Jembatan Alalak Megaproyek Terakhir Kalsel? Habib Banua: Dirjen Permalukan Presiden Gara-Gara Ratusan Ribu, Istri di Kandangan Coba Akhiri Hidup Terapkan PPKM Level II, Pasien Covid-19 Tanbu Kini Tersisa 11 Orang Detik-Detik Laka Maut Sepagar Kotabaru yang Tewaskan Reski dan Ibunya Kabar Duka, Mantan Atlet Panahan Putri Andalan Kalsel Tutup Usia

Dolar Naik Terhadap Yen, Saham Asia Melemah Tertekan Kecemasan Inflasi

- Apahabar.com     Senin, 11 Oktober 2021 - 09:28 WITA

Dolar Naik Terhadap Yen, Saham Asia Melemah Tertekan Kecemasan Inflasi

Pejalan kaki melintas di depan layar elektronik pergerakan Indeks Nikkei di Bursa Efek Tokyo, Jepang. Foto-Reuters/Kim Kyung-Hoon via Antara/am

apahabar.com, SYDNEY – Saham-saham Asia melemah pada perdagangan Senin (11/10) pagi, karena kecemasan inflasi global mendukung komoditas sebagai lindung nilai atas ekuitas AS.

Sementara kenaikan imbal hasil obligasi AS mengangkat dolar ke puncak dua setengah tahun terhadap yen Jepang.

Indeks berjangka Nasdaq dan S&P 500 keduanya turun sekitar 0,5 persen di awal perdagangan, karena harga minyak memperpanjang kenaikannya.

“Imbal hasil obligasi terus didorong lebih tinggi, ekspektasi inflasi meningkat dan pengetatan moneter dalam berbagai bentuk menjadi lebih umum,” kata analis ANZ dalam sebuah catatan seperti dilansir Antara.

“Kekurangan chip global akan berlanjut hingga tahun depan, menambah ketidakpastian lebih lanjut pada pemulihan yang tidak merata,” kata mereka. “Ditambah kekurangan energi, dan lanskap ekonomi secara material lebih moderat daripada optimisme yang menyertai tahap awal pemulihan global.”

Indeks MSCI dari saham Asia Pasifik di luar Jepang turun 0,2 persen dan indeks acuan Australia melemah 0,9 persen. Sementara itu, indeks Nikkei Jepang kehilangan 0,5 persen setelah anjlok 2,5 persen minggu lalu.

Musim laporan laba emiten dimulai minggu ini dan kemungkinan akan membawa cerita tentang gangguan pasokan dan kenaikan biaya-biaya. JPMorgan melaporkan pada Rabu (13/10), diikuti oleh BofA, Morgan Stanley dan Citigroup pada Kamis (14/10), dan Goldman pada Jumat (15/10).

Fokusnya juga akan pada inflasi AS dan data penjualan ritel, serta risalah pertemuan terakhir Federal Reserve yang akan mengkonfirmasi bahwa tapering November telah dibahas.

Sementara angka penggajian utama AS pada Jumat (8/10) mengecewakan, data itu sebagian karena pembukaan kembali masalah-masalah dalam pendidikan negara bagian dan lokal sementara pekerjaan sektor swasta lebih kuat.

Memang, dengan kurangnya tenaga kerja yang mendorong tingkat pengangguran turun menjadi 4,8 persen, investor lebih khawatir tentang risiko inflasi upah dan mendorong imbal hasil obligasi pemerintah naik tajam.

Imbal hasil obligasi 10-tahun diperdagangkan naik 1,61 persen, setelah melonjak 15 basis poin minggu lalu dalam kenaikan terbesarnya sejak Maret.

Obligasi juga dijual di Asia dan Eropa, dengan imbal hasil jangka pendek di Inggris mencapai level tertinggi sejak Februari 2020.

Analis di BofA memperingatkan denyut inflasi global akan diperburuk oleh biaya energi dengan minyak berpotensi melampaui 100 dolar AS per barel di tengah pasokan terbatas dan permintaan pembukaan kembali yang kuat.

Pemenang dalam skenario seperti itu adalah aset-aset riil, real estat, komoditas, volatilitas, uang tunai, dan pasar negara-negara berkembang, sementara obligasi, kredit, dan saham akan terpengaruh secara negatif.

BofA merekomendasikan komoditas-komoditas sebagai lindung nilai dan sumber daya tercatat menyumbang 20-25 persen dari indeks ekuitas utama di Inggris, Australia dan Kanada; 20 persen di pasar negara-negara berkembang; 10 persen di zona euro, dan hanya 5,0 persen di Amerika Serikat, China dan Jepang.

Dolar mendapat dukungan karena imbal hasil AS melampaui imbal hasil di Jerman dan Jepang, mengangkatnya ke level tertinggi sejak April 2019 terhadap yen di 112,27.

Euro melayang di 1,1566 dolar, setelah mencapai level terendah sejak Juli tahun lalu di 1,1527 dolar minggu lalu. Indeks dolar bertahan di 94.158, tak jauh dari puncak baru-baru ini di 94.504.

Dolar yang lebih kuat dan imbal hasil yang lebih tinggi telah membebani emas, yang tidak menawarkan pengembalian tetap, dan meninggalkannya di 1.753 dolar AS per ounce.

Harga minyak naik lagi setelah melonjak 4,0 persen minggu lalu ke level tertinggi dalam hampir tujuh tahun. Brent naik 25 sen menjadi 82,64 dolar AS per barel, sementara minyak mentah AS naik 41 sen menjadi 79,76 dolar AS per barel.

Editor: Aprianoor - Apahabar.com


Share :

Baca Juga

Harga Minyak

Ekbis

Usai Penarikan Besar dalam Persediaan AS, Harga Minyak Melonjak
Banjarmasin

Ekbis

Terapkan ISO 37001, bank bjb Gaungkan Komitmen Anti-Suap
apahabar.com

Ekbis

Emas Menguat Pasca Donald Trump Tawarkan Stimulus Lawan Covid-19

Ekbis

Dapat Suntikan Semangat Ridwan Kamil, bank bjb Siap Optimalkan Potensi Ekonomi jabar

Ekbis

Setelah Kenaikan Selama 3 Hari, Harga Minyak Turun
apahabar.com

Ekbis

Pertamina Tak Pasok BBM ke SPBU, Jika…
apahabar.com

Ekbis

Kekhawatiran Lonjakan Kedua Covid-19, Harga Emas Naik, Dolar AS Melemah
BLK Tanah Bumbu

Ekbis

Siap-Siap! BLK Tanah Bumbu Buka Pelatihan Kerja Gratis, Intip Syaratnya
error: Dilarang copy paste artikel berita tanpa menyertakan link url : https://apahabar.com