Kebakaran Pekapuran Raya, Bumil Dilarikan ke RS Pembunuhan di Datar Laga Hantakan, Polisi Imbau Jaga Kondusifitas  Presiden Jokowi: Keliru Jika Uang Rakyat Dibelanjakan Barang Impor Siap-Siap, Mulai 10 Juni ASDP Naikkan Tarif Penyeberangan Feri Kotabaru-Batulicin  Menolak Lupa Tragedi Jumat Kelabu Banjarmasin

Jaksa Terbitkan SKP2, Haru Warnai Pertemuan Keluarga Hariyanto di Ruang Tahanan Kejari HST

Pasangan suami istri (pasutri) Hariyanto dan Sahriati tak kuasa menahan haru saat dipertemukan di ruang tahanan Kejaksaan Negeri Hulu Sungai Tengah (Kejari HST), Kamis (27/1) siang.
- Apahabar.com     Kamis, 27 Januari 2022 - 18:17 WITA

Jaksa Terbitkan SKP2, Haru Warnai Pertemuan Keluarga Hariyanto di Ruang Tahanan Kejari HST

Tersangka KDRT, Hariyanto memeluk istri dan anaknya usai dibebaskan dan ruang tahanan Kejari HST, Kamis (27/1) siang. Foto-apahabar.com/Lazuardi

apahabar.com, BARABAI – Pasangan suami istri (pasutri) Hariyanto dan Sahriati tak kuasa menahan haru saat dipertemukan di ruang tahanan Kejaksaan Negeri Hulu Sungai Tengah (Kejari HST), Kamis (27/1) siang.

Lebih sebulan keluarga Hariyanto terpisah. Itu setelah sang istri, Sahriati melaporkan suaminya, Hariyanto ke Polres HST Desember 2021 lalu.

Pelaporan itu disebabkan adanya cek cok hingga terjadi kekerasaan dalam rumah tangga (KDRT) oleh Hariyanto terhadap Sahriati pada 14 Desember saat itu. Sahriati pingsan setelah mengalami luka sobek dan berdarah di kepala kiri.

Luka itu didapati Sahriati setelah mendapat pukulan pada bagian wajah sebelah kanan 2 kali oleh Hariyanto. Sahriati tumbang.

Setelah tumbang, ayah tiga anak ini lagi-lagi membenturkan kepala korban ke tanah sehingga mengalami luka tadi.

Kasus KDRT itu buntut dari emosi Hariyanto setelah mendengar anak keduanya dimarahi Sahriati. Kemarahan Sahriati itu disebutkan ketika saang anak merengek minta dibelikan alat pancing.

Atas kejadian itu, penyidik Polres HST menetapkan Hariyanto sebagai tersangka kasus KDRT. Dia dijerat Pasal 44 ayat (1) Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2004 tentang Penghapusan KDRT Subsidair Pasal 351 KUHP tentang Penganiayaan.

Penyidikan di tingkat polres selesai alias P-21 atau hasil penyidikan sudah lengkap. Berkas perkara dan tersangka diserahkan ke Kejari HST untuk dilakukan proses hukum selanjutnya.

Tak sampai kasus itu masuk meja hijau, Kejari HST mengambil langkah Restoratif Justice atau keadilan restoratif.

Kajari HST, Trimo menerbitkan Surat Ketetapan Penghentian Penuntutan (SKP2). Hal berdasarkan keadilan restoratif sebagai perwujudan kepastian hukum, sesuai Peraturan Jaksa Agung Nomor 15 Tahun 2020 tentang Penghentian Penuntutan Berdasarkan Keadilan Restoratif.

Hariyanto dibebaskan dari tahanan kejaksaan dan dijemput langsung sang istri bersama anak-anaknya, Kamis siang.

Sahriati atau sang istri menyesal melaporkan sang suami atas kejadian Desember 2021 silam. Dia meminta Kejari untuk melepaskan suaminya itu.

