Pelunasan Bipih Ditutup, Puluhan Jemaah Cadangan Lengkapi Kuota Haji Kalsel 2022 Innalillahi, Mantan Ketua Umum PP Muhammadiyah Buya Syafii Maarif Tutup Usia PT BKB Tanbu Laporkan Ormas KPK Tipikor Kalsel ke Polisi [ANALISIS] Judi ‘Gurak’, Ritual Adat atau Kepentingan Pribadi? Kebakaran Simpang Telawang, Korban Tetap Tinggal Saat Api Berkobar

Minim Vaksinasi Lansia, China Kewalahan Hadapi Corona Varian Omicron

- Apahabar.com     Selasa, 26 April 2022 - 09:14 WITA

Minim Vaksinasi Lansia, China Kewalahan Hadapi Corona Varian Omicron

Sejumlah petugas menyemprotkan disinfektan, ketika Shanghai kembali memberlakukan lockdown akibat peningkatan kasus corona varian omicron. Foto: The Guardian

apahabar.com, JAKARTA – Ketika kasus Covid-19 di sebagian besar negara mulai menurun, China justru kewalahan menghadapi kenaikan kasus aktif yang diakibatkan varian omicron.

WHO melaporkan kasus globaal Covid-19 terus menurun sejak akhir Maret 2022. Beberapa negara bahkan sudah mulai mencabut pembatasan, termasuk Singapura.

Singapura tidak lagi mewajibkan pelancong melampirkan hasil tes Covid-19 negatif untuk masuk ke wilayah mereka.

Sebaliknya tren berbeda terlihat di China, khususnya Shanghai. Kota berpenduduk sekitar 25 juta orang ini masih dalam aturan karantina ketat.

Ironisnya angka kematian Covid-19 dan pasien bergejala masih meningkat. Tercatat angka infeksi harian di Shanghai menembus 20 ribu kasus per hari.

Sejumlah pakai meyakini situasi di China berkaitan dengan angka vaksinasi lanjut usia. Faktanya otoritas Shanghai melaporkan hanya 52 persen dari 3,6 juta lansia 60 tahun ke atas yang sudah menerima vaksinasi lengkap.

Sementara cakupan populasi lansia di atas 80 tahun hanya 15 persen yang memperoleh vaksinasi lengkap. Begitu juga dengan angka vaksinasi booster yang hanya 38 persen lansia.

“Kasus kematian dalam dua hari terakhir di Shanghai menyiratkan bahaya yang mengintai, mengingat tingkat vaksinasi penduduk senior masih rendah,” tutur Zhuang, ahli epidemiologi di China, seperti dilansir Detik.

Zhuang menyarankan pemerintah dapat menggelar kampanye untuk meredakan ketakutan terhadap vaksin, serta menawarkan insentif untuk mendapatkan suntikan.

Sementara epidemiolog Dicky Budiman dari Universitas Griffith Australia, juga khawatir perkembangan COVID-19 di Shanghai bakal terus memburuk.

Penyebabnya pusat ekonomi di China itu memiliki banyak populasi lansia. Terlebih sejumlah penduduk sulit mendapatkan vaksin Covid-19 berbasis mRNA seperti Pfizer dan Moderna.

“Dalam berbagai studi, vaksin mRNA terbukti lebih efektif dibandingkan inactivated vaccine lain,” papar Dicky Budiman.

Editor: Bastian Alkaf - Apahabar.com


Share :

Baca Juga

Minyak goreng

News

Dukung Keputusan Jokowi Larang Ekspor Minyak Goreng, YLKI: Biar CPO Jera
Ulin teweh

News

Gara-Gara Ulin, 3 Warga Tapin Meringkuk di Teweh
Ramadan

News

Hari Kedua Ramadan, Satpol PP Banjarmasin Temukan Warung Makan Buka Siang
Palangka Raya

News

Alasan Rute Penerbangan Baru Palangka Raya-Kaltim Perlu Dibuka

News

Keluh Pengusaha Sawit Kalsel Kala Larangan Ekspor CPO
Sabu Banjarmasin

News

Diborgol Bareng! ‘Ratu’ Sabu-Esktasi di Banjarmasin Bakal Lahiran di Penjara
Korupsi

News

Babak Baru Mega Korupsi Abdul Wahid, Jaksa KPK Limpahkan Berkas Perkara ke Tipikor Banjarmasin
Sidang Isbat

News

Sore Ini, Kemenag Gelar Sidang Isbat Penentuan 1 Ramadan 1443 Hijriah
error: Dilarang copy paste artikel berita tanpa menyertakan link url : https://apahabar.com