Resmi, Pengurus MUI Kotabaru Dikukuhkan Lagi! Pipa PDAM Bandarmasih Bocor, Off 6 Jam, Sejumlah Wilayah Terdampak Lagi! Rumah Ambruk di Banjarmasin, Simak Pengakuan Pemilik Perbaikan Pipa Bocor di Jalan Ahmad Yani Banjarmasin Rampung, Lapor Jika Air Keruh Catat, Jadwal Pelantikan ASN Asal Tanbu Jadi Sekdakot Banjarmasin

Mayoritas Website Judi, Indonesia Paling Banyak Minta Penghapusan Konten ke Google

- Apahabar.com     Minggu, 24 Oktober 2021 - 15:20 WITA

Mayoritas Website Judi, Indonesia Paling Banyak Minta Penghapusan Konten ke Google

Google melaporkan penghapusan lebih dari 500.000 URL dari sejumlah lembaga maupun individu di Indonesia. Foto: Mirror

apahabar.com, JAKARTA – Indonesia menjadi negara yang paling banyak meminta penghapusan konten di Google berdasarkan jumlah item. Indonesia memimpin dengan permintaan lebih dari 500.000 URL.

Jumlah permintaan tersebut terungkap melalui laporan Google berjudul Content Removal Transparency Report.

Data itu berisi permintaan dari pemerintah negara-negara di dunia untuk menghapus konten di Google dari periode Januari hingga Juni 2021.

Berdasarkan laporan ZDnet yang dilansir Suara, Minggu (24/10), Indonesia tercatat meminta menghapus konten mencapai lebih dari 500.000 URL.

Rata-rata alamat URL yang diminta untuk dihapus, karena melanggar Undang-Undang tentang perjudian.

Google sendiri telah menghapus lebih dari 20.000 URL. Adapun jenis permintaan produk yang dihapus dari platform Google dalam bentuk Blogger, Gmail, Google Docs, Google Play Apps, situs Google, Google Search, hingga YouTube.

Sementara lembaga di Indonesia yang meminta penghapusan konten antara lain Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kominfo), Polri, TNI, dan pengadilan.

Menyusil di bawah Indonesia adalah Rusia, Kazakhstan, Pakistan, Korea Selatan, India, Vietnam, Amerika Serikat, Turki dan Brasil.

“Laporan transparansi yang mencakup Januari hingga Juni 2021 menunjukkan volume tertinggi yang pernah terjadi,” papar Vice President of Trust and Safety Google, David Graff, dalam blog resmi Google.

“Penghapusan ini baik dalam bentuk volume permintaan maupun jumlah item individual dari konten,” imbuhnya.

Faktor peningkatan permintaan ini juga disebabkan undang-undang yang mengharuskan informasi dihapus dari platform online.

“Sejumlah undang-undang mengharuskan penghapusan konten untuk berbagai masalah, mulai dari ujaran kebencian, konten dewasa, misinformasi kesehatan, pelanggaran privasi, hingga kekayaan intelektual,” jelas Graff.

Banyak dari undang-undang tersebut yang berusaha melindungi pengguna di platform online, serta menyesuaikan kebijakan dan pedoman komunitas Google.

Editor: Bastian Alkaf - Apahabar.com


Share :

Baca Juga

apahabar.com

Global

Bentrokan Pasukan Israel dengan Demonstran Palestina, 23 Orang Luka
apahabar.com

Global

Pencipta Spongebob Squarepants Meninggal Dunia
Ilustrasi. Foto-Net

Global

Pelancong Indonesia Dilarang Masuk Uni Emirat Arab
Joe Biden

Global

Hari Pertama Jabat Presiden, Joe Biden Cabut Larangan Masuk Negara Muslim
apahabar.com

Borneo

Stan Lee Wafat, Duka Juga Dirasakan Pelukis Banjarbaru
apahabar.com

Global

Tak Kuat Hidup Bergelimang Harta, Putri Kerajaan Dubai Minggat dari Istana
Longsor di India

Global

Longsor di India; Tewaskan 36 Orang, 40 Masih Tertimbun

Global

Kenali 7 Gejala Terpapar Virus Corona Baru Inggris
error: Dilarang copy paste artikel berita tanpa menyertakan link url : https://apahabar.com