Kalsel Ingin Adopsi Kawasan Kumuh jadi Wisata di Yogyakarta Waspada, Hujan Disertai Petir dan Angin Kencang Ancam 3 Kabupaten Kalsel Tok! KPU-Kemendagri Sepakat Jadwal Pemilu 14 Februari 2024 Cuaca Kalsel Hari Ini: Sebagian Wilayah Diprediksi Cerah Berawan Tuduhan Tak Terbukti, IRT Banjarmasin Bebas Usai 60 Hari Ditahan

China Surati Indonesia: Berhenti Ngebor Migas di Natuna

Aksi pengeboran minyak dan gas alam Pemerintah Indonesia di wilayah maritim dekat Natuna diminta berhenti oleh Pemerintah China.
- Apahabar.com     Rabu, 1 Desember 2021 - 22:51 WITA

China Surati Indonesia: Berhenti Ngebor Migas di Natuna

Ilustrasi. Foto-Net

apahabar.com, BEIJING – Aksi pengeboran minyak dan gas alam Pemerintah Indonesia di wilayah maritim dekat Natuna diminta berhenti oleh Pemerintah China. Namun, Pemerintah Indonesia menegaskan tidak akan berhenti melakukannya.

Seperti dilansir Reuters, empat orang yang mengetahui masalah ini melaporkan permintaan yang belum pernah terjadi sebelumnya dan belum pernah dilaporkan.

Menurut pernyataan seorang anggota Komisi Keamanan Nasional DPR RI, Muhammad Farhan, satu surat dari diplomat China kepada Kementerian Luar Negeri Indonesia dengan jelas mengatakan kepada Indonesia untuk menghentikan pengeboran di rig lepas pantai sementara sebab itu terjadi di wilayah China.

“Jawaban kami sangat tegas bahwa kami tidak akan menghentikan pengeboran karena itu adalah hak kedaulatan kami,” kata Farhan kepada Reuters.

Seorang juru bicara Kementerian Luar Negeri Indonesia mengatakan, setiap komunikasi diplomatik antarnegara bersifat pribadi dan isinya tidak dapat dibagikan. Dia pun menolak berkomentar lebih lanjut.

Tiga sumber lain yang mengaku telah diberi pengarahan tentang masalah tersebut membenarkan adanya surat tersebut. Dua dari mereka mengatakan China berulang kali menuntut agar Indonesia menghentikan pengeboran.

Indonesia mengatakan ujung selatan Laut China Selatan adalah zona ekonomi eksklusifnya di bawah Konvensi PBB tentang Hukum Laut dan menamakan wilayah itu sebagai Laut Natuna Utara pada 2017.

China keberatan dengan perubahan nama dan bersikeras bahwa jalur air itu berada dalam klaim teritorialnya yang luas di Laut Cina Selatan yang ditandai dengan “sembilan garis putus-putus” berbentuk U.

Ini adalah sebuah batas yang ditemukan tidak memiliki dasar hukum oleh Pengadilan Arbitrase Permanen di Den Haag pada 2016. “(Surat itu) sedikit mengancam karena itu adalah upaya pertama diplomat Cina untuk mendorong agenda sembilan garis putus-putus mereka terhadap hak-hak kami di bawah hukum laut,” kata Farhan.

Selain itu, menurut Farhan, dalam surat terpisah, China juga memprotes latihan militer Garuda Shield yang sebagian besar berbasis darat pada Agustus. Latihan tersebut melibatkan 4.500 tentara dari Amerika Serikat dan Indonesia dan telah menjadi acara rutin sejak 2009.

Ini adalah protes pertama China terhadap mereka. “Dalam surat resmi mereka, pemerintah China mengungkapkan keprihatinan mereka tentang stabilitas keamanan di daerah itu,” katanya.

China adalah mitra dagang terbesar Indonesia dan sumber investasi terbesar kedua. Indonesia menjadikannya bagian penting dari ambisi negara untuk menjadi ekonomi papan atas. Farhan menilai para pemimpin Indonesia hingga kini masih tetap diam tentang masalah ini untuk menghindari konflik atau pertikaian diplomatik dengan China.

Editor: Muhammad Bulkini - Apahabar.com


Share :

Baca Juga

Nasional

Ini 4 Sektor Usaha yang Dapat Karpet Merah di Kawasan Industri Halal
apahabar.com

Nasional

Polisi Buru Muncikari Utama Kasus Prostitusi Artis
apahabar.com

Nasional

“Bincang Santai” Ala Presiden Jokowi dengan Mardani H Maming
apahabar.com

Nasional

475 Napi di Jabar Dapat Remisi Natal, 7 Orang Bebas

Nasional

Begini Penjelasan Kemenkes Soal Parpol dan Ormas Dapat Jatah Vaksin
apahabar.com

Nasional

Terkait Pemberian Hibah dan Bansos, Apkasi Dukung Penuh Permendagri 13/2018
apahabar.com

Nasional

Atasi Virus Corona, WHO: Pembatasan Sosial Saja Tak Cukup

Nasional

Satu Anggota Kelompok Bersenjata di Papua Tewas Usai Kontak Tembak dengan TNI
error: Dilarang copy paste artikel berita tanpa menyertakan link url : https://apahabar.com