Tarif PTAM Intan Banjar Naik 20 Persen, Simak Rinciannya Rumah Sakit TPT Banjarmasin Dihebohkan Si Jago Merah, Pasien Dilanda Kepanikan Waspada, Jaringan Narkotika Incar Pasar di IKN Nusantara & Daerah Penyangga 9 Bulan PDPB, KPUD Tabalong Temukan Ribuan Pemilih Ganda Guru Bakhiet Doakan Prabowo Presiden 2024, Gerindra Tangkis Tudingan Warganet

73 Tahun Berlalu, Intip Fakta Sejarah Serangan Umum 1 Maret di Yogyakarta

Tepat pada 1 Maret 2022 peristiwa serangan umum di Yogyakarta telah menjajaki usia 73 tahun.
- Apahabar.com     Selasa, 1 Maret 2022 - 11:53 WITA

73 Tahun Berlalu, Intip Fakta Sejarah Serangan Umum 1 Maret di Yogyakarta

Tepat pada 1 Maret 2022 peristiwa serangan umum di Yogyakarta telah menjajaki usia 73 tahun. Foto-Ilustrasi/net

apahabar.com, YOGYAKARTA – Tepat pada 1 Maret 2022 peristiwa serangan umum di Yogyakarta telah menjajaki usia 73 tahun.

Dikenang sebagai Hari Penegakkan Kedaulatan Negara. Kala itu, saat Yogyakarta masih menjadi ibu kota berlangsung serangan besar-besaran.

Penyerangan ini akibat Belanda yang menduduki wilayah Yogyakarta dan berlaku semena-mena. Padahal, sebelumnya telah dilakukan sejumlah kesepakatan.

Berikut sederet fakta tentang serangan umum 1 Maret 1949:

Sejarah Serangan Umum 1 Maret 1949

Pada Februari 1949, muncul perintah operasi di Staf Komando Aktif Bibis yang menyatakan agar segera melakukan serangan umum di Yogyakarta.

Saat itu Letkol Soeharto yang mendapat mandat untuk merumuskan strategi dan taktik penyerbuan, mulai menjalankan rencananya.

Dua minggu sebelum hari H, kesatuan-kesatuan dalam kelompok mulai menyusup ke Kota Yogyakarta.

Namun siapa sangka, pasukan di bawah pimpinan Letnan Komaruddin lebih dulu melakukan penyerangan pada 29 Februari 1949, karena mengira bulan Februari berakhir pada tanggal 28.

Pasukan ini melakukan penyerbuan di daerah Kota Yogyakarta sampai daerah Kantor Pos, Selatan Jl. Malioboro.

Penyerangan berbuah sukses daerah tersebut berhasil direbut.

Namun, karena salah perhitungan tanggal, pasukan ini bergerak sendiri, sehingga mudah dipukul mundur oleh Belanda.

Kala itu Yogyakarta berada di bawah pimpinan Kolonel Van Langen yang bermarkas di Hotel Tugu.

Pasukan ini juga terdiri dari batalyon dan diperkuat satuan-satuan KNIL.

Letkol Soeharto sebagai Komandan Brigade X memikirkan rencana untuk melakukan serangan balasan terhadap tentara Belanda.

Dia juga membagi kelompoknya dalam tujuh sub-wehrkreise yang berada pada masing-masing tempat.

Setelah sepakat dengan Jenderal Soedirman dan Kolonel Bambang Sugeng, akhirnya misi penyerangan dilakukan.

Detik-detik Penyerangan

Sebagaimana dilanasir kompas.com, serangan Umum 1 Maret 1949 dimulai sekitar pukul 06.00 WIB saat sirine keras dibunyikan di segala penjuru.

Pertempuran itu berlangsung di jantung ibu kota.

Dalam penyerangan itu, Letkol Soeharto sebagai Komandan Brigade 10/Wehrkreise III langsung memimpin pasukan ke sektor barat sampai ke batas Malioboro.

