Manuver Plt Bupati HSU Soal Pasar Alabio, Prof Denny: Ada yang Tidak Beres Tahanan Tewas Banjarmasin, IPW Desak Pertanggungjawaban Dua Tingkat Buntut Tahanan Tewas, Anggota Polresta Banjarmasin Diperiksa! Siap-Siap! Beli Migor Curah di Banjarmasin Pakai PeduliLindungi Kuras Sumur, Semburan Gas yang Muncul di Manggar Balikpapan

Tekan Emisi Lewat Co-Firing, PLN Hasilkan Listrik Hijau 96 Ribu MWh dari 28 PLTU

PT PLN berhasil menerapkan co-firing atau pencampuran biomassa dengan batu bara pada 28 Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU).
- Apahabar.com     Kamis, 31 Maret 2022 - 13:25 WITA

Tekan Emisi Lewat Co-Firing, PLN Hasilkan Listrik Hijau 96 Ribu MWh dari 28 PLTU

PT PLN berhasil menerapkan co-firing atau pencampuran biomassa dengan batu bara di 28 PLTU guna tekan emisi. Foto-Ist

apahabar.com, BANJARMASIN – PT PLN (Persero) berhasil menerapkan co-firing atau pencampuran biomassa dengan batu bara pada 28 Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU).

Dengan demikian, terdapat total energi hijau yang dihasilkan sebanyak 96.061 Megawatt hour (MWh) hingga Februari 2022 tadi.

Direktur Mega Proyek dan Energi Baru Terbarukan (EBT) PLN Wiluyo Kusdwiharto menyatakan pencapaian tersebut menjadi bukti keseriusan PLN dalam mendukung program transisi energi bersih menuju carbon neutral pada 2060.

Disamping itu, hal ini juga sebagai komitmen Indonesia sebagai tuan rumah Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) G20.

“Pengunaan teknologi co-firing di PLTU merupakan salah satu upaya kami dalam mengurangi emisi di sektor kelistrikan, di samping menambah pembangkit baru yang berasal dari energi baru terbarukan,” kata Wiluyo dalam keterangan resminya, Kamis (31/3).

PLN telah menggunakan teknologi co-firing sejak 2020 lalu. Sebanyak 28 PLTU sudah menerapkan co-firing ini, antara lain PLTU Suralaya dan PLTU Paiton yang merupakan backbone kelistrikan Jawa dan Bali.

Wiluyo menjelaskan, pembangkit-pembangkit tersebut memanfaatkan limbah serbuk kayu atau sawdust, woodchip, dan SRF (solid recovered fuel, berasal dari sampah) sebagai pengganti batu bara untuk bahan bakar. Hingga Februari 2022, kebutuhan biomassa untuk bahan bakar PLTU mencapai 89.111 ton.

Sepanjang 2021, total emisi karbon yang berhasil ditekan melalui cofiring ini sebesar 268 ribu ton Co2. “Sementara pada Januari-Februari 2022, angka penurunan emisinya sekitar 96 ribu ton Co2,” ungkap dia.

Ajak Peran Masyarakat

Wiluyo menuturkan, teknologi co-firing ini dilakukan PLN tak sekadar mengurangi emisi. Melalui pemberdayaan masyarakat, teknologi co-firing ini juga mengajak masyarakat terlibat aktif dalam penanaman tanaman biomassa.

Bahkan, ada pula yang mengelola sampah rumah tangga wilayahnya untuk dijadikan pelet untuk bahan baku co-firing.

“Teknologi ini bukan hanya sekedar pengurangan emisi, tetapi ada unsur ekonomi sirkular yang mengolah limbah menjadi sesuatu yang lebih bernilai dan meningkatkan efisiensi,” tambah Wiluyo.

Misalnya saja masyarakat turut berpartisipasi dalam pemilahan sampah ataupun pemberdayaan tanaman energi yang akan diolah untuk bahan baku co-firing.

Co-firing ini juga sebagai langkah jangka pendek yang dilakukan PLN dalam mengurangi emisi karbon, sebab program co-firing tidak memerlukan investasi untuk pembangunan pembangkit baru dan hanya mengoptimalkan biaya operasional untuk pembelian biomassa.

“Program ini ditargetkan rata-rata menggunakan 10-20 persen dari kapasitas PLTU PLN untuk co-firing atau ekivalen sekitar 2.700 MW,” ujar Wiluyo.

Program co-firing ini terus dilakukan PLN sampai paling tidak 52 titik PLTU bisa menggunakan teknologi ini.

Untuk bisa memastikan pasokan co-firing ini, secara jangka panjang PLN juga melakukan kerja sama dengan Perhutani dan PTPN.

Hingga 2025, PLN membutuhkan kurang lebih 10,2 juta ton biomassa untuk menjadi substitusi 10 persen kebutuhan batu bara di PLTU.

Melalui kerja sama dengan sesama BUMN ini, Perhutani akan memasok kebutuhan biomassa.

Untuk pilot project, Perhutani akan memasok kebutuhan biomassa PLTU Pelabuhan Ratu sebesar 11.500 ton per tahun.

Sedangkan untuk PLTU Rembang, Perhutani akan memasok 14.300 ton per tahun serbuk kayu kaliandra dan gamal.

Melalui skema bisnis yang sama, Perhutani akan membangun pabrik pengolahan di wilayah Rembang.

Sedangkan PTPN Group mengestimasikan dapat menyuplai 500 ribu ton tandan kosong segar kepada PLN dan angka tersebut dapat berkembang hingga 750 ribu ton tankos segar per tahun pada 2024.

Hal itu selaras dengan Rencana Jangka Panjang Perusahaan (RJPP) PTPN Group.

PT PLN UIP Kalbagtim Tetap Fokus Bangun Gardu Induk di Kotabaru

Editor: Ahmad Zainal Muttaqin - Apahabar.com


Share :

Baca Juga

Penyaluran bantuan YBM PLN

PLN UIP Kalbagtim

Ramadhan Penuh Arti, YBM PLN UIP Kalbagtim Salurkan Bingkisan ke 400 Mustahik
Atlet paralympic Kalsel

PLN UIP Kalbagtim

Berjaya di Papua, Atlet Paralympic Kalsel Disuntik PLN Rp50 Juta Beli Kursi Roda-Kaki Palsu

PLN UIP Kalbagtim

PLN UIP Kalbagtim Lanjutkan Pembayaran Kompensasi Lahan Pembangunan Tapak Tower SUTT di Pulau Sebuku
SUTT 150kV Selaru - Sebuku

PLN UIP Kalbagtim

Dukung Industri di Kotabaru, PLN Kebut Pembangunan SUTT 150kV Selaru–Sebuku
PLN

PLN UIP Kalbagtim

Erick Thohir Dukung Penuh PLN Jalankan Transisi Energi di RI
Proyek SUTT 150kV Batulicin-Tarjun

PLN UIP Kalbagtim

Update Proyek SUTT 150kV Batulicin-Tarjun, Kini Sudah 62%
Parade motor listrik

PLN UIP Kalbagtim

Meriahkan Sidang Transisi Energi G20, KESDM dan PLN Gelar Parade Motor Listrik

PLN UIP Kalbagtim

Sosialisasi SUTT 150 KV Jalur Selaru-Sebuku, PT PLN Sampaikan Kompensasi Row
error: Dilarang copy paste artikel berita tanpa menyertakan link url : https://apahabar.com