Kebakaran Pekapuran Raya, Bumil Dilarikan ke RS Pembunuhan di Datar Laga Hantakan, Polisi Imbau Jaga Kondusifitas  Presiden Jokowi: Keliru Jika Uang Rakyat Dibelanjakan Barang Impor Siap-Siap, Mulai 10 Juni ASDP Naikkan Tarif Penyeberangan Feri Kotabaru-Batulicin  Menolak Lupa Tragedi Jumat Kelabu Banjarmasin

Kubah Lava Gunung Merapi Tumbuh 10.000 Meter Kubik per Hari, Bahaya?

Badan Geologi Kementerian ESDM mencatat adanya pertumbuhan kubah lava Gunung Merapi.
- Apahabar.com     Kamis, 27 Januari 2022 - 11:18 WITA

Kubah Lava Gunung Merapi Tumbuh 10.000 Meter Kubik per Hari, Bahaya?

Gunung Merapi. Foto-AP

apahabar.com, JAKARTA – Badan Geologi Kementerian ESDM mencatat adanya pertumbuhan kubah lava Gunung Merapi.

Kubah lava bagian tengah kawah tercatat mengalami pertumbuhan 5.000 meter kubik per hari, sedangkan kubah lava barat daya Gunung Merapi tercatat mengalami perumbuhan 10.000 meter kubik per hari.

Kepala Badan Geologi Eko Budi Lelono mengatakan, volume kubah tengah kawah terhitung sebesar 3 juta meter kubik dan kubah lava barat daya sebesar 1,67 juta meter kubik.
“Hasil analisis data drone dan kamera DSLR menunjukkan kondisi kedua kubah lava dan tebing-tebing puncak sekitarnya masih stabil,” kata Eko, Kamis (27/1/2022).

Berdasarkan pemantauan Badan Geologi, perkembangan aktivitas vulkanik Gunung Merapi di Jawa Tengah ini masih cukup tinggi berupa aktivitas erupsi efusif dengan sifat erupsi efusif berupa pertumbuhan kubah lava dan pembentukan guguran lava dan awan panas.

Sejak 5 November 2020, status aktivitas Gunung Merapi berada pada tingkat Siaga level III. Mulai 4 Januari 2021, erupsi yang bersifat efusif terjadi berupa pertumbuhan kubah lava yang diikuti dengan pembentukan guguran lava dan awan panas guguran.

Eko menjelaskan, aktivitas guguran lava dan awan panas guguran dominan bersumber dari kubah lava barat daya terutama ke arah Sungai Bebeng dengan jarak luncur maksimal tiga kilometer.

Aktivitas vulkanik yang intensif dari kubah tengah kawah terjadi di akhir Juni 2021 ke Sungai Gendol arah tenggara dengan jarak luncur maksimal tiga kilometer.
Intensitas data pemantauan seismik internal dan deformasi dalam fase erupsi ini cukup signifikan, namun tidak meningkat secara menerus. Ekstrusi magma diperkirakan masih akan berlangsung dengan tipe erupsi cenderung bersifat efusif.

Potensi Bahaya

Perubahan topografi lereng akibat aktivitas erupsi berpengaruh kepada potensi bahaya guguran dan awan panas berikutnya.
Potensi bahaya Gunung Merapi berupa guguran lava dan awan panas pada sektor selatan – barat daya meliputi Sungai Boyong sejauh maksimal 5 kilometer, Sungai Bedog, Krasak, Bebeng sejauh maksimal 7 kilometer.

Pada sektor tenggara meliputi Sungai Woro sejauh maksimal tiga kilometer dan Sungai Gendol lima kilometer. Sedangkan lontaran material vulkanik bila terjadi letusan eksplosif dapat menjangkau radius tiga kilometer dari puncak.

Lansir dari Liputan6.com, Badan Geologi merekomendasikan agar masyarakat tidak beraktivitas di daerah potensi bahaya dan mewaspadai bahaya lahar di sungai-sungai yang berhulu di Gunung Merapi, terutama saat terjadi hujan.

Selain itu, Badan Geologi juga meminta Badan Nasional Penanggulangan Bencana di Yogyakarta, Sleman, Magelang, Boyolali, dan Klaten dapat menindaklanjuti perubahan potensi ancaman erupsi Gunung Merapi yang terjadi saat ini, dalam upaya mitigasi bencana. Termasuk melakukan sosialisasi kepada masyarakat yang bermukim dan beraktivitas dalam Kawasan Rawan Bencana Gunung Merapi.

Editor: M Syarif - Apahabar.com


Share :

Baca Juga

apahabar.com

Nasional

Ini Dia Sejarah Nyepi
apahabar.com

Nasional

Menkominfo: Akses Internet di Papua Sudah Normal
apahabar.com

Nasional

BPN Akui 3 Ibu Kampanye Hitam ke Jokowi Adalah Relawan Prabowo
apahabar.com

Nasional

Gara-Gara Corona, China Rogoh Kocek Hampir Rp 2 Triliun
apahabar.com

Nasional

Dikira Gempa, Jalan Raya Gubeng Ambles
Ilustrasi - Gempa bumi 7,5 magnitudo mengguncang Laut Flores, Nusa Tenggara Timur (NTT) berpotensi menimbulkan tsunami, Selasa (14/12). Foto-Istimewa via INews.id

Nasional

Empat Kecamatan Kepulauan Selayar Sulsel Turut Terdampak Gempa NTT

Nasional

Wartawan Senior Gugat Indosat Ooredoo dan Commonwealth Bank Rp 100 Miliar
Pandemi

Nasional

6 Penyakit yang Awalnya Pandemi Kini Jadi Endemi
error: Dilarang copy paste artikel berita tanpa menyertakan link url : https://apahabar.com