Tiga Kabupaten-Kota Kalsel Nihil Pasien Covid-19, Tala Terbanyak Kaltim Raup Rp 19,8 M dari Pisang Kepok Gerecek di Expo Pangan Nusantara Jelang Nataru, Palangka Raya Awasi Potensi Penimbunan Bahan Pokok Kejagung Tetapkan Seorang Pengacara Sebagai Tersangka Kasus LPEI Respons Bupati Barito Timur Soal Warning Mensos Risma Terkait Banjir

Tak Hanya Haji Isam, SILO Juga Lirik Smelter Kalsel di Kotabaru

- Apahabar.com     Selasa, 26 Oktober 2021 - 10:05 WITA

Tak Hanya Haji Isam, SILO Juga Lirik Smelter Kalsel di Kotabaru

PT Sebuku Iron Lateritics Ore (SILO) uji coba pabrik smelter terbarunya di Pulau Sebuku, Kabupaten kota Baru, medio 2014 silam. Foto: Bisnis.com

apahabar.com, KOTABARU – Tak hanya Andi Syamsuddin Arsyad saja yang tertarik dengan megaproyek smelter di Kalimantan Selatan.

Selain pemilik konglomerasi bisnis batu bara dan sawit, Jhonlin Group yang akrab disapa Haji Isam itu. PT Sebuku Iron Lateritic Ores (SILO) juga melirik proyek instalasi pemurnian hasil tambang.

Bahkan anak usaha Salim Group ini sudah menggandeng Hongkong Excellen untuk membangun smelter rotary kiln electric furnace (RKEF).

Groundbreaking proyek smelter RKEF PT Excellen SILO Ferroalloy dilakukan di Kotabaru, Kalimantan Selatan, akhir bulan kemarin.

Diketahui Hongkong Excellen merupakan perusahaan patungan antara Robin Zeng, founder dan shareholder pengendali CATL produsen baterai mobil listrik terbesar di dunia bersama dengan Liang Feng, founder dan shareholder pengendali Putailai.

Dalam keterangan tertulisnya, Huang Shanfu, Presiden Direktur PT Excellen Silo Ferroaloy mengatakan, kedua perusahaan ini memiliki keunggulan di bidangnya masing-masing.

“Kami bekerja sama untuk mencari pasokan sumber daya logam untuk bahan baku baterai mobil listrik. Dengan keunggulan itu, kami bersinergi sehingga menjadi faktor penting penjamin kesuksesan proyek ini,” kata Huang Shanfu saat peletakan batu pertama pembangunan smelter, di Kotabaru, Rabu (29/9), dikutip apahabar.com dari Sindonews.com.

Tak tanggung-tanggung, investasi yang ditanamkan dalam proyek tersebut mencapai USD65 juta. Mereka menargetkan smelter akan berproduksi pada Mei 2022 mendatang.

Pada tahap pertama smelter yang diklaim ramah lingkungan ini nantinya akan memproduksi sekitar 80.000 ton ferronickel per tahun.

“Dan akan secara langsung menyerap 350 orang lebih karyawan dari penduduk lokal,” kata Huang Shanfu.

Selanjutnya, proyek tahap kedua adalah smelter leaching yang memproduksi bahan baku baterai mobil listrik dengan nilai total investasi sebesar USD220 juta.

Di mana direncanakan pembangunan dimulai pada awal 2022, dan commissioning produksi pada Juli 2023.

Presiden Direktur PT SILO Effendy Tios menambahkan cadangan mineral dari Pulau Sebuku memiliki potensi sangat besar.

“Selama kita menjalankan dengan baik, apalagi dengan teknologi yang efisien dan ramah lingkungan seperti smelter ini, maka cadangan mineral ini tidak akan habis sampai 50 tahun ke depan,” ujar Effendy Tios.

Tios berharap pembangunan smelter itu segera menggerakkan industri. Dan meningkatkan perekonomian serta taraf hidup masyarakat.

“Semua industri terkait akan berjalan, pajak dan pendapatan negara akan meningkat, lapangan pekerjaan terbuka lebar dan ekonomi masyarakat akan lebih baik,” tambahnya.

SILO, kata dia, sebagai perusahaan dalam negeri yang berkomitmen tidak akan menjual izin tambang atau saham ke perusahaan asing.

“Dalam kerja sama ini, SILO menjadi supplyer bahan baku, sehingga perusahaan tetap independen dikelola sesuai undang-undang dengan memperhatikan kepentingan negara Indonesia,” ujarnya.

Efek ekonomi yang paling dirasakan masyarakat adalah ketersediaan listrik selama 24 jam serta tumbuhnya beberapa jaringan telekomunikasi.

“Karena listriknya sudah tersedia, maka jaringan komunikasi juga bermunculan. Beberapa BTS dibangun, komunikasi telepon seluler makin lancar,” tegasnya.

Sementara itu, di saat yang sama, GM PLN Area Kalselteng Tonny Bellamy mengatakan saat ini suplai jaringan PLN se-Kalimantan sudah terkoneksi dengan baik.

Bahkan, PLN masih memiliki over produksi sekitar 560 megawatt yang belum terserap pasar.

