dari seluruh negeri terlibat di dalamnya.”

Berbicara setelah sekitar 10.000 pendukungnya berunjuk rasa di makam ayahnya di Lembah Panjshir, komentar Massoud mencerminkan kecurigaan soal perjanjian itu.

Dia menilai kesepakatan itu akan membuat ribuan tentara AS ditarik sebagai imbalan atas janji Taliban untuk tidak membiarkan Afghanistan digunakan sebagai pangkalan untuk serangan di masa depan terhadap Amerika Serikat dan sekutunya.

Massoud juga yakin bahwa perubahan status negara Afghanistan hanya bisa dilakukan melalui referendum.

“Bagi kami, Republik Islam Afghanistan adalah garis merah kami,” kata Massoud, seraya menambahkan bahwa setiap perubahan status negara hanya dapat dilakukan melalui referendum.

Banyak yang khawatir tentang perpecahan di sepanjang garis etnis dan regional, dengan Tajik dan Hazara yang berbahasa Persia dari utara dan barat melawan Pashtun selatan dan timur. Kenangan perang saudara tahun 1990-an sangat jelas, maka dari itu, Massoud tak ingin melihat perang pecah lagi.

“Kami tidak ingin melihat perang lagi pecah,” kata Massoud. “Perdamaian ini harus mengakhiri perang sekaligus.”

Editor: Puja Mandela - Apahabar.com


Share :

Baca Juga

Internasional

WHO: Semua Hipotesis Lain Soal Asal Usul Covid-19 Masih Terbuka
Joe Biden

Internasional

Jokowi hingga Joe Biden, Berikut Pemimpin Dunia Juga Bakal Disuntik Pertama Vaksin Covid-19

Internasional

Mengharukan, Pengungsi Afghanistan Sampai Melahirkan di Pesawat
Emas Naik

Ekbis

Inflasi AS Sesuai Harapan, Harga Emas Naik
apahabar.com

Internasional

Thailand Menghapus Ganja dari Daftar Narkotika
apahabar.com

Internasional

PM Inggris: Kemarahan Atas Kematian Floyd Tidak Dapat Diabaikan
apahabar.com

Internasional

Kasus Covid-19 Turun, Moskow Longgarkan Karantina Wilayah
apahabar.com

Internasional

Pengakuan Sang Adik, Wawancara Puteri Diana Tahun 1995 Diwarnai Tipu Daya
error: Dilarang copy paste artikel berita tanpa menyertakan link url : https://apahabar.com