Manuver Plt Bupati HSU Soal Pasar Alabio, Prof Denny: Ada yang Tidak Beres Tahanan Tewas Banjarmasin, IPW Desak Pertanggungjawaban Dua Tingkat Buntut Tahanan Tewas, Anggota Polresta Banjarmasin Diperiksa! Siap-Siap! Beli Migor Curah di Banjarmasin Pakai PeduliLindungi Kuras Sumur, Semburan Gas yang Muncul di Manggar Balikpapan

Kurangnya Profesionalisme Guru karena Gaji?

- Apahabar.com     Kamis, 31 Maret 2022 - 08:12 WITA

Kurangnya Profesionalisme Guru karena Gaji?

Ilustrasi demo guru. Foto-Istimewa

Oleh Susyam Widiantho, S.Pd., M.Pd.

Gaji guru berperan penting untuk menunjang kesejahteraan guru. Kesejahteraan guru akan berimbas pada fokus dan konsentrasi guru dalam menjalankan tugasnya. Bagi guru yang sudah berstatus PNS, meski gaji pokoknya kecil, pemerintah memberikan berbagai tunjangan agar kesejahteraan guru bisa tercapai. Selain itu, guru PNS juga mendapatkan gaji setiap bulannya meski sudah pensiun. Lantas sudahkah besaran penghargaan ekonomi untuk profesi guru membuat guru sejahtera? Sehingga guru tidak perlu penghasilan tambahan dan fokus pada pencapaian tujuan pendidikan seperti amanat UUD 1945, mencerdaskan kehidupan bangsa?

Dari sekian banyak persoalan pendidikan kita di antaranya persoalan rekrutmen, kualitas linear dan kualitas proses pendidikan sang guru, konsep kurikulum, dan masih banyak persoalan lain, ternyata masalah penghormatan material dalam hal ini honor masih menjadi hal paling menarik dan tak kunjung usai di negeri ini. Akibatnya tugas profesional guru menjadi terganggu, siswa dan kelas terbengkalai karena guru harus ngobyek dan kualitas pembelajaran menjadi tak bermutu.

Merujuk pada gaji guru di Jerman, dengan biaya hidup di negara Jerman per orang 15 Juta rupiah dan gaji Guru Negara (kalau kita PNS) sebesar 70 juta rupiah. (gaji) 70 juta rupiah : 15 juta rupiah (biaya hidup), artinya gaji guru di sana cukup untuk biaya hidup suami, istri dan 3 anak. Kita lihat gaji guru di indonesia, katakanlah di daerah kita ini baca:Kalimantan Selatan, biaya hidup perkapita/perorang memang tidak sepenuhnya dapat ditentukan dengan angka pasti, karena adanya banyak faktor yang memengaruhi. Data dari BPS tahun 2020 perorang biaya hidup kita di angka 2 juta rupiah.

Kita hitung gaji guru kita. Gaji 3-5 juta rupiah, kita rata-rata 4 juta rupiah, tunjangan kinerja tiap tanggal 15 tiap bulannya sebesar 2.5 juta rupiah, sertifikasi guru dengan besaran full gaji pokok anggap saja 3 juta rupiah dan total penghasilan guru golongan III sebesar 9.5 juta rupiah. Artinya dengan biaya hidup perkapita 2 juta rupiah, penghasilan guru bisa menghidupi 4 orang, katakan suami istri dan 2 anak. masih ada sisa 1,5 juta rupiah. kalau golongan 4 tentu ini akan lebih besar lagi.

Dari analisa di atas ternyata untuk gaji guru kita sebenarnya sekarang ini sudah cukup baik walau belum sama seperti jerman yang tentu saja tidak bisa kita komparasikan apple to apple dengan negara kita, tapi setidaknya kita sudah mendekati. Dengan ini saya dapat membuat simpulan bahwa masalah pendidikan kita sebenarnya sudah beranjak dari masalah ekonomi. Sebagai pelaku saya merasakan masalah terbesar saya bagi menjadi dua.

Masalah pertama terkait pembayaran tunjangan khususnya sertifikasi, proses administrasinya begitu ribet dan tiada henti. Apalagi sewaktu dulu berkas sertifikasi masih menggunakan porto folio. Dalam prosesnya banyak tindak akal-akalan dalam pemenuhan berkas porto folio tersebut. Akhirnya guru habis fokus ke pemenuhan administrasi itu. Sekarang sudah lebih baik kerena semua data terintegrasi dalam 1 big data. Tapi tetap saja ada semacam “mempersulit”. dalam hal administrasi dan isian-isian. Idealnya hal ini tidak dilakukan guru tapi dikerjakan TU di sekolah. Sekiranya guru bisa fokus pada pembelajaran di kelas dan administrasi yang terkait pembelajaran saja seperti perangkat pembelajaran dan semua persiapan terkait kegiatan belajar mengajar. Tapi faktanya di lapangan guru lah sebagai aktor utama yang mengerjakan itu semua. Masalah yang kedua adalah kompetensi guru.

Menjadi guru adalah pekerjaan yang sangat mulia. Guru adalah panutan tidak hanya bagi peserta didiknya namun bagi semua orang. Guru adalah yang dapat digugu dan ditiru. Inilah yang membuat profesi guru menjadi lebih istimewa dibanding profesi lainnya. Namun tak bisa dipungkiri, menjadi guru tidaklah mudah. Guru memiliki tugas dan tanggung jawab yang cukup berat. Tidak hanya sekedar mengajar, namun juga mendidik, membimbing, memotivasi, dan mendorong anak didiknya agar menjadi manusia yang hebat dan cerdas. Di tangan gurulah, masa depan anak didiknya dipertaruhkan. Makanya profesi guru bukanlah profesi yang sembarangan. Profesi ini membutuhkan profesionalisme tinggi.

