Lagi! Rumah Ambruk di Banjarmasin, Simak Pengakuan Pemilik Perbaikan Pipa Bocor di Jalan Ahmad Yani Banjarmasin Rampung, Lapor Jika Air Keruh Catat, Jadwal Pelantikan ASN Asal Tanbu Jadi Sekdakot Banjarmasin Menakar Langkah Pertamina-Pemprov Basmi Pelangsir BBM Kalsel Tertangkap! Pelaku Penggelapan Minyak Sawit di Banjarbaru, CPO Diganti Air Sungai

Hari Pahlawan: Berikut Sederet Pejuang Banjar yang Dijadikan Nama Jalan!

- Apahabar.com     Rabu, 10 November 2021 - 12:11 WITA

Hari Pahlawan: Berikut Sederet Pejuang Banjar yang Dijadikan Nama Jalan!

Pangeran Antasari. Foto-net

apahabar.com, BANJARMASIN – Hari Pahlawan Nasional 2021 jatuh pada hari ini, Rabu (10/11).

Hari Pahlawan kali ini mengusung tema ‘Pahlawanku Inspirasiku’.

Peringatan Hari Pahlawan bertujuan mengenang jasa para pejuang dalam merebut kemerdekaan Indonesia dari tangan kolonial.

Sebagaimana kata-kata heroik Bung Karno “Bangsa yang besar adalah bangsa yang menghormati jasa para pahlawannya”.

Untuk mengenang jasa pahlawan, sederet nama pejuang pun diabadikan sebagai nama jalan. Tak terkecuali di Banjarmasin, Kalsel.

Berikut sejumlah nama pahlawan berdarah Banjar yang dijadikan sebagai nama jalan:

1. Brigjen Hasan Basry

Brigjen TNI Hasan Basry merupakan tokoh militer dan pahlawan nasional Indonesia asal Kandangan, Hulu Sungai Selatan.

Brigjen Hasan Basry juga dikenal sebagai Bapak Gerilya Kalimantan.

Semasa hidup, Brigjen Hasan Basry sangat gigih melawan kolonialisme belanda.

Alhasil, Brigjen Hasan Basry mampu merebut kemerdekaan Kalsel pada 17 Mei 1949.

Brigjen Hasan Basry meninggal pada 15 Juli 1984 silam. Ia dimakamkan di Simpang Empat, Liang Anggang, Banjarbaru, Kalsel.

Sebagai penghormatan, namanya pun diabadikan sebagai nama Jalan Brigjen Hasan Basry di Banjarmasin Utara.

2. Pangeran Muhammad Noor

Ir. H. Pangeran Muhammad Noor adalah mantan menteri pekerjaan umum (PU) dan gubernur Kalimantan pada 1901 lalu.

Pangeran Muhammad Noor lahir dari keluarga bangsawan Banjar, yakni intah Raja Banjar Sultan Adam al Watsiq Billah.

Pangeran Muhammad Noor menghembuskan napas terakhir pada 15 Januari 1979.

Awalnya, ia dimakamkan di TPU Karet Bivak, Jakarta berdampingan dengan makam sang istri, Gusti Aminah binti Gusti Mohamad Abi.

Namun pada 2010, jenazahnya beserta istrinya dibawa pulang ke kampung halamannya di Martapura atas keputusan keluarga PM Noor.

Kemudian pada 18 Juni 2010, jenazah PM Noor dan Gusti Aminah dikebumikan di komplek pemakaman Sultan Adam Martapura dengan upacara militer.

Namanya pun diabadikan sebagai nama Jalan Ir. PM. Noor di Banjarmasin Barat dan Kabupaten Banjar.

3. Pangeran Antasari

Pangeran Antasari merupakan Sultan Banjar.

Pada Maret 1862, ia dinobatkan sebagai pimpinan pemerintahan tertinggi di Kesultanan Banjar dengan menyandang gelar Panembahan Amiruddin Khalifatul Mukminin.

Pangeran Antasari sendiri merupakan cucu dari Pangeran Amir. Semasa muda, nama Pangeran Antasari adalah Gusti Inu Kartapati.

Pangeran Antasari wafat di tengah pasukannya, pada 11 Oktober 1862.

Setelah terkubur kurang lebih 91 tahun di hulu sungai Barito, kerangka Pangeran Antasari diangkat pada 11 November 1958 atas persetujuan keluarga.

Terdapat sejumlah anggota tubuh yang masih utuh, di antaranya tulang tengkorak, tempurung lutut dan beberapa helai rambut.

Kemudian kerangka tersebut dimakamkan kembali di Taman Makam Perang Banjar, Kelurahan Surgi Mufti, Banjarmasin.

Namanya pun diabadikan sebagai nama Jalan Pangeran Antasari di Banjarmasin Timur.

4. Pangeran Samudera

Pangeran Jaya Sutera alias Jaya Samudera merupakan raja Banjar sekaligus Kalimantan pertama yang bergelar Sultan Suryanullah.

Gelar sultan diberikan seseorang dari Arab yang datang ke Banjarmasin.

Tepatnya setelah Pangeran Samudera diislamkan oleh utusan Kesultanan Demak.

Setelah menjadi Sultan, ia mendapat gelar Panembahan Batu Habang.

5. Ratu Zaleha

Ratu Zaleha merupakan puteri dari Sultan Muhammad Seman bin Pangeran Antasari.

Ratu Zaleha melanjutkan perjuangan Pangeran Antasari untuk mengusir penjajah belanda.

Ratu Zaleha berjuang bersama wanita suku Dayak yang sudah memeluk Islam seperti Bulan Jihad dan Illen Masidah.

Namun pada awal 1906, Ratu Zaleha menyerahkan diri kepada Belanda dan mengikuti suaminya, Gusti Muhammad Arsyad dalam pengasingan di Bogor untuk menghabiskan sisa-sisa usianya.

Hingga di penghujung usia, ia memutuskan kembali ke kampung halamannya.

Ia pun wafat pada Pada 23 September 1953 dan dimakamkan di Banjarmasin.

Editor: Muhammad Robby - Apahabar.com


Share :

Baca Juga

apahabar.com

Kalsel

‘Serasi’ Terancam Gagal, Usul Sisa Alokasi Lahan ke Kalteng
apahabar.com

Kalsel

Gadis Muda di Balangan Tertangkap Nyabu Bersama 2 Pria
apahabar.com

Kalsel

Akomodir Pejalan Kaki, Trotoar Baru Senilai Rp18 M Bakal Ramah Difabel
apahabar.com

Kalsel

BMKG: 11 Wilayah Kalsel Berpotensi Hujan Lebat
apahabar.com

Kalsel

Perhatikan Pejuang Veteran, Sudian Noor: Bangunkan Rumah untuk Mereka
Perda

Kalsel

Tok! DPRD Kalsel Bereskan Raperda LPPA 2020
apahabar.com

Kalsel

Makam Lettu H Awang Nasir Pindah ke Makam Pahlawan, Keluarga Haru
Batasi Kunjungan, Lapas Banjarmasin Terapkan Video Call

Kalsel

Batasi Kunjungan, Lapas Banjarmasin Terapkan Video Call
error: Dilarang copy paste artikel berita tanpa menyertakan link url : https://apahabar.com