[ANALISIS] Bisakah Gugatan UU Kalsel Dicabut di Tengah Jalan? Launching OPOP di Kalsel, Wapres Ma’ruf Ingin Produk Pesantren Go Internasional Resmi Dibuka, Menko Airlangga Sebut GIIAS Jadi Kesuksesan Banyaknya Kendaraan Listrik Kalsel Waspada Potensi Hujan Disertai Kilat Dianggap Lebih Berbahaya dari Narkoba, Ini 3 Manfaat Lain dari Kratom
agustus

Kisah Edi Susanto, Pemuda Tanpa Dua Lengan di Simpang Nungki Batola

- Apahabar.com     Kamis, 24 Maret 2022 - 17:35 WITA

Kisah Edi Susanto, Pemuda Tanpa Dua Lengan di Simpang Nungki Batola

Edi Susanto bersama Slamet dan Warijem menceritakan kejadian yang menyebabkan kedua lengannya diamputasi. Foto: apahabar.com/Bastian Alkaf

Sempat Minder

Pertama kali tiba di Simpang Nungki, Edi Susanto langsung berusaha mencari pekerjaan. Berkat bantuan beberapa teman, Edi memperoleh pekerjaan sebagai tukang pasang rangka atap aluminium.

Selama tiga tahun bekerja, Edi mampu membeli sebuah sepeda motor. Di sisi lain, hasil lahan pertanian yang digarap Slamet dan Warijem, sudah memadai untuk kebutuhan harian.

Namun semuanya berubah sejak insiden 7 September 2018. Warijem tidak lagi bisa membantu Slamet di sawah, karena harus menjaga Edi Susanto di rumah.

Semua kebutuhan harian Edi mesti dilayani. Mulai dari menyuapi makan dan minum, memandikan, hingga mengenakan pakaian.

Kemudian sepeda motor yang dibeli Edi juga dijual. Selain untuk kebutuhan sehari-hari, Slamet maupun Warijem belum bisa mengendarai sepeda motor.

Praktis Slamet menjadi tulang punggung keluarga dan mengandalkan pertanian sebagai penghasilan utama. Untungnya mereka memperoleh Bantuan Langsung Tunai (BLT) sebesar Rp300 ribu per bulan.

“Hampir dua tahun saya hanya diam di rumah. Saya minder bergaul dengan kawan-kawan sekampung, serta tidak mungkin lagi kembali bekerja,” cecar Edi.

“Untungnya banyak kawan yang mengerti. Mereka sering menjemput saya untuk jalan-jalan. Saya juga mulai mencoba berlatih makan dan minum sendiri, karena tak ingin merepotkan kakek dan nenek terus,” imbuhnya.

Setidaknya dalam setahun terakhir, Edi perlahan bisa mengangkat gelas dan makan sendiri. Lantas untuk mengusir kejenuhan, sosok ramah ini mulai menekuni game Mobile Legend.

“Dulu saya suka bermain sepakbola dan futsal. Namun setelah kejadian, saya belum mencoba main lagi. Terlebih luka di telapak kaki saya baru benar-benar pulih dalam beberapa bulan terakhir,” jelas Edi.

“Meski cukup sulit dan mahal, saya berharap bisa mendapatkan tangan palsu, minimal satu. Lalu belajar desain grafis dan sablon untuk membantu penghidupan kakek nenek,” tandasnya.

Rumah yang ditempati Edi Susanto bersama Slamet dan Warijem di Desa Simpang Nungki, Kecamatan Cerbon, Barito Kuala. Foto: apahabar.com/Bastian Alkaf

Editor: Bastian Alkaf - Apahabar.com


Share :

Baca Juga

angin kencang

Hot Borneo

Satu Rumah Warga di Banjarmasin Rusak Parah Diterjang Angin, Perlu Uluran Tangan
HIV AIDS Banjarmasin

Hot Borneo

Agar Koalisi Penanggulangan AIDS Banjarmasin Tak Lagi Mati Suri
sendal jepit kotabaru

Hot Borneo

Was-was Naik Motor Pakai Sendal Jepit di Kotabaru, Simak Kata Kasatlantas

Hot Borneo

Meresahkan! Aksi Balap Liar di Pulau Laut Timur Kotabaru Dibubarkan
Haji Kalsel

Hot Borneo

Kouta Haji Kalsel: Kotabaru Dapat Jatah 83 Orang

Hot Borneo

Ahdiat Zairullah dan Nur Arifin Siap Bertarung di Kongres IKMA Tanbu ke-VI

Hot Borneo

Masjid Terbakar di Salikung Tabalong, Api dari Dinding Menjalar ke Seluruh Bangunan
Hewan Kurban BSI Region 9 Banjarmasin

Hot Borneo

Termasuk di Sungai Tabuk Keramat, BSI Region 9 Banjarmasin Salurkan Puluhan Hewan Kurban
error: Dilarang copy paste artikel berita tanpa menyertakan link url : https://apahabar.com