Heboh! Polisi Kotabaru Gerebek Perusahaan Jasa Penagih Hutang Pinjol Setelah DMI Kalsel, Giliran Satgas Soroti Saf Rapat Al-Jihad Status PPKM Kotabaru Naik Level 3, Kadinkes Beberkan Penyebabnya Jelang Peresmian, Penutupan Total Jembatan Sei Alalak Tunggu Instruksi Paspampres Viral! Video Sepasang Muda-Mudi Diduga Berbuat Mesum, Polres HST Turun Tangan

Pejabat Tinggi Inggris Dituduh Islamofobia

- Apahabar.com     Sabtu, 18 September 2021 - 12:07 WITA

Pejabat Tinggi Inggris Dituduh Islamofobia

Sekretaris Negara untuk Digital, Budaya, Media, dan Olahraga Inggris Nadine Dorries. Foto-Istimewa

apahabar.com, JAKARTA – Sekretaris Negara untuk Digital, Budaya, Media, dan Olahraga Inggris Nadine Dorries dituding memiliki prasangka buruk terhadap Islam atau Islamofobia.

Hal tersebut terungkap saat Dorries menyampaikan pandangannya terhadap terhadap wanita Muslim dan burqa sebagai aturan berpakaian abad pertengahan.

Seperti diketahui, perempuan berusia 64 tahun merupakan salah satu pejabat senior pemerintah yang masuk dalam bursa reshuffle atau perombakan kabinet Perdana Menteri Boris Johnson.

Seperti Johnson, Dorries juga memiliki sejarah dalam pernyataan-pernyataannya yang seringkali kontroversial.

Pada 2018 misalnya, Johnson saat ini duduk sebagai anggota parlemen, dia menulis di kolom surat kabar di Inggris, bahwa burqa itu dinilai sebagai bentuk ‘penindasan’ dan para wanita yang mengenakannya tampak seperti ‘perampok bank’ dan ‘kotak surat’. Dorries pun menyerukan larangan penggunaan penuh cadar wajah.

Sebagai gambaran, burqa secara umum lebih dikenal sebagai pakaian muslimah yang menutupi bagian tubuh, yakni dari ujung kepala hingga ujung kaki. Tentu saja, hal ini berbeda dari mereka yang mengenakan niqab atau cadar yang hanya memperlihatkan bagian mata atau mata dan dahi saja.

“Saya sangat kecewa pada Boris bahwa dia tidak melangkah lebih jauh dan benar-benar menggunakan artikel surat kabar itu untuk menyerukan larangan total terhadap aturan berpakaian – aturan berpakaian abad pertengahan – yang dirancang untuk menutupi kecantikan wanita,” ujar Dirries seperti dikutip Al Jazeera, Sabtu (18/9/2021).

Tak lama dari pernyataan Johnson mencuat ke publik, Dorries juga berbagi pandangannya melalui akun Twitter pribadinya.

“Anda tidak dapat mengharapkan masyarakat yang merayakan kebanggaan gay dan merangkul pernikahan gay untuk hidup harmonis ketika memaafkan penindasan perempuan yang dipaksa untuk menutupi, memisahkan dan menjadi tidak terlihat,” ujar Dorries.

Ketika ditantang oleh pengguna Twitter Aleesha Khaliq, Dorries merujuk pada wanita Muslim yang mengenakan burqa di Inggris.

“Mereka dipisahkan dan ditekan. Ini adalah kostum abad pertengahan tanpa tempat di masyarakat liberal saat ini. Tidak ada negara progresif yang harus mentolerirnya,” kata Dorries lagi melalui cuitannya.

Padahal dari sekitar 3 juta umat Muslim di Inggris, hanya sedikit wanita yang mengenakan cadar, meskipun tidak ada data statistik secara resmi.

Namun, pakaian yang dilarang di tempat lain di Eropa ini terkadang menarik perhatian nasional, ketika politisi atau tokoh masyarakat mengomentarinya.

Khaliq yang merupakan seorang jurnalis, mengatakan kepada Al Jazeera bahwa pernyataan Dorries sangat mengecewakan, namun tidak mengejutkan.

“Kami memiliki Boris Johnson yang telah membuat komentar Islamofobia dan sekarang Dorries (sebagai sekretaris budaya). Kami telah melegitimasi Islamofobia dari atas ke bawah begitu lama sehingga sekarang menjadi normal,” ujarnya.

“Ini berbahaya karena dia aktif menganjurkan pelarangan burqa. Sangat mengkhawatirkan bahwa seorang tokoh senior pemerintah dapat mendikte apa yang dipilih oleh sebagian kecil wanita untuk dipakai. Apakah dia akan mengungkitnya lagi?,” ujar Khaliq lagi.

Sayangnya, saat berita ini diturunkan, Dorries belum menanggapi permintaan komentar Al Jazeera.

Seorang peneliti di Pusat Penelitian Stephen Lawrence Universitas De Montfort, Fatima Rajina mengatakan pernyataan Dorries sesuai dengan budaya di dalam partai konservatif.

“Ide masyarakat liberal didasarkan pada pilihan namun ketika wanita Muslim secara aktif memilih untuk mengenakan pakaian yang selaras dengan ekspresi agama mereka, pilihan ini tiba-tiba dibingkai dalam biner ‘modern’ vs ‘abad pertengahan’.”

“Perang budaya yang dibuat-buat ini bergantung pada Muslim dan orang-orang rasial lainnya untuk membangkitkan relevansi para politisi yang tampaknya tidak kompeten,” jelas Rajina.

Editor: Puja Mandela - Apahabar.com


Share :

Baca Juga

apahabar.com

Internasional

Tak Ingin Kalah, Israel Berencana Halangi Qatar Miliki Pesawat F-35 dari AS
Benny Wenda

Internasional

Benny Wenda Deklarasi Papua Merdeka, Pemerintah RI Jangan Diam!
apahabar.com

Internasional

Tangani Pandemi Covid-19 Lebih Baik, Sistem Kesehatan Turki Dipuji
apahabar.com

Internasional

Positif Covid-19, Presiden AS Donald Trump Dipindahkan ke Pusat Medis Militer

Internasional

Astaga, Pasukan AS Bagikan Makanan Mengandung Babi ke Pengungsi Afghanistan
Gempa di Sichuan China

Internasional

Gempa di Sichuan China, Tiga Tewas Ribuan Dievakuasi

Internasional

Komisioner HAM PPB Soroti Pelanggaran Taliban
Uranium

Internasional

Tiga Negara Eropa Kecam Produksi Uranium Iran
error: Dilarang copy paste artikel berita tanpa menyertakan link url : https://apahabar.com