Ironisnya, tidak semua guru professional. Masih banyak ditemukan guru-guru yang tidak berkualitas dan jauh dari standar kompetensi. Baik kompetensi pedagogiknya, maupun kompetensi kepribadiannya. Masih banyak guru yang tidak mampu mengajar dengan baik, strategi mengajar tidak bervariasi, metode yang membosankan, media yang minim, dan lain sebagainya. Rendahnya kompetensi guru tentu berpengaruh kepada mutu pendidikan dan juga lulusan. Guru adalah komponen yang sangat penting dalam proses pendidikan. tidaklah berlebihan jika dikatakan bahwa guru adalah jantung dari pendidikan.

Setiap mata pelajaran selain perangkat pembelajaran dan model-model pembelajaran, ada juga yang namanya metode pembelajaran. Contoh dalam mengajar Seni Musik. Ada metode Suzuki, metode dll. Yang metode-metode ini masih belum di ketahui scara teori oleh guru-guru seni. Hal ini tentu menjadi semacam “melewatkan sesuatu”. Secara praktek mungkin metode itu sudah dilaksanakan oleh guru, tapi secara teori ini juga penting di kuasai untuk pedoman dalam praktik di lapangan. ini tentu menjadi masalah dalam kelancaran pencapaian pendidikan. Pusat Pengembangan Penataran Guru (PPPG) seharusnya menyelesaikan masalah-masalah penting seperti ini, dengan menjadikannya sebagai materi pelatihan dan subjek pengembangan diri untuk guru. Agar pelatihan tidak hanya seperti “menghabiskan” proyek saja, namun menyentuh hal-hal penting untuk kemampuan guru mengajar baik secara landasan teoritis maupun praktis.

Ada komunitas musyawarah guru mata pelajaran (MGMP) yang sejatinya pun harus membahas hal penting terkait pembelajaran mata pelajaran masing-masing. Bukan digunakan sebagai kegiatan silaturahmi dan makan bersama semata-mata. Perlu ada pembinaan semacam yang berkesinambungan dari Pemerintah melalui Kementrian Pendidikan, Dinas pendidikan dan Sekolah, untuk mengembangkan kemampuan pendagogig guru dalam melaksanakan tugas untuk tiap mata pelajaran. Pelatihan dilakukan secara terus menerus karena ilmu dan sistem yang terus berkembang, zaman yang semakin maju dan teknologi yang semakin canggih.

Dapat disimpulkan penyebab rendahnya profesionalisme guru di antaranya adalah guru tidak memiliki latar belakang keilmuan yang sesuai, rendahnya minat untuk mengembangkan diri, masih ada guru yang nyambi, dan tidak berfungsinya organisasi profesi guru. Masih ada ditemukan guru-guru yang mengajar tidak sesuai dengan latar belakang pendidikannya. Hal ini menyebabkan guru tidak memiliki ilmu yang memadai sehingga tidak mampu mengajar dengan baik.

Sebagaimana yang diketahui, dalam proses pembelajaran guru tidak hanya sekadar menyampaikan materi, namun juga harus mampu mengelola kelas dengan baik. Guru-guru yang malas meningkatkan kompetensinya dalam mengajar karena merasa sudah cukup dengan gelar sarjana yang dimiliki dan merasa sudah mampu untuk mengajar, sehingga tidak perlu lagi mengikuti pelatihan-pelatihan. Di samping itu masih banyak guru yang “nyambi”. Hal ini menyebabkan guru tidak fokus karena disibukkan dengan pekerjaan lain untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Selain itu, guru pun tidak memiliki banyak waktu untuk membaca dan menulis.

Guru sebagai agen perubahan harus menyadari bahwa ini harus dibenahi. Tentu saja para pemangku kepentingan juga ikut menginventarisir masalah-masalah pokok ini untuk dicerahkan dan ditindak lanjuti. Secara pendapatan, pemerintah terus melakukan peningkatan untuk semakin mensejahterkan guru. Timbal baliknya sebagai guru, perlu menyadari bahwa kinerja guru dan pengembangan kompetensi adalah suatu yang inheren dalam upaya pencapaian tujuan pendidikan tersebut. Tentu menjadi tugas mulia untuk fokus pada tujuan, mencerdaskan kehidupan bangsa, dengan melahirkan generasi-generasi berilmu dan beradab.

Penulis adalah Dosen Sendratasik ULM dan
Guru SMA Negeri 13 Banjarmasin

 

 

 

 

 

 

Editor: Puja Mandela - Apahabar.com


Share :

Baca Juga

apahabar.com

Opini

Update Covid-19 di Indonesia: Positif 31.186, Sembuh 10.498 Orang

Opini

Tugas Selama Pandemi Penyebab Pelajar Bunuh Diri?
apahabar.com

Opini

Menjajal Tuah Balangan1
apahabar.com

Opini

Penyalahgunaan Narkoba di Tengah Wabah
apahabar.com

Opini

Palangka Raya: Jejak Rusia dan Kandidat Ibu Kota dari Masa ke Masa
apahabar.com

Opini

Tantangan Sang Sultan
apahabar.com

Opini

Manusia-Manusia Telanjang
apahabar.com

Opini

Menjadi Guru yang Bersahabat Menuju Prestasi Hebat
error: Dilarang copy paste artikel berita tanpa menyertakan link url : https://apahabar.com