Bantuan Rp 300 Disetop, Puluhan Ribu Keluarga di Banjarmasin Terdampak Fakta Baru! Motif Lain Pembunuhan Paman Es Kandangan di Paramasan OTT Amuntai, Belasan Nama Baru Dua Hari Diperiksa KPK BREAKING! KPK Periksa 10 Nama Terkait OTT Amuntai, dari Sekda hingga Swasta Salah Tangkap Mahasiswa HMI di Barabai, Rafi Boyong Selongsong Peluru ke Polda

Maluku Berpotensi Tsunami, BMKG: Tidak Dipicu Gempa

- Apahabar.com     Jumat, 10 September 2021 - 18:13 WITA

Maluku Berpotensi Tsunami, BMKG: Tidak Dipicu Gempa

Ilustrasi. Foto-Net

apahabar.com, BANJARMASIN – Kepulauan Maluku berpotensi terjadi tsunami. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menyebut, tsunami itu berkemungkinan tidak didahului dengan peristiwa gempa bumi.

Kepala Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), Dwikorita Karnawati mengatakan, tsunami di wilayah kepulauan Maluku itu bisa terjadi dipicu oleh longsor bawah laut, bukan akibat gempa.

Berdasarkan hasil penelusuran dan verifikasi zona bahaya yang dilakukan BMKG, potensi longsor laut di wilayah Pulau Seram, Maluku Tengah, cukup besar. Pasalnya, daerah itu memiliki laut dalam dengan tebing-tebing curam yang sangat rawan longsor di sepanjang garis pantai pulau itu.

“Gempa menjadi trigger terjadinya longsor yang kemudian menyebabkan gelombang. Dalam pemodelan, dapat disimpulkan apakah berpotensi menimbulkan tsunami atau tidak. Bisa saja tidak, tapi ternyata gempa tersebut malah membuat longsor bawah laut yang kemudian memicu tsunami,” ungkap Dwikorita seperti dikutip dari CNNIndonesia.com, Jumat (10/9).

Pada kunjungannya ke Pulau Seram, Dwikorita mengunjungi Negeri Samasuru, Negeri Amahai, Kota Masohi, dan Negeri Tehoru.

Di wilayah tersebut, Dwikorita dan tim BMKG bekerja bersama Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) setempat, Kepala Pusat Studi Bencana Alam Universitas Pattimura, dan Peneliti dari Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) dan Badan Geologi.

Mereka melakukan verifikasi peta bahaya dan menyusuri jalur evakuasi,juga secara langsung mendengar kesaksian dan cerita warga tentang terjadinya gempa dan tsunami masa lalu.

“Di Negeri Tehoru saya melihat langsung jejak tanah yang longsor ke laut. Di Samsuru, warga setempat bahkan telah melakukan perhitungan kedalaman laut dari batas bibir pantai. Jarak 3 meter dari bibir pantai, kedalaman laut sudah mencapai 23 meter,” ujar Dwikorita.

Dwikorita berpendapat sampai saat ini belum ada negara yang mampu mendeteksi tsunami non tektonik secara cepat, tepat dan akurat. Sistem peringatan dini yang dibangun negara-negara lain di dunia adalah sebuah sistem peringatan dini tsunami tektonik.

Sampai saat ini yang bisa dilakukan dalam upaya memberi peringatan tsunami adalah memantau muka air laut dengan buoy atau tide gauge. Namun, cara tersebut dirasa kurang efektif karena alat tersebut baru bisa memberi informasi setelah tsunami terjadi. Jadi sudah terlambat saat alat tersebut memberikan peringatan, tsunami sudah datang, lanjut Dwikorita.

Dwikorita meminta masyarakat yang bermukim di sepanjang garis pantai di Pulau Seram untuk sesegera mungkin melakukan evakuasi mandiri, apabila merasakan guncangan tanah atau gempa bumi, tanpa harus menunggu peringatan dini dari BMKG.

“Karena dipicu oleh longsoran bawah laut maka estimasi waktu kedatangan tsunami bisa sangat cepat. Hanya dalam hitungan kurang dari 3 menit, seperti yang terjadi di Palu, Sulawesi Tengah,” ujar Dwikorita.

Berdasarkan pengalaman, masyarakat diminta untuk tidak menunggu peringatan dini tsunami. Dwikorita mengimbau masyarakat untuk segera lari begitu merasakan getaran tanah atau gempa. Lalu menjauhi pantai dan segera lari ke bukit-bukit atau tempat yang lebih tinggi.

Lebih lanjut Dwikorita mengatakan bahwa Kepulauan Maluku memiliki sejarah panjang gempa bumi dan tsunami. Oleh karenanya, Ia berharap Pemerintah Daerah dengan pihak terkait dapat melakukan berbagai upaya mitigasi guna mengurangi dampak dan risiko kerugian, jika sewaktu-waktu bencana gempa dan tsunami terjadi.

“Masyarakat harus terus dilatih sehingga tahu apa yang harus dilakukan saat bencana terjadi, disamping penyiapan tempat evakuasi yang secepat mungkin dapat dicapai, melalui jalur-jalur evakuasi yang aman yang disertai rambu-rambu yang jelas,” pungkasnya.

Editor: Muhammad Bulkini - Apahabar.com


Share :

Baca Juga

apahabar.com

Nasional

Perkembangan Terbaru Uji Klinis 5 Vaksin Covid-19, Mana Paling Potensial?
Hari Pramuka

Nasional

Sejarah Hari Pramuka 14 Agustus di Indonesia
apahabar.com

Nasional

Kuasai Ribuan Hektar Lahan, Prabowo: Lebih Baik daripada Jatuh ke Tangan Asing!
apahabar.com

Nasional

Update 8 Oktober: 11.580 Orang Meninggal Akibat Covid-19 di Indonesia

Nasional

Belasan Juta Jiwa Penduduk Indonesia Telah Divaksinasi Dosis Pertama
apahabar.com

Nasional

Ingin Tolong Teman, 2 Santri Terseret Air Bah, 1 Tewas dan 1 Hilang

Nasional

Data Nasabah Bocor, Kominfo Panggil Direksi BRI Life
apahabar.com

Nasional

BJ Habibie Wafat, Bupati HST Serukan Pengibaran Bendera Setengah Tiang
error: Dilarang copy paste artikel berita tanpa menyertakan link url : https://apahabar.com