“Saya masih sayang suami. Suami juga tulang punggung keluarga kami,” aku Sahriati yang menggandeng dua anak yang masih kecil saat di Kejari HST, Kamis siang.

Pertemuan haru itu juga membuat sang suami menyesal atas perlakuannya tempo hari lalu.

“Saya berjanji akan menjaga keluarga saya ini dengan baik dan tak akan menyakiti lagi,” terang Hariyanto di hadapan para Jaksa Kejari HST.

Sementara, itu Kajari Trimo menyebutkan sebelum Hariyanto diberikan SKP2 dan dibebaskan, pihaknya telah menjadi mediator atas kasus itu. Baik terhadap korban, keluarga korban dengan disaksikan oleh tokoh masyarakat maupun dari penyidik kepolisian.

Pemberian SKP2 itu tidak serta merta. Ada beberapa alur yang ditempuh.

Singkat Trimo, telah ada kesepakatan perdamaian antara tersangka dengan korban pada,19 Januari 2022 (RJ-7).

“Kami, jaksa juga telah melakukan penelitian. Bagaimana kasusnya, siapa sebenarnya pelakunya, bagaimana kondisinya di massyarakat dan pelaku melakukannya karena apa. Setalah itu, kami melalukan pemanggilan, dari tokoh masyarakat, tetangga hingga penegak hukum seperti Babinsa dan lain-lain meminta keterangan. Ini proses panjang agar rasa keadilan terpenuhi. Jangan sampai hukum ini menambah masalah baru,” papar Trimo.

Ada beberapa alasan diterbitkannya SKP2 itu. Antara lain, Hariyanto baru pertama kali melakukan tindak pidana atau belum pernah dihukum sebelumnya.

“Pasal yang disangkakan, ancaman tindak pidananya di bawah 5 tahun. Dan kami juga melihat dari hasil penyelidikan kami bahwa hukum ini jangan sampai menambah masalah. Nah ini kan menambah masalah. Akibat suaminya ditahan sehingga ekonomi keluarganya susah apalagi sang suami tulang punggung keluarga, anaknya masih kecil-kecil,” terang Trimo.

Pengambilan SKP2 itu dilakukan berdasarkan petunjuk dan persetujuan Jaksa Agung Muda Tindak Pidana Umum. Jaksa Agung Muda mengapresiasi Kejari HST beserta jajarannya yang berusaha keras menjadi fasilitator dalam proses penyelesaian perkara melalui restorative justice itu.

“Dalam perkara ini, berhubungan dengan permasalahan keluarga, hubungan kekerabatan harus dijaga karena hukum pidana itu ultimum remedium [upaya terakhir] di mana pentingnya membangun mindset Jaksa yang mengeser mindset legalistic formil ke restorative justice supaya hubungan keluarga tidak pecah,” tutup Kajari Trimo.

Editor: Aprianoor - Apahabar.com


Share :

Baca Juga

Kebakaran Al Falah

Kalsel

Kerugian Akibat Kebakaran Al Falah Banjarbaru Ditaksir Miliaran Rupiah
apahabar.com

Kalsel

Update Covid-19 di Tanbu: Sembuh 5, Positif 5
Kadinkes

Kalsel

Keluar dari Rumah Sakit, Kadinkes Banjarmasin Masih Positif Covid-19
apahabar.com

Kalsel

Hujan Deras, Berkah Turun di Simpang Empat dan Batulicin
banjir

Kalsel

DPD PSI Tanbu Bantu Korban Banjir di Tanah Laut
apahabar.com

Kalsel

Miliki Segudang Prestasi, Sekda Tamzil Maju Pilbup HST?
Grafis data sebaran Covid-19 di Tanah Bumbu. Foto: Istimewa

Kalsel

Sembuh 6 Orang, Covid-19 Tanbu Melandai
apahabar.com

Kalsel

Sejarah Kekeringan di Banjarmasin; Sungai Bisa Dilewati Gerobak Sapi
error: Dilarang copy paste artikel berita tanpa menyertakan link url : https://apahabar.com