Cuaca Kalsel Hari Ini: Tak Ada Peringatan Dini, Semua Wilayah Cerah! Cari Keadilan untuk Rekannya, Ratusan Mahasiswa Geruduk Kejati Kalsel Akhirnya, Pelaku Pembunuhan Guru di RM Wong Solo Tanbu Tertangkap Ketum HIPMI Pusat Bakal Jadi Pembicara di HUT JMSI ke-2 di Sulteng Kalsel Ingin Adopsi Kawasan Kumuh jadi Wisata di Yogyakarta

Kejagung Ungkap Alasan Tuntut Mati Terdakwa ASABRI

- Apahabar.com     Selasa, 7 Desember 2021 - 10:54 WITA

Kejagung Ungkap Alasan Tuntut Mati Terdakwa ASABRI

Kejagung menuntut hukuman mati terdakwa kasus dugaan korupsi pengelolaan keuangan PT ASABRI (Persero), Presiden Komisaris PT Trada Alam Minera, Heru Hidayat. Foto-Istimewa

apahabar.com, JAKARTA – Kejaksaan Agung (Kejagung) mengungkap sejumlah alasan pihaknya menuntut hukuman mati terdakwa kasus dugaan korupsi pengelolaan keuangan PT ASABRI (Persero), Presiden Komisaris PT Trada Alam Minera Heru Hidayat.

Pertama Heru merupakan terpidana dalam kasus dugaan korupsi PT Jiwasraya (Persero) yang merugikan keuangan negara hingga Rp16,8 triliun. Dalam kasus itu, Heru mendapat keuntungan mencapai Rp10,7 triliun.

Kepala Pusat Penerangan Hukum (Kapuspenkum) Kejagung, Leonard Eben Ezer Simanjuntak mengatakan skema kejahatan Heru dalam dua kasus mega korupsi tersebut sangat sempurna dan berulang-ulang.

“Melibatkan banyak skema termasuk kejahatan sindikasi yang menggunakan instrumen pasar modal dan asuransi, menggunakan banyak pihak sebagai nominee dan mengendalikan sejumlah instrumen di dalam sistem pasar modal, menimbulkan korban baik secara langsung dan tidak langsung yang sangat banyak dan bersifat meluas,” kata Leonard kepada wartawan, dilansir dari CNNIndonesia, Selasa (7/12).

Leonard menyatakan perbuatan Heru dan kawan-kawan juga telah membuat banyak anggota TNI, Polri hingga PNS di Kementerian Pertahanan yang menjadi peserta ASABRI merugi.

Menurutnya, kasus ini mencabik-cabik rasa keadilan masyarakat. Heru diduga mendapat keuntungan sebesar Rp12,6 triliun dari total Rp22,7 triliun kerugian keuangan negara.

“(Perbuatan terdakwa) telah menghancurkan wibawa negara karena telah menerobos sistem regulasi dan sistem pengawasan di Pasar Modal dan Asuransi dengan sindikat kejahatan yang sangat luar biasa berani, tak pandang bulu, serta tanpa rasa takut yang hadir dalam dirinya dalam memperkaya diri secara melawan hukum,” ujarnya.

Lebih lanjut, Leonard menyebut Heru tak memiliki empati lantaran tak beritikad baik mengembalikan uang dugaan korupsi tersebut. Selama proses penyidikan hingga persidangan, Heru juga tak pernah mengakui perbuatannya salah.

“Bahkan sebaliknya dengan sengaja berlindung pada suatu perisai yang sangat keliru dan tidak bermartabat bahwa transaksi di pasar modal adalah perbuatan perdata yang lazim dan lumrah,” katanya.

Menurut Leonard, jaksa penuntut umum merujuk pada ketentuan Pasal 2 ayat (2) Undang-undang Tindak Pidana Korupsi (Tipikor) dalam menuntut hukuman mati kepada Heru.

“Keadaan tertentu sebagaimana dalam Pasal 2 ayat (2) berdasarkan karakteristiknya yang bersifat sangat jahat, maka terhadap fakta-fakta hukum yang berlaku bagi terdakwa Heru Hidayat sangat tepat dan memenuhi syarat untuk dijatuhi pidana mati,” ujarnya.

Sebelumnya, Heru dituntut hukuman mati dalam kasus dugaan korupsi ASABRI. Heru juga diminta untuk membayar uang pengganti sebesar Rp12,6 triliun paling lama dalam satu bulan sesudah putusan berkekuatan hukum tetap.

Editor: Puja Mandela - Apahabar.com


Share :

Baca Juga

apahabar.com

Nasional

Gedung 5 Lantai di Slipi Roboh, 3 Orang Terluka
Dayak

Nasional

Tokoh Dayak di Kaltim Dipanggil Polisi Usai Blokir Jalur Sawit
apahabar.com

Nasional

Polres Sintang Amankan Ribuan Batang Kayu Durian
apahabar.com

Nasional

Ledakan di Mal Taman Anggrek Timbulkan Kerusakan Parah
Progres Kereta Cepat

Nasional

Progres Kereta Cepat Jakarta-Bandung 79 Persen, Berikut Fokus KCIC
Sekjen PDIP Penuhi Panggilan KPK Siang Ini

Nasional

Sekjen PDIP Penuhi Panggilan KPK Siang Ini
Oksigen

Nasional

UID-GTG Salurkan 2 Ribu Ton Oksigen Cair
apahabar.com

Nasional

Ani Yudhoyono Tutup Usia
error: Dilarang copy paste artikel berita tanpa menyertakan link url : https://apahabar.com