Dugaan Tambang Ilegal di Mangkalapi, Kapolres Tegaskan Hanya 1 Tersangka! Akhirnya, Buronan Pelaku Penggelapan Motor Scoopy di HST Diringkus Tim Resmob Grand Launching RSI Sultan Agung Banjarbaru, Terapkan Layanan Bersyariat Islam Via Jamela, KPK Dalami Keperluan Pribadi Bupati HSU 5 Kali HST Diterjang Banjir, Mitigasi Mestinya Dicermati Pemkab

Fenomena La Nina, Curah Hujan Meningkat Jelang Akhir Tahun

- Apahabar.com     Jumat, 29 Oktober 2021 - 07:31 WITA

Fenomena La Nina, Curah Hujan Meningkat Jelang Akhir Tahun

Ilustrasi, La Nina. Foto-Net

apahabar.com, JAKARTA – Berkaca dari kejadian La Nina tahun lalu, hasil kajian BMKG memprediksi bakal kembali terjadi tahun ini. Peningkatan curah hujan bulanan berkisar antara 20-70 persen di atas normalnya.

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengimbau warga di berbagai daerah di Indonesia, untuk waspada terhadap fenomena La Nina, yang menyebabkan curah hujan meningkat jelang akhir tahun.

Mengutip Liputan6.com, Jumat (29/10), info dari laman BMKG menyebut, berdasarkan monitoring perkembangan data terbaru suhu permukaan laut di Samudera Pasifik bagian tengah dan timur, saat ini nilai anomali telah melewati ambang batas La Nina, yaitu sebesar -0.61 pada Dasarian I Oktober 2021.

Kondisi itu, kata Kepala BMKG Dwikorita Karnawati, akan terus berkembang dan masyarakat perlu bersiap dan terus waspada dengan kehadiran La Nina tahun ini yang diprakirakan akan berlangsung dengan intensitas lemah-sedang, setidaknya hingga Februari 2022.

“Maka perlu kewaspadaan dan kesiapsiagaan terhadap potensi lanjutan dari curah hujan tinggi, yaitu bencana hidrometeorologi,” katanya.

Dwikorita juga mengingatkan pemerintah daerah, masyarakat, dan semua pihak terkait, soal pengurangan risiko dan dampai bencana yang sewaktu-waktu bisa terjadi. Pemda perlu mengambil langkah sigap menyiapkan langkah pencegahan dan mitigasi terhadap potensi bencana hidrometeorologi, antara lain banjir, longsor, banjir bandang, angin kencang atau puting beliung, maupun badai tropis.

Sementara itu, berdasarkan data jejaring stasiun pengamatan hujan BMKG yang ada di seluruh wilayah Indonesia, hingga Dasarian I (sepuluh hari pertama) Oktober 2021, sebanyak 19,3 persen wilayah di Indonesia sudah memasuki musim hujan. Antara lain Aceh bagian tengah, Sumatera Utara, sebagian besar Riau, Sumatera Barat, Jambi, sebagian besar Sumtera Selatan, Lampung bagian barat, Banten bagian timur, Jawa Barat bagian selatan, Jawa Tengah bagian barat, sebagian kecil Jawa Timur bagian selatan, sebagian Bali, Kalimantan Utara, sebagian besar Kalimantan Timur, Kalimantan Selatan bagian selatan dan timur, Kalimantan tengah bagian timur, Pulau Taliabu, dan Pulau Seram bagian selatan.

BMKG juga menyebut, daerah-daerah yang telah memasuki periode musim hujan pada Oktober ini meliputi wilayah Aceh bagian timur, Riau bagian tenggara, Jambi bagian barat, Sumatera Selatan bagian tenggara, Bangka Belitung, Banten bagian barat, Jawa Barat bagian tengah, Jawa Tengah bagian barat dan tengah, sebagian DI Yogyakarta dan sebagian kecil Jawa Timur, Kalimantan Tengah bagian timur, Kalimantan Selatan, Kalimantan Timur, dan Kalimantan Utara.

Sedangkan beberapa wilayah Indonesia lainnya, akan memasuki musim hujan pada November hingga Desember 2021 secara bertahap dalam waktu yang tidak bersamaan. Namun secara umum, sampai November 2021 diprakirakan 87,7 persen wilayah Indonesia telah memasuki musim hujan. Kemudian pada akhir Desember 2021, BMKG memprakirakan 96,8 persen wilayah Indonesia telah memasuki musim hujan. Sementara periode puncak musim hujan diprediksi akan dominan terjadi pada Januari dan Februari 2022.

Plt Deputi Bidang Klimatologi Urip Haryoko mewanti-wanti warga untuk selalu waspada, pasalnya pada Oktober ini beberapa wilayah di Indonesia, antara lain di Pulau Jawa, Bali, Nusa Tenggara, dan Sulawesi Selatan tengah mengalami periode transisi, atau peralihan musim, dari musim kemarau ke musim hujan.

“Pada periode peralihan musim ini, sering muncul fenomena cuaca ekstrem, seperti hujan lebat, angin puting beliung, angin kencang meskipun periodenya singkat tapi sering memicu terjadinya bencana hidrometeorologi,” katanya.

Editor: Muhammad Bulkini - Apahabar.com


Share :

Baca Juga

Nasional

Chacha Eks Trio Macan Meninggal Dunia, Simak Kronologis Kecelakaan Dialaminya
apahabar.com

Nasional

Jokowi Minta Puskesmas Diperkuat Bantu Tangani Covid-19
apahabar.com

Nasional

Alasan Febri Mundur dari KPK: Kondisi Politik dan Hukum Telah Berubah bagi KPK

Nasional

Daerah Sebaran Varian Delta Dapat Alokasi Vaksin Tambahan
apahabar.com

Nasional

Masih Buron, KPK Minta Penyuap Komisioner KPU Serahkan Diri
apahabar.com

Nasional

Kerumunan Petamburan dan Tebet, 80 orang positif Covid-19

Nasional

Video Periksa HP Warga Viral, Aipda Ambarita Dimutasi!
apahabar.com

Nasional

Mengenal Cuncung Syafruddin H Maming, Dari Senayan Menuju Tanbu-1
error: Dilarang copy paste artikel berita tanpa menyertakan link url : https://apahabar.com