KPK Telisik Keperluan Pribadi Bupati HSU, Jamela Beri Klarifikasi Lantik Sekdakot Banjarmasin, Ibnu Sina Beri Ikhsan Budiman Sederet PR Bukan Pepesan Kosong, Kades Se-Amuntai Sweeping Truk Conch! Terkesan Plin-plan, PPKM Level 3 Nataru Batal, Kalsel Perlu Lakukan Ini Truk Conch Disweeping di Amuntai, Kapolres HSU Buka-bukaan

Kata Para Pelaku Usaha di Banjarbaru Soal Wajib PCR Penumpang Pesawat

Tak hanya warga, sejumlah pelaku usaha di Banjarbaru menjerit imbas pemberlakuan wajib swab penumpang pesawat. Foto: Dok.apahabar.com
- Apahabar.com     Selasa, 26 Oktober 2021 - 19:30 WITA

Kata Para Pelaku Usaha di Banjarbaru Soal Wajib PCR Penumpang Pesawat

Tak hanya warga, sejumlah pelaku usaha di Banjarbaru menjerit imbas pemberlakuan wajib swab penumpang pesawat. Foto: Dok.apahabar.com

apahabar.com, BANJARBARU – Tak hanya warga, sejumlah pelaku usaha di Banjarbaru menjerit imbas pemberlakuan wajib swab penumpang pesawat. Foto: Dok.apahabar.com

Beberapa pelaku usaha juga calon penumpang pesawat di Bandara Syamsudin Noor, Banjarbaru kontra dengan keputusan tersebut.

Mahdi Ramadhani, misalnya, pelaku usaha di bidang tour and travel ini mengaku para nasabah atau kliennya hampir 100 persen membatalkan perjalanan setelah adanya kebijakan wajib PCR untuk perjalanan udara.

Katanya, sempat simpang siur informasi bahwa untuk transportasi udara cukup dengan antigen, sehingga banyak klien yang antusias. Namun faktanya ternyata wajib PCR.

“Ketika wajib PCR itu mereka meng-cancle. Jika dilihat dari sisi kacamata usaha tour dan travel itu sangat berpengaruh membuat para calon nasabah itu menunda perjalanan mereka,” ujar Rama panggilan akrabnya kepada apahabar.com, Selasa (26/10).

Dalam satu bulan biasanya ada rombongan ke Jawa, Bali dan Lombok, tetapi untuk bulan ini tidak ada.

“Tapi untuk dalam Kalsel ada,” tambahnya.

Kontras dalam segi bisnis, namun tak dipungkirinya peraturan itu bagus dalam sisi kesehatan dan individu.

“Adanya PCR, secara psikologi jadi lebih aman. Kebetulan orang tua dan adik saya penyintas,” ungkapnya.

Rama yang juga seorang praktisi bisnis ini bilang bahwa adanya peraturan wajib PCR untuk transportasi udara bisa dimanfaatkan para pengelola pariwisata lokal atau dalam Kalsel.

Katanya, ini kesempatan untuk mengeksplorasi Kalsel mengingat selama ini pariwisata lokal kurang dilirik masyarakat.

Jika pelaku pariwisata jeli dan bisa memanfaatkan itu, menurutnya akan dapat merubah pola liburan masyarakat yang tadinya konsumtif menjadi produktif dalam artian kebiasaan liburan di luar Kalsel menjadi dalam Banua sendiri.

“Orang orang yang mau liburan dari pada PCR mahal, dua kali lagi (PP) jadi mereka realistis milih dalam Kalsel,” tuntas Founder Pastajoglo cabang Banjarmasin ini.

Senada dengan Rama, salah satu pelaku usaha percetakan di Banjarbaru, Hasan juga mengatakan demikian.

Peraturan terbaru itu dipandang cukup bagus jika dilihat dari sisi kesehatan. Tetapi tidak dari sisi ekonomi.

“Seharusnya cukup dengan vaksin dosis kedua dan antigen,” ujarnya dihubungi terpisah.

Karena PCR sebutnya masih cukup mahal walaupun saat ini harganya di kisaran Rp525 ribu.

“Tapi penumpang pesawat tidak semuanya orang yang menengah ke atas, jadi masih memberatkan,” tegasnya.

Akibat peraturan itu, pengiriman barang untuk kelengkapan usahanya kerap terlambat.

Seorang perantau asal Bandung yang bekerja di Banjarbaru, Acep terpaksa menunda pulang kampung sebab aturan baru ini.

Meski dari jauh-jauh hari ia telah merencanakan kepulangannya pada Minggu ini, namun harga PCR dirasanya lebih mahal daripada harga tiket pesawatnya.

“Jadi aku nunggu aturan ke depan saja, karena keberatan banget kalau bagi perantau seperti kita ini,” tutupnya.

Berbeda dengan Acep, seorang perantau lainnya Poniran, tetap berangkat ke Jawa meski dengan PCR karena salah seorang keluarganya meninggal dunia.

“Tetap berangkat, saya ditawari PCR selesai sehari Rp600 ribu, tapi saya pilih yang Rp525 ribu,” ujarnya kepada apahabar.com.

Menurutnya, aturan ini sudah amat menyulitkan. Dalam kondisi darurat, ia harus mencari ke sana ke mari mencari tempat untuk PCR yang selesai cepat. Sekalipun dirinya sudah mengantongi vaksinasi dosis dua.

“Ribet, apalagi kan saya juga kerja tapi harus ditinggal cari tempat PCR, klo enggak genting ya saya enggak pulang,” ujarnya mengakhiri.

Untuk diketahui, dalam peraturan terbaru Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM), pemerintah menetapkan wajib tes PCR untuk penumpang pesawat sejak Minggu (24/10). Dan tes PCR berlaku untuk penumpang pesawat dari dan ke Pulau Jawa-Bali.

Editor: Fariz Fadhillah - Apahabar.com


Share :

Baca Juga

apahabar.com

Ekbis

Harga Minyak Turun, Menko Luhut Sarankan Pemerintah Cermati Kebijakan
apahabar.com

Ekbis

Daftar Harga BBM Sepanjang Maret 2020
apahabar.com

Ekbis

Kunci Bisnis Bisa Tahan Corona Ala Sri Mulyani
apahabar.com

Ekbis

Masih karena Covid-19, IHSG Berpotensi Terkoreksi Sepekan ke Depan
Kendaraan

Ekbis

Menggiurkan, Indonesia Berpotensi Besar Jadi Produsen Kendaraan Listrik
apahabar.com

Ekbis

Menguat di Awal Pekan, IHSG Tembus Level Psikologis 5.000
apahabar.com

Ekbis

Kementerian PUPR Tunda Kenaikan Tarif Tol Cipularang dan Padaleunyi
apahabar.com

Ekbis

Rupiah Menguat Seiring Kemajuan Kesepakatan Dagang AS-Tiongkok
error: Dilarang copy paste artikel berita tanpa menyertakan link url : https://apahabar.com