Bangun Gedung Baru, Uniska MAB Juga Usul 6 Dosen Jadi Guru Besar Jelang Nataru di Tabalong, 4 Warga Beserta Ratusan Botol Miras Diamankan Siaga 1! 10 Desa di 3 Kecamatan HST Banjir, Tagana Kalsel Terjun ke Lokasi Resmi, Pengurus MUI Kotabaru Dikukuhkan Lagi! Pipa PDAM Bandarmasih Bocor, Off 6 Jam, Sejumlah Wilayah Terdampak

Jokowi Pamer Pujian Dunia soal Covid RI, Ahli: Jangan Euforia!

- Apahabar.com     Kamis, 18 November 2021 - 15:39 WITA

Jokowi Pamer Pujian Dunia soal Covid RI, Ahli: Jangan Euforia!

Presiden Joko Widodo. Foto-Istimewa

apahabar.com, JAKARTA – Epidemiolog dari Universitas Griffith Australia, Dicky Budiman, mengingatkan Presiden Jokowi agar tidak terlalu termakan euforia di tengah pelandaian kasus Covid-19 di Indonesia.

Ia menyebut Indonesia masih berpotensi mengalami kenaikan kasus covid-19 khususnya menjelang libur natal dan tahun baru.

“Apresiasi itu tentunya tidak boleh menjadi pengabaian atau euforia. Karena bagaimanapun ini adalah perjuangan bersama-sama, terutama masyarakat yang berdarah-darah, banyak korban jiwa yang jatuh. Lagipula perjalanan pandemi Covid-19 masih panjang,” kata Dicky dilansir dari CNNIndonesia, Kamis (18/11).

Dicky juga mengingatkan Indonesia merupakan bagian dari komunitas global, sehingga Indonesia tidak bisa ‘aman’ sendirian, sementara negara lain masih mengalami lonjakan kasus Covid-19.

Selain itu, ia meminta agar pemerintah tidak menurunkan kapasitas pemeriksaan covid-19 di Indonesia meski kasus sudah melandai secara signifikan.

Dicky pun menyoroti turunnya jumlah pemeriksaan dengan metode Whole Genome Sequencing (WGS) untuk mendeteksi potensi masuknya varian dari mutasi virus SARS-CoV-2 di Indonesia.

Dicky menyebut pemerintah seharusnya malah memperkuat dan terus menambah jumlah sequence warga yag diperiksa guna mengantisipasi ancaman varian AY.4.2 atau yang dikenal Delta Plus yang saat ini sudah teridentifikasi di negara tetangga, yakni Malaysia dan Singapura.

Kementerian Kesehatan sebelumnya merilis, Indonesia secara total melakukan pemeriksaan WGS terhadap total 8.578 spesimen per 13 November. Namun, jumlah pemeriksaan WGS itu hanya bertambah sebanyak 725 spesimen yang diperiksa dari 16 Oktober lalu yang berjumlah 7.853 spesimen.

Dapat dikatakan dalam kurang lebih waktu sebulan pemerintah hanya melakukan 725 tes. Padahal pada periode sebelumnya, pemerintah bisa memeriksa 880 spesimen pada kurun waktu 2-16 Oktober atau sekitar dua pekan saja.

“Yang masih perlu diingat, kita sebetulnya itu tidak memiliki peta yang cukup untuk menilai situasi pandemi dalam negeri. Karena ya testing-nya kita trennya juga menurun, apalagi pemeriksaan strain virus WGS itu ya,” kata dia.

Dicky meminta agar pemerintah terus mengakselerasi capaian testing dan tracing meskipun kasus terus menurun. Menurutnya, upaya surveilans itu lambat laun akan membantu menguak kasus-kasus Covid-19 yang menjadi fenomena gunung es di Indonesia.

Dicky lantas meminta pemerintah fokus menyasar sejumlah kategori yang ‘wajib’ diambil sampelnya untuk kemudian dilakukan pemeriksaan WGS. Pertama adalah mereka yang sudah menerima vaksin Covid-19 lengkap namun masih terpapar Covid-19.

Kedua, kasus-kasus klaster level komunitas yang perlu dicari tahu penyebabnya. Ia menyebut, dalam kondisi seperti itu, pemerintah cukup mengambil sampel acak seperti pada kasus klaster di sekolah dan lain-lain.

“Nah, WGS dilakukan pada setiap hasil positif tes PCR di pintu masuk negara, terutama kedatangan dari negara yang masuk daftar merah atau juga WNA maupun WNI yang memiliki gejala klinis Covid-19. Itu menurut saya dalam konteks saat ini sangat perlu dilakukan,” ujar Dicky.

Editor: Puja Mandela - Apahabar.com


Share :

Baca Juga

apahabar.com

Nasional

Ancam Kebebasan Pers, Ramai-Ramai Tolak Revisi KUHP
apahabar.com

Nasional

Diduga Sopir Mabuk, Mobil BMW Tabrak Apotek
apahabar.com

Nasional

Jokowi Tanggapi Usul Mempercepat Pertemuan dengan Prabowo
apahabar.com

Nasional

Isu Penjarahan di Kerusuhan Thamrin City Trending Twitter
Terseret Ombak Parangtritis, Satu dari Tujuh Mahasiswa Belum Ditemukan

Nasional

Terseret Ombak Parangtritis, Satu dari Tujuh Mahasiswa Belum Ditemukan
apahabar.com

Nasional

Debat Keempat Capres 2019, Jokowi: Pemerintah Perlu ‘Dilan’
apahabar.com

Nasional

Heboh Salah Bendera Malaysia, Menpora: Anak 5 Tahun pun Tahu!
Corona

Nasional

Dipicu Varian Baru Virus Corona, Warga Inggris Dilarang Masuk Indonesia
error: Dilarang copy paste artikel berita tanpa menyertakan link url : https://apahabar.com