Canggih, Banjarmasin Kini Punya ADM, Sanggup Cetak 100 e-KTP Sehari Evakuasi Korban Erupsi Semeru, Dua Helikopter-Tiga Kompi TNI Dikerahkan Empat Program Bank Indonesia Majukan UMKM Busyet! Buaya Masuk Rumah Warga Saat Banjir di Kaltim Lama Buron, Mantan Kades di Katingan Tilap Dana Desa Rp 1,1 M Berhasil Diringkus di Kapuas

Xi Jinping Coba ‘Redam’ Ketegangan di Kawasan Laut Cina Selatan

- Apahabar.com     Selasa, 23 November 2021 - 06:49 WITA

Xi Jinping Coba ‘Redam’ Ketegangan di Kawasan Laut Cina Selatan

Presiden Cina Xi Jinping. Foto-Net

apahabar.com, JAKARTA – Presiden Cina Xi Jinping mencoba “meredam” ketegangan di kawasan Laut Cina Selatan. Pada pertemuan puncak (KTT) ASEAN-Cina pada Senin (22/11), dia mengatakan kepada para pemimpin dari 10 negara anggota ASEAN bahwa Beijing tidak akan “menindas” negara-negara tetangganya yang lebih kecil.

KTT kali ini diselenggarakan untuk merayakan 30 tahun hubungan kedua belah pihak. Xi melihat pertemuan tersebut akan membantu melahirkan perdamaian, stabilitas, dan pembangunan regional.

Klaim teritorial Beijing atas kawasan Laut Cina Selatan telah meningkatkan ketegangan antara Cina dengan beberapa negara Asia Tenggara. Selain itu, ketegangan tersebut juga memicu kewaspadaan Washington hingga Tokyo.

“Cina, dulu, sekarang, dan akan selalu menjadi tetangga yang baik, teman yang baik, dan mitra yang baik bagi ASEAN,” ujar Xi, seperti dilansir Republika.

Xi mengatakan bahwa Cina tidak akan pernah mencari hegemoni atau mengambil keuntungan dari negara-negara yang lebih kecil, dan akan bekerja dengan ASEAN untuk menghapus campur tangan.

Cina yang saat ini bisa dibilang sebagai salah satu kekuatan besar global, telah berulang kali pula terlibat perselisihan dengan rivalnya AS. Bagi Cina, AS dianggap terlalu sering ikut campur dalam masalah negara lain, mulai dari urusan ekonomi, pertahanan, hingga hak asasi manusia.

Aturan hukum solusi permasalahan di Laut Cina Selatan
Penegasan Cina atas kedaulatan kawasan Laut Cina Selatan ditentang negara anggota ASEAN seperti Vietnam dan Fipina, sementara Brunei, Taiwan, dan Malaysia juga mengklaim mempunyai bagian di kawasan tersebut.
Dalam kesempatan ini, Presiden Filipina Rodrigo Duterte mengatakan bahwa dia “membenci” ketegangan yang meningkat baru-baru ini atas masalah di Laut Cina Selatan. Duterte mengatakan aturan hukum adalah satu-satunya jalan keluar dari permasalahan tersebut.

“Kami membenci peristiwa baru-baru ini,” kata Duterte di KTT ASEAN-Cina, Senin (22/11). “Ini tidak baik tentang hubungan antara bangsa kita.”

Perwakilan Myanmar tidak hadir
Dilansir Reuters, KTT ASEAN-Cina dimulai tanpa kehadiran perwakilan Myanmar. Pemimpin junta Myanmar Min Aung Hlaing, yang berkuasa di Myanmar setelah memimpin kudeta di negara itu pada awal tahun ini dilaporkan tidak hadir dalam KTT tersebut.
Pihak Myanmar pun tidak segera memberikan penjelasan atas ketidakhadiran perwakilannya. Namun, beberapa sumber mengatakan Myanmar akan diwakili oleh duta besarnya untuk Cina.

Setelah KTT ASEAN bulan lalu digelar tanpa perwakilan Myanmar karena negara itu dianggap gagal menghadirkan rencana perdamaian atas situasi yang berkembang di sana, Myanmar pun menolak mengirim perwakilan mereka dan menyalahkan ASEAN karena meninggalkan prinsip tidak campur tangan asosiasi itu dan terpengaruh tekanan Barat.

 

Editor: Muhammad Bulkini - Apahabar.com


Share :

Baca Juga

Ilustrasi. Foto-Net

Global

Varian Covid Omicron Masuk Eropa
apahabar.com

Global

Gerak-gerik Kapal Perang AS di Taiwan Bikin China Meradang
apahabar.com

Global

Hindari Ancaman Taliban, ‘Messi Kecil’ dari Afganistan Terpaksa Mengungsi
apahabar.com

Global

Dianggap Bocorkan Rahasia Militer, Surat Kabar Nigeria Digerebek Tentara
apahabar.com

Global

Polisi Mesir Tewas saat Jinakkan Bom di Dekat Gereja Koptik
Longsor di India

Global

Longsor di India; Tewaskan 36 Orang, 40 Masih Tertimbun
Pesawat pengebom China, Xian H-6. Foto-net

Global

28 Pesawat Militer China Masuki Wilayah Taiwan, di Antaranya ‘Pengebom Nuklir’
Muammar Gaddafi

Global

Saif, Putra Muammar Gaddafi Maju Jadi Capres Libya
error: Dilarang copy paste artikel berita tanpa menyertakan link url : https://apahabar.com