Jokowi Tiba di Kalsel, Panggung Alalak Jadi Tontonan Warga BREAKING! Presiden Jokowi Tiba di Kalsel Jelang Peresmian, Jembatan Sei Alalak Belum Ditutup Total Kunjungi Tanbu, Warga Berharap Jokowi Ikut Tanam Mangrove di Pulau Burung Truk Terbalik di Balangan Belum Dievakuasi, 8 Jam Listrik Padam

Luhut Klaim Tes Covid Sudah Oke, Epidemiolog Anggap Tak Ideal

- Apahabar.com     Selasa, 28 September 2021 - 12:58 WITA

Luhut Klaim Tes Covid Sudah Oke, Epidemiolog Anggap Tak Ideal

Menteri Koordinator bidang Kemaritiman dan Investasi Luhut Binsar Pandjaitan. Foto-Istimewa

apahabar.com, JAKARTA – Epidemiolog dari Universitas Griffith Australia Dicky Budiman menilai capaian testing deteksi virus corona (Covid-19) harian pada warga Indonesia masih belum ideal, kendati pemerintah pusat telah mengklaim rata-rata testing Covid-19 harian di Indonesia sudah baik.

Dicky menyebut strategi testing meliputi dua aspek, yakni testing yang disesuaikan dengan skala populasi dan testing sesuai eskalasi pandemi. Ia mengatakan aspek kedua belum terlaksana sepenuhnya oleh sejumlah pemerintah daerah terutama di level kabupaten/kota.

“Untuk aspek eskalasi pandemi, ini di daerah belum. Kalau di nasional terlihat bagus memang mungkin banyak disumbang provinsi-provinsi besar, juga kalau di provinsi disumbang kabupaten/kota yang besar, padahal harus merata di seluruh daerah secara aktif, masif, dan agresif,” kata Dicky dikutip dari CNNIndonesia.com, Selasa (28/9).

Dicky melihat dengan kondisi pandemi di Indonesia yang fluktuatif, maka kabupaten/kota harus melaksanakan testing Covid-19 sesuai panduan Badan Kesehatan Dunia (WHO) dengan standar pemeriksaan 1:1.000 penduduk per pekan.

Selain itu, aktivitas tracing alias penelusuran kontak harus dilakukan semaksimal mungkin. Ia menyebut, tracing tak cukup 1:15, sebab dari 15 kontak yang diperiksa itu kemungkinan besar memiliki kontak erat lainnya yang sudah sewajar nya ikut diperiksa secara agresif.

“Ini akhirnya kita masih bisa melihat terjadi klaster di sekolah, melihat masih ada kasus kematian Covid-19 yang jumlahnya masih ratusan dalam sehari. Itu ya karena tracing belum agresif,” kata dia.

Lebih lanjut, Dicky juga menyoroti penggunaan media testing yang belakangan ini dominan menggunakan rapid test antigen. Sebagaimana diketahui, capaian pemeriksaan Covid-19 di Indonesia terkini dihitung dari hasil pemeriksaan menggunakan metode polymerase chain reaction (PCR) alias tes swab, tes cepat molekuler (TCM), dan rapid test antigen.

Dicky menilai meski rapid test memang sudah mendapat lampu hijau dari WHO sebagai media testing yang diakui, namun tetap saja menurutnya pemerintah harus menyesuaikan media testing dengan kriteria sasaran yang tepat.

“Padahal yang pakai antigen itu pelaku perjalanan yang bisa tes antigen 2-3 kali. Jadi kelihatannya saja testing banyak, padahal orangnya itu-itu saja,” ujar Dicky.

Menteri Koordinator bidang Kemaritiman dan Investasi Luhut Binsar Pandjaitan sebelumnya menyebut, saat ini jumlah testing Indonesia juga sudah cukup tinggi. Menurutnya, rata-rata testing Indonesia sudah mencapai 170 ribu dalam satu hari.

Luhut juga mengatakan rasio kasus positif alias positivity rate Covid-19 di Jawa dan Bali turun menjadi 1 persen selama sepekan terakhir penerapan Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) berbasis level.

“Jadi kalau orang berkomentar itu yang di-testing cuma 30 ribu, sekarang yang di-testing itu tiap hari 170 ribuan per hari, angka itu sudah cukup oke walaupun kami target lebih dari itu,” kata Luhut dalam siaran langsung di Youtube Sekretariat Presiden, Senin (27/9).

Apabila melihat data milik Satuan Tugas Penanganan Covid-19, maka memang terlihat jumlah testing harian Covid-19 di Indonesia konsisten di atas 150 ribu orang yang diperiksa dalam sehari sejak 20 September lalu.

Kendati demikian, pemerintah memang terlihat mulai memperbanyak screening Covid-19 menggunakan metode rapid test antigen ketimbang tes PCR sepanjang Agustus-September ini. Padahal, tes PCR merupakan ‘gold standard’ dari segala jenis pemeriksaan Covid-19 lantaran minim false negatif.

Berdasarkan data yang dirangkum dari laporan harian Satuan Tugas Penanganan Covid-19. Selama periode Maret-Juli, pemerintah lebih banyak menggunakan tes PCR untuk screening. Namun pada dua bulan belakangan, pemerintah lebih banyak menggunakan rapid test antigen dalam laporan hariannya.

Seperti laporan terakhir per 27 September, dari 151.966 orang yang diperiksa dalam sehari, 130.272 di antaranya diperiksa menggunakan rapid test antigen, 21.391 orang menggunakan PCR, dan sisanya 303 orang menggunakan metode TCM.

Untuk proporsi TCM memang dari awal pandemi sedikit digunakan, lantaran TCM lebih mahal dan mesin terbatas, namun memiliki kemampuan mengetahui hasil tes secara cepat dengan hitungan jam. Biasanya, TCM akan digunakan pada pasien yang perlu diketahui segera status Covid-19 nya, seperti pasien suspek Covid-19 yang meninggal.

Editor: Puja Mandela - Apahabar.com


Share :

Baca Juga

PPKM Darurat

Nasional

Pegendalian PPKM Darurat, 4.463 Personel Gabungan Diturunkan
apahabar.com

Nasional

Jokowi: TNI Nomor Satu di Asean, Jangan Diremehkan
apahabar.com

Nasional

Skenario New Normal di Jakarta, Jabar, Sumbar dan Gorontalo
apahabar.com

Nasional

Kubu Prabowo Usulkan Format ‘Tarung’ Bebas, Tengok Tanggapan TKN
apahabar.com

Nasional

24 Tahun Telkomsel: Terus Bergerak Maju dan Komitmen Bangun Ekosistem Digital
apahabar.com

Nasional

Paman Birin: Ustaz Arifin Ilham Putra Terbaik Banua
apahabar.com

Nasional

Deretan Negara yang Sudah Longgarkan Lockdown, Indonesia Kapan?
apahabar.com

Nasional

Pemilu 2019 Hasilkan 124 Juta Cuitan di Twitter Indonesia
error: Dilarang copy paste artikel berita tanpa menyertakan link url : https://apahabar.com