Sementara itu, sektor timur dipimpin oleh Venjte Sumual. Sektor selatan dan timur dipimpin Mayor Sardjono. Sektor utara oleh Mayor Kusno.

Kemudian, wilayah kota dipimpin oleh Letnan Amir Murtono dan Letnan Masduki.

Selama enam jam, Tentara Nasional Indonesia bersama rakyat berhasil menguasai Ibu Kota Yogyakarta.

Pertempuran pun memuncak pada pukul 11.00 WIB, ketika bala bantuan musuh datang dari arah Magelang yang terdiri dari pasukan kavaleri NICA dan komando Gajah Merah.

Namun tepat pukul 12.00 WIB, pasukan mundur ke front masing-masing setelah selama enam jam menguasai Yogyakarta, dan menuju Tanjung tirto serta Maguwo pada keesokan harinya.

Disiarkan ke luar negeri

Keberhasilan penyerbuan besar-besaran ini tersiar sampai ke luar negeri melalui Radio PC AURI.

Saat itu, pimpinan penyiaran radio pada 1949 yang berhasil mengabarkan Serangan Oemoem 1 Maret adalah Opsir Udara III Budiardjo.

Agar tidak ketahuan pasukan Belanda yang saat itu mengusai Ibu Kota Indonesia Yogyakarta, box perangkat radio diletakan di belakang rumah tepatnya di bagian dapur.

Jika siang hari perangkat radio disembunyikan dengan di “grobog” (tempat penyimpanan padi).

Ketika berita Serangan Oemoem tersiar, berita itu ditangkap dan disiarkan oleh Bidaralam, Sumbar.

Kemudian di-relay AURI Takeungon Aceh, lanjut ke Rangoon-Birma, New Delhi, India, hingga akhirnya ke Washington.

Menariknya, siaran ini menjangkau ke forum PBB di New York.

Alhasil, serangan umum 1 Maret ini sekaligus memperkuat posisi tawar Indonesia dalam perundingan di Dewan Keamanan PBB.

Selain mendapatkan pengakuan PBB, keberhasilan ini membuktikan bahwa kekuatan militer Indonesia masih ada.

Meski tidak secara langsung, serangan ini memberikan dampak pada penyerahan kedaulatan RI pada 27 Desember 1949.

Peninggalan sejarah

Untuk menghargai jasa pahlawan yang gugur dalam pertempuran itu, maka dibangunlah Monumen Serangan Oemoem yang berada di pelataran Benteng Vredeburg Yogyakarta.

Selain itu, rumah berbetuk limasan yang dulu dijadikan tempat PC Radio AURI telah dirubah menjadi museum.

Di depan rumah, terdapat monumen stasiun Radio PHB AURI- PC-2 yang dibangun pada 1984.

Sementara, untuk perangkat radio yang saat itu digunakan untuk menyiarkan Serangan Oemoem 1 Maret 1949 disimpan di Monumen Jogja Kembali.

Editor: Tim Redaksi - Apahabar.com


Share :

Baca Juga

Remaja Semangat Salat

Relax

Viral, Video Remaja Semangat Salat Berjamaah Meski Memiliki Keterbatasan
Smartphone

Relax

Deretan Smartphone Diyakini Bakal Meluncur di 2022
Marahi Penjual Cabai

Relax

Video Pembeli Marahi Penjual Cabai Viral, Diduga Kurangi Timbangan

Relax

Hujan Deras, Aksi Wanita Ajak Driver Ojol Makan Bakso Sambil Berteduh Viral!

Relax

Garap Remake Catatan Si Boy, Manoj Punjabi Berharap Pecahkan Rekor!
Nasi Kuning banjar

Relax

Fakta Unik Nasi Kuning Banjar, Menu Sarapan Andalan Warga Banua

Relax

Chris Hemsworth  Bakal Cuti Sementara dari Akting Demi Habiskan Waktu Berselancar di Indonesia!

Relax

Wajib Diselamatkan, Berikut 4 Tanaman Endemik yang Terancam Punah di Indonesia
error: Dilarang copy paste artikel berita tanpa menyertakan link url : https://apahabar.com