Persiba Balikpapan Gasak PSIM Yogyakarta 2-0 Tarif Air Bersih Naik, Dewan Kotabaru Minta Pelayanan PDAM Ikut Membaik Indomaret Izin Masuk Barabai Bukan Pepesan Kosong Gaji ke-13 Sudah Cair Rp 8 Triliun, ASN Banjarmasin Sabar Dulu… Ratusan Anggota Polda Kalsel Naik Pangkat, Irjen Rikwanto Beri Wanti-wanti

Pandemi yang Terlupakan, Belajar dari Flu Spanyol 1981 Saat Covid-19 Kini

Lebih dari 1 abad silam, pandemi yang lebih mematikan terjadi--lebih parah dari Covid-19 saat ini. Yakni Flu Spanyol 1918 yang juga disebut-sebut sebagai "pandemi yang terlupakan".
- Apahabar.com     Minggu, 20 Februari 2022 - 14:08 WITA

Pandemi yang Terlupakan, Belajar dari Flu Spanyol 1981 Saat Covid-19 Kini

Warga wajib memakai masker guna mengurangi risiko penularan Covid-19 saat beraktivitas di luar rumah. Foto-Antara.

apahabar.com, JAKARTA – Lebih dari 1 abad silam, pandemi yang lebih mematikan terjadi–lebih parah dari Covid-19 saat ini. Yakni Flu Spanyol 1918 yang juga disebut-sebut sebagai “pandemi yang terlupakan”.

Dinamai “pandemi yang terlupakan” lantaran penyebarannya dibayangi tenggat waktu Perang Dunia I dan ditutupi oleh upaya meredam pemberitaan dan sensor media (media blackouts), selain pencatatan yang buruk.

Wabah Flu Spanyol 1918 memang lebih mematikan, merujuk pada berbagai laporan yang menyebut bahwa pandemi itu telah menginfeksi sekitar 500 juta orang–sekitar sepertiga dari populasi planet ini saat itu–, dan “membunuh” sekitar 20 juta hingga 50 juta nyawa manusia. Dan, sekitar 675.000 korban meninggal di antaranya adalah orang Amerika Serikat.

Sementara Covid-19, menurut data seketika Worldometer, seperti dilansir Antara (20/2), hingga hari ini telah menginfeksi 423 juta jiwa di dunia, dengan 1,5 juta kasus baru, merenggut total 5,8 juta jiwa, dan 348 juta orang dinyatakan sembuh.

Berbeda dengan sekarang, Flu 1918 pertama kali diamati di Eropa, Amerika Serikat, dan sebagian Asia sebelum kemudian menyebar dengan cepat ke seluruh dunia. Pada saat itu tidak ada obat atau vaksin yang efektif untuk mengobati jenis flu pembunuh ini.

Warga diperingatkan untuk mengenakan masker, sekolah, gedung bioskop, dan pusat-pusat bisnis ditutup, mayat ditumpuk di kamar mayat darurat sebelum virus ini mengakhiri “pawai” global yang mematikan.

Lalu, kenapa disebut Flu Spanyol apakah memang virus itu berasal dari negara di Eropa barat daya ini, tidak ada yang bisa memastikan.

Disebut Flu Spanyol karena Spanyol adalah negara pertama yang secara terbuka membicarakan virus ini. Selama Perang Dunia I, sebagaimana ditulis banyak media dunia, Spanyol memiliki pers yang bebas–tidak seperti sebagian Eropa pada saat itu.

Spanyol juga netral selama Perang Dunia Pertama, sementara negara-negara lain yang berperang tidak mau mengakui bahwa pasukan mereka mungkin banyak yang gugur karena virus ini. Jadi, sementara seluruh dunia berfokus pada memenangkan perang, Spanyol banyak melaporkan pandemi influenza.

Para ilmuwan, menurut laporan History–media yang berafiliasi dengan A&E Television Network–, masih belum tahu pasti dari mana asal Flu Spanyol, meskipun teori menunjuk ke Prancis, China, Inggris, atau Amerika Serikat, di mana kasus pertama dilaporkan di Camp Funston di Fort Riley, Kansas, 11 Maret 1918.

Beberapa percaya tentara yang terinfeksi menyebarkan penyakit ke kamp militer lain di seluruh negeri, kemudian membawanya ke luar negeri. Pada bulan Maret 1918, 84.000 tentara Amerika menuju ke seberang Atlantik dan diikuti oleh 118.000 lagi pada bulan berikutnya.

Musim Flu

Terlepas dari pandemi, di Amerika Serikat memang ada saat yang disebut musim flu, di mana flu menjangkiti sebagian warga negara adidaya itu setiap musim gugur dan musim dingin.

