KPK Telisik Keperluan Pribadi Bupati HSU, Jamela Beri Klarifikasi Lantik Sekdakot Banjarmasin, Ibnu Sina Beri Ikhsan Budiman Sederet PR Bukan Pepesan Kosong, Kades Se-Amuntai Sweeping Truk Conch! Terkesan Plin-plan, PPKM Level 3 Nataru Batal, Kalsel Perlu Lakukan Ini Truk Conch Disweeping di Amuntai, Kapolres HSU Buka-bukaan

Hindari Krisis Energi, Indonesia Harus Tingkatkan Produksi Migas

- Apahabar.com     Sabtu, 23 Oktober 2021 - 22:07 WITA

Hindari Krisis Energi, Indonesia Harus Tingkatkan Produksi Migas

Lapangan Migas Pangkah milik PGN Saka berhasil menambahkan produksi migas menjadi 13.000 BOEPD. Foto-Antara

apahabar.com, JAKARTA – Industri minyak dan gas (migas) masih menjadi komoditas utama menggerakkan perekonomian dunia terutama mengatasi krisis energi global.

Sehingga peningkatan produksi dan persiapan kapasitas cadangan migas nasional menjadi upaya untuk menghindari krisis energi.

Sekretaris Eksekutif I Kementerian Koordinator Perekomian, Raden Pardede, mengatakan salah satu kontributor krisis energi saat ini akibat mulai ditinggalkannya industri fosil oleh investor, bank, dan pasar modal karena mereka beralih ke energi hijau, sedangkan transisi energi justru belum siap.

“Indonesia harus well-planned karena krisis energi yang terjadi bagian transisi yang kurang matang dilakukan dunia. Kita perlu belajar mumpung masih ada waktu dan belum terjadi krisis energi,” kata Raden Pardede dalam keterangan yang dikutip di Jakarta, Sabtu (23/10) dilansir Antara.

Dalam Strategi Raya Energi Nasional (GSEN), pemerintah berupaya mewujudkan ketahanan dan kemandirian nasional salah satunya meningkatkan produksi minyak sebesar 1 juta barel per hari dan akuisisi lapangan minyak di luar negeri untuk kebutuhan kilang.

Sepanjang 2019-2021, pencapaian nilai penggunaan produk dalam negeri (TKDN) terhadap biaya didominasi jasa dengan capaian sebesar 66 persen dan industri barang hanya 20 persen.

Sementara itu, pandemi Covid-19 telah mengoreksi penjualan industri penunjang lebih dari 50 persen.

Pemerintah terus meningkatkan kandungan TKDN di industri hulu migas dengan menerapkan sejumlah strategi, di antaranya pengadaan bersama, asset/inventory transfer, sosialisasi penggunaan produk dalam negeri yang fit to purpose dan evaluasi rencana penggunaan barang impor.

Kepala Divisi Pengelolaan Rantai Suplai dan Analisis Biaya SKK Migas Erwin Suryadi memaparkan bahwa industri hulu migas terus meningkat TKDN.

Dia menegaskan produk dalam negeri mampu bersaing dengan produk mancanegara secara kualitas.

Bahkan ada tambahan lain yang didapat dengan menggunakan produk dalam negeri, yaitu efisiensi yang terjadi pada kerja sama BBM dan pelumas sebesar Rp700 miliar per tahun.

Pada 2020, uji coba dan substitusi produk smooth fluid dalam negeri juga memberikan efisiensi sebesar 300.000 dolar AS per sumur. Selain itu, kerja sama penerbangan tahun lalu berhasil membukukan efisiensi sebesar Rp25,9 miliar per tahun.

Editor: Aprianoor - Apahabar.com


Share :

Baca Juga

apahabar.com

Ekbis

Mobil Wapres Isi Bensin Pakai Jeriken, Simak Klarifikasi Pertamina
apahabar.com

Ekbis

Menteri ESDM Kaji Fleksibilitas Skema Investasi Migas
DP 0 Persen

Ekbis

Lima Provinsi dengan Suku Bunga KPR Tertinggi
apahabar.com

Ekbis

Terbiasa Transaksi Syariah, FESyar KTI 2019 Digelar di Banjarmasin
apahabar.com

Ekbis

Minyak Jatuh ke Level Terendah karena Corona
Jangan Jadi BPR

Ekbis

Dewan Wanti-wanti Bank Kalsel, Jangan Jadi BPR
apahabar.com

Ekbis

Kekhawatiran Lonjakan Kedua Covid-19, Harga Emas Naik, Dolar AS Melemah

Ekbis

Dolar AS Menguat ke Level 14.540
error: Dilarang copy paste artikel berita tanpa menyertakan link url : https://apahabar.com