Jurkani Dibacok, Tim Macan Kalsel Turun Gunung Advokat Jurkani Dibacok OTK di Angsana Menguji Klaim Jembatan Sei Alalak Antigempa hingga Tahan Seabad Gara-Gara Ratusan Ribu, Istri di Kandangan Coba Akhiri Hidup Dari Viralnya Aksi Istri di Kandangan Coba Akhiri Hidup, Ketahanan Keluarga Kian Rentan

IAEA: Kesepakatan AUKUS Akan Menyulitkan Pengawasan Nuklir

- Apahabar.com     Selasa, 28 September 2021 - 21:29 WITA

IAEA: Kesepakatan AUKUS Akan Menyulitkan Pengawasan Nuklir

Arsip - Sebuah kapal selam bertenaga nuklir milik Amerika Serikat. Foto-Reuters via Antara

apahabar.com, WINA – Kepala Badan Energi Atom Internasional (IAEA), Rafael Grossi, mengatakan kesepakatan AUKUS yang memfasilitasi Australia untuk memperoleh teknologi kapal selam nuklir dari Amerika Serikat akan menyulitkan proses inspeksi, meskipun dapat dikelola.

“Ini secara teknis adalah masalah yang sangat rumit dan akan menjadi pertama kalinya sebuah negara yang tidak memiliki senjata nuklir [tetapi] memiliki kapal selam nuklir,” kata Grossi dalam program HardTalk BBC yang disiarkan pada Selasa (28/9) dilansir Antara.

Kesepakatan kapal selam adalah bagian dari perjanjian pertahanan yang diumumkan Australia, Inggris, dan AS bulan lalu.

Pengumuman itu memicu kemarahan Prancis karena Australia akan membatalkan pesanan kapal selam bertenaga diesel Prancis.

Ini akan menjadi pertama kalinya negara pihak Perjanjian Nonproliferasi Nuklir (NPT) memiliki kapal selam nuklir, selain dari lima negara pemilik senjata nuklir yang diakui oleh NPT yaitu AS, Rusia, China, Prancis, dan Inggris.

India, yang belum menandatangani NPT, juga memiliki kapal selam nuklir.

Grossi menegaskan bahwa penandatangan NPT dapat mengecualikan bahan nuklir dari pengawasan IAEA, atau dikenal sebagai perlindungan, sementara bahan itu digunakan sebagai bahan bakar kapal selam.

Ini adalah pengecualian langka untuk pengawasan IAEA terhadap semua bahan nuklir untuk memastikan nuklir tidak digunakan untuk membuat bom atom.

“Dengan kata lain, sebuah negara mengecualikan nuklir dari pengawas untuk beberapa waktu, dan kita berbicara tentang uranium yang berkadar tinggi,” kata Grossi.

“Artinya kita, bersama dengan Australia, Amerika Serikat, dan Inggris, harus masuk ke dalam negosiasi teknis yang sangat kompleks untuk memastikan bahwa sebagai akibat dari kesepakatan ini tidak ada pelemahan rezim nonproliferasi nuklir,” ujar dia, tanpa menyebut berapa lama negosiasi akan berlangsung.

Editor: Aprianoor - Apahabar.com


Share :

Baca Juga

apahabar.com

Internasional

WHO Akui Bukti Baru Covid-19 Menyebar Lewat Partikel di Udara
apahabar.com

Internasional

WHO Prediksi Covid-19 Akan Berakhir dalam 2 Tahun
Covid-19 Saudi

Internasional

Selama 2 Pekan, Kasus Covid-19 Saudi di Bawah 100
apahabar.com

Internasional

Sampah Elektronik Global Terus Naik dalam 5 Tahun
apahabar.com

Internasional

Fang Xinghai Berharap Hubungan China-AS Lebih Baik di Bawah Pemerintah Joe Biden
apahabar.com

Internasional

Arab Saudi Hentikan Sementara Penerbangan Internasional
London

Internasional

Kakek 90 Tahun, Orang Pertama Divaksin Covid-19 di London
apahabar.com

Internasional

Drone Turki Jadi Kekuatan Baru di Tengah Dominasi AS, Israel dan China
error: Dilarang copy paste artikel berita tanpa menyertakan link url : https://apahabar.com