Perbaikan Pipa Bocor di Jalan Ahmad Yani Banjarmasin Rampung, Lapor Jika Air Keruh Lagi! Rumah Ambruk di Banjarmasin, Simak Pengakuan Pemilik Catat, Jadwal Pelantikan ASN Asal Tanbu Jadi Sekdakot Banjarmasin Menakar Langkah Pertamina-Pemprov Basmi Pelangsir BBM Kalsel Tertangkap! Pelaku Penggelapan Minyak Sawit di Banjarbaru, CPO Diganti Air Sungai

Prospek Permintaan Lebih Tinggi dan Pasokan Ketat, Harga Minyak Naik

- Apahabar.com     Rabu, 10 November 2021 - 07:33 WITA

Prospek Permintaan Lebih Tinggi dan Pasokan Ketat, Harga Minyak Naik

Ilustrasi minyak mentah Indonesia (ICP). Foto: Reuters

apahabar.com, NEW YORK – Harga minyak naik ke level tertinggi dua minggu pada akhir perdagangan Selasa atu Rabu (10/11) pagi WIB.

Kenaikan harga minyak setelah Amerika Serikat (AS) mencabut pembatasan perjalanan dan tanda-tanda lain dari pemulihan global pascapandemi mendorong prospek permintaan lebih tinggi, sementara pasokan tetap ketat.

Melansir Antara, minyak mentah Brent untuk pengiriman Januari naik 1,35 dolar AS atau 1,6 persen, menjadi menetap di 84,78 dolar AS per barel.

Minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) AS untuk pengiriman Desember bertamba 2,22 dolar AS atau 2,7 persen, menjadi ditutup di 84,15 dolar AS per barel.

Itu adalah penutupan tertinggi untuk kedua harga acuan sejak 26 Oktober.

Harga Brent telah naik lebih dari 60 persen tahun ini dan mencapai level tertinggi tiga tahun di 86,70 dolar AS pada 25 Oktober, didukung oleh pulihnya permintaan dan pembatasan pasokan oleh Organisasi Negara-negara Pengekspor Minyak dan sekutunya, yang dikenal sebagai OPEC+.

Harga minyak reli setelah Badan Informasi Energi AS (EIA) dalam laporan Prospek Energi Jangka Pendek (Short Term Energy Outlook/STEO) pada Selasa (9/11) memproyeksikan harga bensin eceran akan turun selama beberapa bulan ke depan.

Pemerintahan Presiden AS Joe Biden mengatakan akan menggunakan perkiraan harga dalam laporan STEO untuk menentukan apakah akan melepaskan minyak dari Cadangan Minyak Strategis (SPR) negara itu.

Analis mengatakan jika STEO telah menunjukkan kenaikan besar dalam proyeksi harga bensin, pemerintahan Biden kemungkinan akan melepaskan banyak minyak dari SPR dengan cepat, yang akan menekan harga.

“STEO dari EIA memberi Presiden Biden banyak perlindungan untuk tidak melakukan apa-apa, dan mengklaim dia sedang menunggu perkiraan bearish untuk dimainkan,” kata Bob Yawger, direktur energi berjangka di Mizuho di New York.

Dalam STEO, EIA memproyeksikan harga rata-rata untuk bensin kelas reguler eceran akan turun dari 3,32 dolar AS per galon pada November menjadi 3,16 dolar AS pada Desember dan 3,00 dolar AS pada kuartal pertama 2022.

OPEC+ menambahkan 400.000 barel per hari minyak mentah ke pasokan global pada pertemuan OPEC+ minggu lalu. Presiden Biden ingin OPEC+ menambahkan lebih banyak minyak. OPEC+ dijadwalkan menambah 400.000 barel per hari hingga Juni 2022, kata Yawger.

“Setiap rilis dari SPR AS, meskipun kemungkinan akan memiliki efek bearish sementara yang cepat pada harga, bukanlah solusi yang bertahan lama untuk ketidakseimbangan antara penawaran dan permintaan,” kata Louise Dickson, analis pasar minyak senior di Rystad Energy.

Kapasitas produksi cadangan minyak global dapat berkurang tahun depan karena penumpang udara kembali mengangkasa, menghilangkan bantalan penting yang saat ini dinikmati pasar, kata Kepala Eksekutif Saudi Aramco Amin Nasser.

Para wisatawan berangkat ke Amerika Serikat lagi, sementara pengesahan RUU infrastruktur Biden senilai satu triliun dolar AS dan ekspor China yang lebih baik dari perkiraan membantu melukiskan gambaran pemulihan ekonomi global.

JPMorgan Chase mengatakan permintaan global untuk minyak pada November sudah hampir kembali ke tingkat pra-pandemi 100 juta barel per hari, menyusul keruntuhan tahun lalu.

Di India, permintaan bahan bakar naik pada Oktober ke puncak tujuh bulan, dengan penjualan bensin melonjak ke level tertinggi sepanjang masa.

Meskipun pasar global ketat, analis memperkirakan persediaan minyak mentah AS naik untuk minggu ketiga berturut-turut, mungkin membantu membatasi kenaikan harga lebih lanjut.

Para analis yang disurvei oleh S&P Global Platts memperkirakan publikasi EIA akan menunjukkan persediaan minyak mentah AS naik satu juta barel untuk pekan yang berakhir 5 November.

Editor: Aprianoor - Apahabar.com


Share :

Baca Juga

apahabar.com

Ekbis

Samsung Indonesia Jamin Semua IMEI Sudah Terdaftar
apahabar.com

Ekbis

Tahun Ini, 30 Pesawat Garuda Group Akan Dipasang Wifi

Ekbis

Awal 2021 Diprediksi Makin Banyak Resto Tutup karena Pandemi

Internasional

Varian Delta Meningkat, Jepang Akan Perpanjang Keadaan Darurat di Tokyo
apahabar.com

Internasional

Kasus Covid-19 di India Tembus 2,5 Juta
apahabar.com

Ekbis

Izin Impor Garam 2,7 Juta Ton Diterbitkan
apahabar.com

Ekbis

Bagasi Pesawat Berbayar, Penerbangan di Bandara Syamsudin Noor Turun
Dolar AS Melemah

Ekbis

Terimbas Data Ekonomi, Dolar AS Ikut Melemah
error: Dilarang copy paste artikel berita tanpa menyertakan link url : https://apahabar.com