Resmi Somasi Asprov PSSI Kalsel, Persebaru Banjarbaru Siap Adu Bukti Jadwal Siaran Langsung Timnas Putri Indonesia di Piala Asia 2022, Dapat Ditonton Gratis Mengejutkan, Pelatih Risto Vidakovic Tinggalkan Borneo FC Pesantrenpreneur: Mardani H Maming Bertekad Cetak Santri Pengusaha Fakta Baru Megaproyek Tandingan Jembatan ‘Basit’: Digagas Era Soeharto, Studi Kelayakan Diatensi

Satgas IDI Tegaskan Florona Bukan Mutasi dari Varian Baru Covid-19

- Apahabar.com     Senin, 3 Januari 2022 - 17:50 WITA

Satgas IDI Tegaskan Florona Bukan Mutasi dari Varian Baru Covid-19

Ilustrasi virus Corona. Foto-Shutterstock/Creativeneko via Kompas.com

apahabar.com, JAKARTA – Ketua Satgas Covid-19 Ikatan Dokter Indonesia (IDI), Zubairi Djoerban menegaskan Florona bukanlah salah satu hasil mutasi dari varian baru Covid-19.

Namun merupakan fenomena terjadinya infeksi ganda akibat dua buah virus yang berbeda.

“Mengenai Florona ini, sebenarnya bukan varian baru. Namun ada infeksi ganda, artinya ada dua jenis virus yang menginfeksi pada seseorang [secara bersamaan],” kata Zubairi di Jakarta, Senin (3/1) dilansir Antara.

Menanggapi adanya ibu hamil di Israel yang terinfeksi kedua virus tersebut secara bersamaan, Zubairi bilang, hal tersebut terjadi karena adanya kondisi sistem imunitas pada tubuh yang sedang lemah.

Artinya, kasus seperti ini jarang terjadi. Namun, tetap memiliki kemungkinan untuk menulari seseorang secara bersamaan, karena kedua virus sama-sama menular melalui udara atau droplet dan menyerang saluran pernafasan.

Walaupun memiliki persamaan dalam cara penularan, baik Covid-19 maupun influenza memiliki penyebab yang berbeda. Sehingga obat atau vaksin yang diberikan kepada pasien diberikan secara berbeda pula.

“Tidak perlu khawatir karena influeza amat sangat jarang ditemukan di Indonesia apalagi yang menyebabkan kematian. Influenza jangan dikira sama dengan flunya orang Indonesia,” ucap dia.

Menurutnya, flu yang banyak diderita orang Indonesia merupakan common cold yang menyebabkan seseorang menderita batuk, pilek dan bersin saja.

Hal itu, kata Zubairi tak sama dengan influenza di negara yang memiliki musim dingin seperti Amerika Serikat yang menyebabkan penderitanya memiliki gejala berat seperti terkena radang paru atau meninggal.

Meski jarang ditemukan, Zubairi meminta semua pihak tetap waspada dan tidak bersifat angkuh pada kondisi negara saat ini.

Ia meminta seluruh pihak tetap mengedepankan protokol kesehatan khususnya melakukan vaksinasi Covid-19 sehingga dapat menangkal berbagai virus masuk ke dalam tubuh.

“Yang paling penting untuk menangkal virus, khususnya virus dari penyebab Covid-19 adalah vaksinasi. Jadi siapa yang belum vaksinasi dua kali segera vaksinasi,” tegas dia.

Sementara, Direktur Pasca-Sarjana Universitas YARSI Prof Tjandra Yoga Aditama juga mengatakan terjadinya infeksi ganda dipengaruhi oleh tiga hal.

Ketiga hal itu adalah seberapa kuatnya virus bertahan, seberapa kuat daya tahan tubuh seseorang dan faktor lingkungan sekitarnya.

“Jadi tidak bisa kita katakan kalau covid lebih kuat atau flunya lebih kuat. Itu tergantung dari masing-masing orang perkembangannya. tapi sekali lagi, kemungkinan menderita dua dapat saja terjadi,” tegas Tjandra.

Tjandra menjelaskan, tidak ada gejala spesifik dari Florona, karena Florona hanyalah sebuah nama yang dibuat oleh seseorang.

Sehingga bila bicara mengenai bisa atau tidaknya memberikan dampak terjadinya gelombang Covid-19 yang baru, masih butuh analisis dan pantauan lebih lanjut dari negara dengan kasus yang bersangkutan.

“Istilah Florona tidak ada dalam dunia. Itu hanya beredar di media sosial, tak ada penyakit yang namanya Florona. Kita tunggu saja analisa dari Israel apakah ini fenomena atau banyak kasusnya,” kata Tjandra yang juga Mantan Direktur Penyakit Menular WHO Asia Tenggara itu.

Oleh sebab itu, dia meminta masyarakat untuk tidak langsung mempercayai informasi yang didapat melalui media sosial dan terus mencari informasi dari sumber yang terpercaya.

Diharapkan pula, semua pihak dapat terus disiplin menjalankan protokol kesehatan supaya tetap sehat dan dapat memutus rantai penularan Covid-19.

“Akan lebih baik, kalau masyarakat mengikuti sumber berita yang akurat dan benar. Tidak sepenuhnya berpegangan pada media sosial yang tidak terlalu jelas kebenarannya,” ujar dia.

Editor: Aprianoor - Apahabar.com


Share :

Baca Juga

apahabar.com

Gaya

Selama WFH, Tablet Samsung Diminati untuk Bekerja
apahabar.com

Gaya

Punya Daging Sapi? Yuk Bikin Kebab Sendiri
apahabar.com

Gaya

Studi: Waspada! Covid-19 Bermutasi Enam Kali Lebih Menular
apahabar.com

Gaya

Cara Kenali Penyakit Hepatitis B
apahabar.com

Gaya

Wajah Jokowi dan Susi Pudjiastuti di New York Fashion Week 2020
apahabar.com

Gaya

Oppo Reno 2 Series Dirilis, Cek Harga dan Spesifikasinya
apahabar.com

Gaya

Kopi dari Kotoran Gajah Disebut Minuman Mahal dan Langka
apahabar.com

Gaya

Keren, NSA Project Movement Bakal Tampil di Malaysia Culture Festival 2020 Malam Ini
error: Dilarang copy paste artikel berita tanpa menyertakan link url : https://apahabar.com