Karena itu berdasarkan instruksi Kementerian ESDM serta Kemenko Maritim dan Investasi, untuk percepatan investasi dan produk unggulan, serta program peremajaan dan distribusi listrik ke desa-desa, maka PLN berkomitmen untuk menyuplai listrik ke Pulau Sebuku.

“Dan seperti diketahui, PT SILO grup merupakan pelanggan tegangan tinggi pertama di Kalimantan Selatan yang dengan itu maka harus dibangun gardu induk,” tegasnya.

Dengan dibangunnya Gardu Induk di SILO ini, imbuh dia, maka listrik masyarakat di area Pulau Sebuku menjadi lebih lancar karena disuplai nonstop selama 24 jam.

“Jadi jauh lebih baik, karena sebelumnya hanya menggunakan PLTD yang terbatas. Sehingga hanya untuk malam hari saja,” pungkasnya.

Sebelumnya, rencana pembangunan unit smelter nikel di Kalsel mulai diwanti-wanti.

Pemerintah maupun pemilik perusahaan diminta serius melakukan pengawasan, demi keberlangsungan lingkungan hidup bumi Kalimantan Selatan.

Hal itu disinggung Ahli Kimia dari Universitas Lambung Mangkurat (ULM) Prof Muthia Elma saat berbicara melalui telepon dengan apahabar.com, Senin (25/10).

Prof Muthia menilai pembangunan smelter nikel ini punya dampak positif dan negatif.

Dari sisi baik, ini tentu bakal menambah nilai investasi maupun pemasukan terhadap negara, terlebih di masa pandemi seperti sekarang.

Tapi, dia juga mengingatkan akan adanya potensi kerusakan lingkungan akibat tambang nikel.

“Nikel itu logam berat berat. Yang jadi masalah, kalau mulai ditambang otomatis nanti memunculkan lubang-lubang. Kalau tidak diantisipasi nanti larinya bisa ke lingkungan, khususnya air sungai,” ucapnya.

Kata dia, peran pemerintah sangat dibutuhkan dalam hal ini. Perlu ada kebijakan dan aturan yang jelas demi meminimalkan limbah dari nikel ini.

Nah, limbah itu yang harus diantisipasi seminimal mungkin dari sekarang, sesuai standar bahan baku dari Kementerian Lingkungan Hidup.

Sebab, lanjut Prof Muthia, air sungai sangat dibutuhkan dalam kehidupan makhluk hidup, baik ikan maupun manusia.

“Jangan sampai pemerintah hanya mengambil keuntungan atau kebutuhan personal sesaat, tetapi lupa dengan dampak yang dialami masyarakat setempat,” ujarnya, mengingatkan.

Diwartakan sebelumnya, Haji Isam berencana membangun empat smelter sekaligus. Ditarget rampung sebelum 2024. Rencana itu terlontar dari Komisaris PT Jhonlin Agro Raya, Andi Amran Sulaiman

“Pak Andi [Haji Isam] tadi bisikin saya 2023 smelter akan selesai dibangun empat unit,” ujar mantan menteri pertanian RI ini di sela peresmian pabrik biodiesel Jhonlin oleh Jokowi, Kamis (21/10).

Kalsel sendiri sudah memiliki beberapa pabrik smelter. Sebut saja seperti di Kotabaru milik PT Silo dan Tanah Laut punya PT Delta Prima Steel.

Jhonlin berencana membangun empat unit smelter pada Januari mendatang. Target instalasi pemurnian bahan tambang ini sebelum 2024.

“Pak Andi [Haji Isam] tadi bisikin saya 2023 smelter akan selesai dibangun empat unit,” ujar Amran.

Eks mentan ini kemudian mencoba mengalkulasikan keuntungan daripada keberadaan smelter ini.

“Kami punya pengalaman 10 tahun di nikel itu hanya USD 30. Setelah kami melakukan processing, itu bisa naik 70 kali lipat,” kata dia.

Kata Pemprov Soal Megaproyek 4 Smelter Haji Isam di Kalsel

Editor: Fariz Fadhillah - Apahabar.com


Share :

Baca Juga

apahabar.com

Ekbis

Menteri ESDM Kaji Fleksibilitas Skema Investasi Migas
apahabar.com

Ekbis

Prospek Investasi Emas, Pegadaian Syariah Martapura Naikkan Target
apahabar.com

Ekbis

Waskita Raih Rp2,5 Triliun dari Divestasi Dua Ruas Tol Trans Jawa
apahabar.com

Ekbis

Presiden Jokowi dan Raja Salman Sepakat Tingkatkan Kerjasama Ekonomi

Ekbis

2030, PLN Optimistis Kurangi Emisi Karbon 100 Juta Metrik Ton
masa tua

Ekbis

Masa Tua Bahagia, Mulailah Rencanakan Pengelolaan Keuangan Sejak Usia Muda
apahabar.com

Ekbis

IHSG Menguat Ikuti Tren Positif Bursa Global dan Asia
apahabar.com

Ekbis

Pak Pos Sering Tersesat, DPMPTSP Banjarmasin Merugi
error: Dilarang copy paste artikel berita tanpa menyertakan link url : https://apahabar.com