Dikira Orang Mabuk, Ternyata Api Mengamuk di Komet Banjarbaru Tanpa Naturalisasi, Berikut Pemain Tambahan Timnas Indonesia di Piala AFF 2020 Kartu Prakerja Lanjut di 2022, Anggaran Rp 11 Triliun Disiapkan Nyangkut Jembatan Lagi, Damkar Banjar Turun Tangan Atasi Rumpun Bambu Longsor Kotabaru Tewaskan 4 Warga Maradapan, Cek Faktanya

Belajar Tatap Muka, Kini Tak Sekadar Wacana

- Apahabar.com     Sabtu, 30 Oktober 2021 - 08:53 WITA

Belajar Tatap Muka, Kini Tak Sekadar Wacana

Ilustrasi belajar tatap muka. Foto-Pintek.com

Oleh: Hadi Rahman, S.Pd

Sebagian sekolah di Indonesia sudah mulai menerapkan pembelajaran tatap muka (PTM) secara terbatas. Kebijakan itu mulai diterapkan karena pemerintah melihat adanya tren penurunan kasus Covid-19 di Indonesia.

Seperti diketahui, sejak pandemi menghantam kita, pemerintah mengeluarkan kebijakan di sektor pendidikan yang mengharuskan proses belajar-mengajar digelar secara daring. Banyak masalah yang terjadi di sana. Dari masalah jaringan, keterbatasan gadget yang dimiliki pelajar, hingga faktor lain seperti belum terbiasanya sebagian guru dan murid menjalankan proses belajar mengajar daring.

Kini, PTM bukan sekadar impian. Dengan program vaksinasi yang terus dijalankan, secara perlahan pemerintah sudah mengizinkan digelarnya pembelajaran tatap muka. Di Kabupaten Tanah Bumbu, misalnya, PTM sudah digelar 50 persen untuk sekolah negeri. Hanya SLTA yang belum menggelar belajar secara langsung.

Selain guru dan murid yang harus divaksinasi, tentu aturan lainnya yang harus tetap menjadi perhatian adalah fasilitas protokol kesehatan di sekolah. Sebab walau bagaimana pun, kita tak boleh lengah, meskipun belakangan tren kasus Covid-19 di sejumlah wilayah di Indonesia mulai menurun.

Soal protokol kesehatan ini juga perlu konsistensi, mengingat masih adanya ancaman Covid-19 varian Delta. Mengutip detikcom, varian Delta Plus AY.4.2. memicu peningkatan kasus Covid-19 di sejumlah negara dan mulai merebak ke negara-negara Asia.

Baru-baru ini, varian itu juga ditemukan di Singapura. Direktur Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Menular Langsung (P2PML) dr. Siti Nadia Tarmizi sudah mengingatkan masyarakat agar tetap waspada terhadap varian ini. Apalagi gelombang ketiga Covid-19 juga diprediksi akan terjadi.

Di situlah pentingnya kita menjaga konsistensi untuk menerapkan protokol kesehatan. Tetap waspada dengan mencuci tangan pakai sabun, memakai masker, dan menjaga jarak. Hal lain yang perlu menjadi atensi adalah saat ada warga menggelar hajatan yang berpotensi menyebabkan kerumunan.

Tapi sayangnya tak sepenuhnya masyarakat kita sadar akan hal ini. Sebagai contoh, saat pemerintah menerapkan PPKM level 3 dan 4, masih banyak warga yang melanggar protokol kesehatan. Begitu pun di sekolah. Masih ada saja sekolah yang melakukan pembelajaran tatap muka di tengah PPKM level 3 ataupun 4.

Untuk tetap menjaga konsistensi ini, sebenarnya pihak sekolah bisa ikut membantu pemerintah. Apalagi mereka memiliki dana bantuan operasional sekolah (BOS) yang bisa digunakan untuk mengakomodir kebutuhan pembelajaran di masa pandemi, baik pembelajaran daring maupun pembelajaran tatap muka.

Untuk menyiapkan kebutuhan untuk pembelajaran tatap muka, dana BOS bisa digunakan untuk membeli sabun cuci tangan, hand sanitizer, thermogun, cairan pembasmi kuman (disinfektan), dan juga masker. Sedang untuk kebutuhan pembelajaran daring, dana BOS bisa digunakan untuk pembelian pulsa, paket data dan layanan pendidikan daring lainnya.

Dengan cara ini harapan untuk menggelar PTM secara maksimal sudah di depan mata. Apalagi jika herd immunity sudah terpenuhi. Tak akan ada lagi guru yang galau karena jaringan lelet, aplikasi eror, atau pelajar yang tak bisa ikut belajar karena tidak punya gawai. Tak akan ada lagi keluhan-keluhan guru yang kesulitan mengajar karena sambil mengurus anak dan rumah tangga.

Ke depan, hal ini masih menjadi tugas kita bersama. Pemerintah dan masyarakat, dari tingkat provinsi, kabupaten, kecamatan, sampai desa, harus bahu-membahu untuk menjaga konsistensi untuk patuh terhadap protokol kesehatan sembari menunggu terciptanya kekebalan komunitas.

Ketika peraturan itu kita laksanakan dengan konsisten, kita harus optimis penyebaran Covid-19 bisa berkurang. Dengan berkurangnya penyebaran Covid-19, harapan kita untuk sekolah segera bisa melaksanakan pembelajaran tatap muka secara maksimal tanpa adanya kekhawatiran berlebih terhadap Covid-19 benar-benar bisa terwujud.

Dan pada akhirnya, yang tak kalah penting, selain konsisten menjalankan protokol kesehatan sebagai bentuk ikhtiar atau usaha kita, tentu juga doa selalu kita panjatkan kepada Tuhan sebagai bentuk tawakal kita.

*
Penulis adalah Guru SMPN 2 Batulicin, Tanah Bumbu.

Editor: Puja Mandela - Apahabar.com


Share :

Baca Juga

apahabar.com

Opini

Kisah Desaku: Tolak Bala Cegah Corona

Opini

Demam Korea “KPOPERS” di Tengah Covid-19
apahabar.com

Opini

Poin Angka Kredit, Ketidakadilan Guru, dan Munculnya Penulis Bayaran
apahabar.com

Opini

Menakar Efektivitas dan Dampak Perppu Nomor 2 Tahun 2020
apahabar.com

Opini

Menyoal Pelayanan RSUD
Nadiem Makarim

Opini

Nadiem Makarim, ‘Tatangguhan’, dan Persiapan Masa Depan
apahabar.com

Opini

Polemik Ruu Cipta Kerja Dilihat dari Asas Transparansi
apahabar.com

Opini

Indonesia Lockdown: Melawan Virus Covid-19 dan RUU Omnibus Law
error: Dilarang copy paste artikel berita tanpa menyertakan link url : https://apahabar.com