Cuaca Kalsel Hari Ini: Tak Ada Peringatan Dini, Semua Wilayah Cerah! Cari Keadilan untuk Rekannya, Ratusan Mahasiswa Geruduk Kejati Kalsel Akhirnya, Pelaku Pembunuhan Guru di RM Wong Solo Tanbu Tertangkap Ketum HIPMI Pusat Bakal Jadi Pembicara di HUT JMSI ke-2 di Sulteng Kalsel Ingin Adopsi Kawasan Kumuh jadi Wisata di Yogyakarta

Pengusaha Turki Ramai-Ramai Demo Erdogan, Ada Apa?

Kelompok pengusaha Turki meminta Presiden Recep Tayyip Erdogan untuk meninggalkan kebijakan moneter berdasarkan suku bunga yang rendah. Kelompok itu menyebut ini telah membawa kejatuhan besar bagi mata uang lira.
- Apahabar.com     Senin, 20 Desember 2021 - 09:47 WITA

Pengusaha Turki Ramai-Ramai Demo Erdogan, Ada Apa?

Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan. Foto-Istimewa

apahabar.com, JAKARTA – Kelompok pengusaha Turki meminta Presiden Recep Tayyip Erdogan untuk meninggalkan kebijakan moneter berdasarkan suku bunga yang rendah. Kelompok itu menyebut ini telah membawa kejatuhan besar bagi mata uang lira.

Kelompok bisnis yang bernama TUSIAD itu mengatakan Erdogan harus kembali memberlakukan ‘aturan ilmu ekonomi’ yang seharusnya diterapkan. Hal ini juga diperparah dengan inflasi yang semakin tinggi di negara itu.

“Sebagai akibat dari ketidakstabilan yang kami alami belakangan ini, menjadi jelas bahwa tujuan di bawah program ekonomi yang sedang diupayakan ini tidak akan tercapai,” kata kelompok itu dalam sebuah pernyataan yang dikutip Reuters, Senin (20/12/2021).

“Bahkan ekspor, yang diharapkan mendapat manfaat paling besar dari ini, telah dirugikan di bawah situasi ini.” Demikian dilansir dari CNBCIndonesia.

Di bawah tekanan dari Erdogan, bank sentral telah memangkas suku bunga sebesar 500 basis poin sejak September. Erdogan mengatakan suku bunga yang tinggi merupakan hal yang tidak baik bagi ekonomi.

Ia berdalih model suku bunga rendah itu akan meningkatkan ekspor, lapangan kerja dan investasi, sambil mencapai pertumbuhan yang tinggi. Bahkan, Erdogan beberapa kali sengaja memecat beberapa pejabat senior bank sentral yang berseberangan dengan paham hawkish nya itu.

Meski begitu, kebijakan ini telah menurunkan nilai tukar terhadap lira. Pada pekan lalu, satu dolar AS diperdagangkan dengan nilai 15,35 lira. Ini jauh dibandingkan tiga lira pada tahun 2016 dan 7,43 lira pada 1 Januari lalu.

Penurunan ini sendiri diperparah dengan kondisi Negeri Anatolia itu yang mengalami inflasi. Tingkat tahunan inflasi Turki bahkan menyentuh 20% dan diprediksi semakin lebih tinggi pada beberapa minggu ke depan.

Dalam situasi ini, Erdogan sendiri telah menaikkan kenaikan 50% dalam upah minimum untuk menyelamatkan daya beli warga. Meski begitu, beberapa kelompok masyarakat menyebut bahwa kenaikan itu merupakan langkah yang sia-sia.

“Sangat sulit untuk mencari nafkah dan membayar tagihan sewa, gas, listrik, dan air dengan 4.250 lira per bulan,” ujar salah satu pekerja toko roti. “Masa depan tidaklah cerah.”

Editor: Puja Mandela - Apahabar.com


Share :

Baca Juga

apahabar.com

Internasional

Rusuh di AS, Pertokohan Dijarah, Kantor Polisi Dibakar
apahabar.com

Internasional

Moderna Berencana Jual Vaksin Covid-19 Seharga Rp 720.000 per Paket

Internasional

Resmi, Australia-Singapura Sepakat Barter Vaksin Covid-19
Myanmar

Internasional

Pemerintah Militer Myanmar Blokir Facebook dan WhatsApp
apahabar.com

Internasional

Kampanye Capres AS, Biden Serang Penanganan Covid-19, Trump Janji Pandemi Segera Berakhir

Internasional

Biden Serukan Taliban Penuhi Janji-janji Usai Tentara AS Ditarik
apahabar.com

Internasional

Vaksin Covid-19, Siapa Orang Pertama yang Disuntik?
Pesawat Hilang Kontak

Internasional

Pesawat Hilang Kontak di Rusia, Bawa 28 Penumpang
error: Dilarang copy paste artikel berita tanpa menyertakan link url : https://apahabar.com