Terbongkar! Pembunuh Paman Es Kandangan Pura-Pura Anak di Bawah Umur Usai Penarikan Besar dalam Persediaan AS, Harga Minyak Melonjak OTT di Amuntai HSU, KPK Tangkap Pegawai-Pengusaha hingga Segel Ruang Bidang OTT KPK di Amuntai HSU, Satgas Pinjam Ruang Polres Operasi Senyap KPK di Amuntai HSU, Polda Belum Pastikan

Cerita Masdiah di TPA Basirih Banjarmasin: Berharap Rupiah dari Tumpukan Sampah

- Apahabar.com     Sabtu, 11 September 2021 - 09:11 WITA

Cerita Masdiah di TPA Basirih Banjarmasin: Berharap Rupiah dari Tumpukan Sampah

Masdiah di antara tumpukan sampah di TPA Basirih Banjarmasin, Foto-apahabar.com/Riki

apahabar.com, BANJARMASIN – Menempuh jarak 4 kilometer, Masdiah (66) harus berjalan kaki dari rumah menuju Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Basirih, Banjarmasin.

Delapan jam dalam sehari warga asal Kelayan Timur ini menghabiskan waktu di TPA Basirih. Bagi Masdiah, sampah menjadi pengharapan untuk menghasilkan rupiah.

Profesi pemulung sudah dijalani Masdiah selama lebih dari sepuluh tahun terakhir. Meski sudah uzur, memilah sampah layak untuk dijual kembali mau tidak mau jadi rutinitas Masdiah saban hari.

Pasalnya, Masdiah sekarang merupakan satu-satunya tulang punggung keluarga. Ada satu anak yang harus ditanggungnya.

Mirisnya lagi, seorang anaknya yang sudah berusia 30 tahun tersebut memiliki gangguan psikis atau keterbelakangan mental.

“Suami saya sudah lama meninggal dunia,” ceritanya kepada apahabar.com di TPA Basirih, Jumat (10/9) kemarin.

Rela menerjang jutaan sampah yang sudah menggunung ditambah lagi cuaca tak menentu, tidak menyurutkan semangat Masdiah demi mengumpulkan pundi-pundi rupiah.

Sampah-sampah yang ia pungut dihargai Rp 1.300 per kilogramnya. Dalam sehari sampah yang dikumpulkan Masdiah mampu mencapai 15 kilogram.

Jika dikalkulasikan, rata-rata penghasilan alias uang yang didapat Masdiah sekitar Rp 19.500 per hari.

“Seperti inilah sudah kehidupanku sehari-hari,” ucapnya sambil tersenyum kecil.

Selain itu, kala pandemi sampah medis B3 seperti masker, infus hingga suntikan dipastikan meningkat. Terlebih, limbah tersebut berasal dari para pasien isolasi mandiri (isoman).

Disinggung terkait kekhawatiran akan adanya penularan dari limbah medis B3 tersebut, Masdiah menjawab dengan cukup bijaksana.

“Wani [berani] tidak, takut juga tidak. Tapi aku yakin Tuhan pengertian dengan kondisiku. Kalau tidak dengan cara seperti ini, mau dengan bagaimana lagi untuk mengais rezeki,” tuntasnya kepada apahabar.com.

TPA Basirih

Kegiatan Masdiah saat memunguti sampah di TPA Basirih Banjarmasin untuk dijual kembali. Foto-apahabar.com/Riki

Editor: Aprianoor - Apahabar.com


Share :

Baca Juga

apahabar.com

Kalsel

Polresta Banjarmasin Keliling Pasar Antasari Sosialisasikan Perwali
apahabar.com

Kalsel

SKB dan Arutmin Kerja Sama Kembangkan Sanggar Belajar Non Formal
apahabar.com

Kalsel

Kuliah Umum Menteri Nasir di ULM: Kecerdasan Buatan Akan Pengaruhi Lapangan Kerja
apahabar.com

Kalsel

Honorer di Balangan Banyak yang Gaptek! Simak Siasat Bupati Ansharuddin
apahabar.com

Kalsel

SMSI Wadah Bernaung Perusahaan Media Online Kalsel
apahabar.com

Kalsel

Longsor Kotabaru, Anak Ikut Tewas saat Ibunya Tertimbun Tanah
apahabar.com

Kalsel

5 Sembuh, Tabalong Sisa 8 Pasien Positif Covid-19
apahabar.com

Kalsel

Makna Tahun Babi Tanah, Tiono Husin: Membawa Suasana Adem dan Damai
error: Dilarang copy paste artikel berita tanpa menyertakan link url : https://apahabar.com