Dugaan Tambang Ilegal di Mangkalapi, Kapolres Tegaskan Hanya 1 Tersangka! Akhirnya, Buronan Pelaku Penggelapan Motor Scoopy di HST Diringkus Tim Resmob Grand Launching RSI Sultan Agung Banjarbaru, Terapkan Layanan Bersyariat Islam Via Jamela, KPK Dalami Keperluan Pribadi Bupati HSU 5 Kali HST Diterjang Banjir, Mitigasi Mestinya Dicermati Pemkab

Rotasi Melambat, Sehari di Bumi Makin Terasa Panjang

- Apahabar.com     Jumat, 29 Oktober 2021 - 07:58 WITA

Rotasi Melambat, Sehari di Bumi Makin Terasa Panjang

Ilustrasi, bumi. Foto-Net

apahabar.com, JAKARTA – Perhitungan satu hari di Bumi makin terasa panjang. Hal ini disebabkan rotasi bumi yang dilaporkan melambat.

Melambatnya Bumi berotasi diperkirakan membuat perhitungan waktu di dunia bakal bertambah satu detik di tahun mendatang.

Mengutip, CNNIndonesia.com, Jumat (29/10), belum diketahui apa penyebab dari lambatnya rotasi Bumi. Para ilmuwan tak yakin apa yang mendasari perubahan jangka panjang dari rotasi Bumi.

Tetapi pencatat waktu mengatakan kita mungkin masih membutuhkan “detik kabisat negatif” atau pengurangan perhitungan waktu global dalam dekade berikutnya.

Rata-rata, setiap hari Bumi berotasi 86.400 detik. Tapi rotasi Bumi itu disebut tak sempurna, lantaran banyak variasi sepanjang waktu tergantung pada pergerakan inti, lautan dan atmosfer.

Saat ini perhitungan waktu dunia merujuk pada Universal Coordinated Time (UTC). Perhitungan jam ini didasarkan pada jam atom yang mengukur waktu dengan pergerakan elektron dalam atom yang telah didinginkan hingga nol. Sehingga, perhitungan waktu jam atom itu mutlak dan tidak berubah-ubah. Hal ini dilakukan lantaran perhitungan waktu dengan mengandalkan rotasi Bumi tidak dapat diandalkan lantaran kecepatan putaran yang tidak stabil, kadang lebih cepat atau lebih lambat.

Jadi ketika waktu rotasi Bumi dan jam atom tidak sinkron, ada sesuatu yang harus diubah. Ketika waktu astronomi, berdasarkan rotasi Bumi telah menyimpang dari UTC lebih dari 0,4 detik, maka UTC biasanya mendapat penyesuaian dalam bentuk “detik kabisat”.

Terkadang penghitungan detik kabisat ditambahkan seperti yang terakhir terjadi pada Malam Tahun Baru 2016. Pada saat itu satu detik ditambahkan pada 23 jam, 59 menit, dan 59 detik pada 31 Desember.

Para ilmuwan telah menambahkan detik kabisat rata-rata setiap 18 bulan sejak 1972, menurut ke Institut Nasional Standar dan Teknologi (NIST).

Ketika detik dikurangi, hal itu dikenal sebagai detik kabisat negatif. Tidak pernah ada lompatan kedua negatif dalam ketepatan waktu internasional, tetapi pada 2020 kemungkinan salah satunya mungkin diperlukan.

Pada 2020, rotasi Bumi lebih cepat hingga memecahkan rekor hari terpendek sebelumnya, yang ditetapkan pada 2005 sebanyak 28 kali, seperti dikutip Space.

Hari terpendek terjadi pada 19 Juli 2020, ketika planet Bumi menyelesaikan rotasinya 1,4602 milidetik lebih cepat dari rata-rata 86.400 detik.

Sekarang, menurut Time and Date, putaran Bumi kian melambat. Paruh pertama tahun 2021 masih berlangsung cepat, dengan rata-rata lama hari mencatat waktu 0,39 milidetik lebih sedikit daripada tahun 2020.

Namun dari 1 Juli hingga 30 September, hari-hari makin panjang dengan rata-rata menjadi 0,05 milidetik dibandingkan tahun 2020.

Dikutip Live Science, dengan demikian, Bumi tidak lagi mempercepat rotasinya, namun masih berputar pada tingkat yang lebih cepat dari rata-rata.

Berdasarkan tingkat rotasi saat ini, detik kabisat negatif mungkin diperlukan dalam waktu sekitar 10 tahun. Namun keputusan akhir dipegang oleh International Earth Rotation and Reference Systems Service (IERS) di Paris.

“Kami telah mencoba memodelkan berbagai hal secara internal untuk dua tahun ke depan atau lebih,” kata Nick Stamatakos, perwakilan Observatorium Angkatan Laut AS untuk Dewan Pengarah IERS.

Namun, pihaknya mengalami kesulitan memprediksi hitungan rotasi dan waktu, lebih dari enam bulan atau satu tahun ke depan.

Editor: Muhammad Bulkini - Apahabar.com


Share :

Baca Juga

Banjir Bandang

Global

3 Jasad Korban Banjir Bandang di India Ditemukan
apahabar.com

Global

35 Jam Tertimbun Reruntuhan Bangunan, Bayi 11 Bulan Ditemukan Hidup
Irak

Global

Akhir Tahun 2021, AS Berencana Tarik Seluruh Pasukan dari Irak
apahabar.com

Global

Usia Terpaut 24 Tahun, Raja Malaysia Nikahi Miss Moscow

Global

Mendag M Lutfi Dapat Tiga Tugas Besar dari Jokowi, Apa Itu?

Global

Serangan Israel Sudah Menewaskan 34 Anak di Palestina

Global

Arkeolog Yerusalem Temukan Dua Bangunan yang Diduga Reruntuhan Istana Nabi Daud
apahabar.com

Global

Paus Fransiskus Ajak Masyarakat Dunia Peduli Korban Tsunami Selat Sunda
error: Dilarang copy paste artikel berita tanpa menyertakan link url : https://apahabar.com