Menurut Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika Serikat (CDC), setiap musim gugur dan musim dingin, virus influenza menyebar sepanjang tahun, memuncak antara Desember dan Februari, tetapi aktivitas dapat berlangsung hingga akhir Mei.

CDC memperkirakan bahwa flu telah menjangkiti 9 juta – 41 juta orang, 140.000 – 710.000 menjalani rawat inap dan 12.000 – 52.000 orang meninggal dunia setiap tahunnya di AS antara 2010 dan 2020.

Pandemi Flu Spanyol Berakhir

Pandemi Flu Spanyol berakhir pada musim panas 1919, tapi bukan karena manjurnya formula vaksin karena vaksin influenza berlisensi pertama tersedia di AS jauh setelahnya yakni 1940-an.

Dr Keith Armitage, profesor kedokteran di divisi penyakit menular di Case Western Reserve University, dikutip Healthline mengatakan bahwa itu mungkin karena kombinasi kekebalan kelompok dan virus bermutasi sehingga dampak yang ditimbulkan semakin tidak parah.

Strain influenza 1918 tidak pernah hilang, melainkan terus bermutasi dan versinya terus beredar hingga hari ini, kata Keith.

Pendapat yang hampir sama juga menyebutkan bahwa pandemi Flu Spanyol berakhir karena yang terinfeksi meninggal atau mengembangkan kekebalan.

Ya, tidak ada vaksin waktu itu, hanya ada aspirin yang direkomendasikan yang belakangan berdasarkan kajian medis dan ilmu pengetahuan justru berpotensi menimbulkan keracunan. Gejala keracunan aspirin termasuk hiperventilasi dan edema paru, atau penumpukan cairan di paru-paru.

Bedanya dengan Covid-19?

Virus flu Spanyol dan virus Covid-19 tidak sama. Mereka serupa karena keduanya adalah virus pernapasan yang menyebar melalui pernapasan dalam tetesan pernapasan yang terinfeksi, menurut kajian Clevelandclinic.org.

Selain itu, keduanya bekerja dan dapat menyebabkan sindrom gangguan pernapasan akut (ARDS), dan cara penanganannya pun sama, lakukan tes segera, kembangkan vaksin dan obat, isolasi dan karantina wilayah untuk menekan penyebaran, gunakan masker, mencuci tangan dengan sabun, dan menghindari kerumunan.

Pelajaran Berharga

Kasus pandemi Flu Spanyol 1918, kemudian 1957-1958 yang menewaskan sekitar 2 juta orang di seluruh dunia, lalu 1968-1969 yang menewaskan sekitar 1 juta orang, dan flu babi dari 2009 hingga 2010 hendaknya menjadi pelajaran berharga bagi umat manusia di Bumi.

Tidak berlebihan kiranya jika pendiri Microsoft Bill Gates yang sekarang banyak berkiprah di misi kemanusiaan, mengatakan bahwa kesiapan menghadapi skenario pandemi di mana mendatang harus dipersiapkan sejak awal sehingga tidak banyak menelan korban jiwa dan manusia bisa beradaptasi dengan baik.

Meski pandemi Covid-19 belum juga berakhir hingga saat ini, dengan vaksinasi yang masif di seluruh dunia dan upaya menjalani cara dan pola hidup baru yang disebut prokes bakal mempercepat kita menuju endemi. Kajian bahwa Omicron sebagai mutasi virus corona yang kekuatannya semakin melemah semoga benar adanya.

Editor: Ahmad Zainal Muttaqin - Apahabar.com


Share :

Baca Juga

apahabar.com

Nasional

Fasilitas Kampus UMI Makassar Dirusak Ratusan Orang Tak Dikenal
apahabar.com

Nasional

Kabar Adanya Tsunami Susulan Hoaks
Dayak

Nasional

Tokoh Dayak di Kaltim Dipanggil Polisi Usai Blokir Jalur Sawit
apahabar,com

Nasional

Megawati Minta Penyebar Kebencian Menemuinya
Taman Impian Jaya Ancol

Nasional

Wisata Ancol Disorot Usai Dikunjungi Puluhan Ribu Pelancong Saat Lebaran
apahabar.com

Nasional

Dukung Program Ketahanan Pangan di Kalteng, Jokowi Tugaskan 3 Menteri

Nasional

Luar Biasa! Vaksinasi HIPMI-Maming Enam Sembilan Diapresiasi Puan Maharani
Vaksinasi Dosis Booster

Nasional

Vaksinasi Dosis Booster Nakes Kalteng Capai 79.8 Persen
error: Dilarang copy paste artikel berita tanpa menyertakan link url : https://apahabar.com