Jurkani Dibacok, Tim Macan Kalsel Turun Gunung Advokat Jurkani Dibacok OTK di Angsana Menguji Klaim Jembatan Sei Alalak Antigempa hingga Tahan Seabad Gara-Gara Ratusan Ribu, Istri di Kandangan Coba Akhiri Hidup Dari Viralnya Aksi Istri di Kandangan Coba Akhiri Hidup, Ketahanan Keluarga Kian Rentan

Harga Minyak Gila-gilaan, Dolar Capai Level Tertinggi

- Apahabar.com     Rabu, 13 Oktober 2021 - 07:46 WITA

Harga Minyak Gila-gilaan, Dolar Capai Level Tertinggi

Investor memperhitungkan bahwa lonjakan harga energi akan memicu inflasi dan menambah tekanan pada Fed untuk mengambil tindakan lebih cepat dari yang diperkirakan. Foto: Detik.com

apahabar.com, JAKARTA – Dolar mencapai level tertinggi di tengah kekuatiran atas melonjaknya harga minyak.

Investor memperhitungkan bahwa lonjakan harga energi akan memicu inflasi dan menambah tekanan pada Fed untuk mengambil tindakan lebih cepat dari yang diperkirakan.

“Fokus saat ini adalah suku bunga obligasi pemerintah,” kata Joseph Trevisani, analis senior di FXStreet.com dilansir dari Antara, Rabu pagi (13/10).

Pasar-pasar kredit, kata dia, sedang mengantisipasi dimulainya tapering.

“Saya kira, pada November.”

Investor disebut akan mengamati data Indeks Harga Konsumen AS pada Rabu waktu setempat dan data penjualan ritel pada Jumat (15/10) guna mengetahui tentang kapan Fed mulai mengurangi stimulusnya.

“Datanya akan sangat besar,” kata Joe Manimbo, analis pasar senior di Western Union Business Solutions.

Angka-angka itu akan berbicara tentang prospek inflasi, serta sejauh mana pertumbuhan kuartal ketiga.

“Jadi, jika kita mendapatkan informasi lain tentang inflasi besok, itu akan cenderung memperkuat tapering tahun ini,” ujarnya.

Dan, mungkin saja menyebabkan pasar menyempurnakan ekspektasi saat investor bisa melihat kenaikan suku bunga.

Indeks dolar yang mengukur greenback terhadap sekeranjang mata uang utama dilaporkan menyentuh 94,563 atau tertinggi sejak akhir September 2020.

Lonjakan imbal hasil AS mendorong investor untuk membuang yen Jepang terhadap dolar, yang mengakibatkan penurunan harian terbesar kedua dalam mata uang Jepang pada Senin (11/10).

Karena imbal hasil obligasi pemerintah naik lebih lanjut pada Selasa (12/10), dolar mencapai level tertinggi tiga tahun versus yen, yang telah jatuh 4,0 persen versus greenback dalam tiga minggu.

Dolar juga menguat terhadap euro, dengan mata uang bersama turun 0,23 persen pada 1,1525 dolar AS, terendah sejak Juli 2020 karena kenaikan harga energi memicu kekhawatiran inflasi yang dapat menghambat pertumbuhan ekonomi.

Adapun minyak melewati 84 dolar AS per barel, mendekati level tertinggi tiga tahun, karena rebound permintaan global setelah pandemi terburuk menyebabkan lonjakan harga dan kekurangan sumber energi lain.

Batu bara telah mencapai rekor tertinggi dan harga gas tetap empat kali lebih tinggi di Eropa dibandingkan pada awal 2021.

Sebelumnya, krisis energi telah mendorong harga minyak mencapai rekor tertinggi dalam tujuh tahun di Amerika Serikat pada minggu ini.

Bank of America baru-baru ini bahkan memperkirakan bahwa musim dingin dapat mendorong harga minyak mentah patokan global, Brent menembus level US$ 100 per barel. Harga minyak belum pernah setinggi itu sejak 2014.

Editor: Fariz Fadhillah - Apahabar.com


Share :

Baca Juga

apahabar.com

Ekbis

Industri Manufaktur Kalsel per Quarter Tumbuh Positif di Triwulan III 2019

Ekbis

Saingi Malaysia, Hipmi-ULM Kembangkan “Coklat Pasak Bumi”
IHSG

Ekbis

Bursa Saham Asia Naik, IHSG Awal Pekan Ikut Menguat
apahabar.com

Ekbis

Susul Google, Apple Pun Tutup Sejumlah Kantor di China
Batu Bara PLN

Ekbis

Batu Bara PLN Merosot, Pemadaman Massal Intai Kalsel
aopahabar.com

Ekbis

Warga Penajam Nikmati Jargas, Pertamina: Lebih Ekonomis
apahabar.com

Ekbis

Jokowi: Persoalan Keuangan Jiwasraya Sudah Lebih 10 Tahun dan Bukan Masalah Ringan
apahabar.com

Ekbis

Sentimen Pemulihan Ekonomi di Tengah Pandemi, Dongkrak Penguatan Rupiah
error: Dilarang copy paste artikel berita tanpa menyertakan link url : https://apahabar.com