Kandas di Piala Presiden, Barito Putera Langsung Fokus ke Liga 1 Persiba Balikpapan Gasak PSIM Yogyakarta 2-0 Tarif Air Bersih Naik, Dewan Kotabaru Minta Pelayanan PDAM Ikut Membaik Indomaret Izin Masuk Barabai Bukan Pepesan Kosong Gaji ke-13 Sudah Cair Rp 8 Triliun, ASN Banjarmasin Sabar Dulu…

Pentingnya Peran Stakeholder Menguatkan Literasi Digital

Alih-alih akan jadi perhatian publik. Ironinya, sebagian besar penyelesaian kasus peretasan di Indonesia dinilai masih sangat lamban.
- Apahabar.com     Selasa, 24 Mei 2022 - 13:00 WITA

Pentingnya Peran Stakeholder Menguatkan Literasi Digital

Era digital menawarkan segala kemudahan, namun tetap waspada. Foto ilustrasi-net

KEAMANAN siber adalah upaya mengamankan atau melindungi ekosistem komputasi dari serangan yang bernotaben pada tindakan-tindakan ilegal dunia maya dari yang ditujukan kepada individu, organisasi atau institusi dari upaya peretasan.

Sedangkan fakta yang terjadi, keamanan siber Indonesia selalu diwarnai dengan berbagai isu tak sedap yang menggambarkan betapa masifnya perkembangan digital dari waktu ke waktu.

Alih-alih akan menjadi perhatian publik. Ironinya, sebagian besar penyelesaian kasus peretasan di Indonesia masih sangat lamban dan kesadaran masyarakat pun dapat dikatakan masih sangat minimal.

Dari Badan Siber dan Sandi Negara (BSSN) dalam hasil monitoring keamanan siber tahun 2021 yang digelar secara virtual pada Rabu 30 Maret 2022 menyuguhkan tren data yang menunjukkan bahwa Indonesia menjadi negara nomor satu dari sepuluh negara yang menjadi sumber anomali dan menjadi tujuan anomali (serangan tidak wajar dalam lalu lintas internet).

Selain itu, maraknya kasus Hoax (berita palsu) menggunakan media online sebagai wadah menebar isu SARA (Suku, Agama, Ras, Antargolongan) yang menimbulkan perlawanan antar etnis.

Pornografi yang menimbulkan penyimpangan pergaulan anak remaja yang cenderung memiliki rasa ingin tahu dan meniru terhadap apa yang mereka lihat kemudian berimbas pada rusaknya kualitas pendidikan dan moral anak bangsa dan tingginya kasus pencabulan serta perkawinan anak di bawah umur.

Carding, kejahatan yang dilakukan dengan cara melakukan transaksi melalui nomor rekening orang lain tanpa sepengetahuan pemilik sah yang berdampak berkurangnya rasa percaya para nasabah terhadap suatu bank, besarnya risiko tanggung jawab sebuah bank untuk mengembalikan seluruh total kerugian kepada para nasabahnya.

Pembobolan akun yaitu membuat link palsu atau website bodong untuk melabui sang korban. Cyber Espionage, tindakan memata-matai dengan cara masuk ke sebuah sistem komputer korban.
Plagiarisme, tindakan memalsukan, mengubah karya milik orang lain yang berkenaan dengan pelanggaran Hak Kekayaan Intelektual.

Lalu bagaimana dengan berbagai jenis aplikasi yang kita miliki seperti; aplikasi belanja online, aplikasi banking, aplikasi asuransi jiwa dan kesehatan, aplikasi peduli lindungi yang dimana kita harus login barcode setiap memasuki ruang publik sehingga data diri di dalam Nomor Induk Kependudukan (NIK) kita sudah teritegrasi dan ada di mana-mana.

Maka oleh sebab itu, mulailah dari diri sendiri untuk terus aware terhadap keamanan data pribadi. Misalnya ; jangan mudah mempercayai dan memindah tangankan alat komunikasi anda
dengan orang lain, gunakan password berkarakter unik dan akronim, aktifkan antivirius di setiap perangkat, pantau akun agar tidak lengah dari aktivitas yang mencurigakan, telitilah terhadap Uniform Resource Locator (URL) atau istilah lain menyebutkan laman wesbsite yang akan di akses, kunci perangkat anda jika tidak digunakan, berhati-hati ketika perangkat terhubung dengan wifi publik, scan file yang sudah di download dari internet sebelum dibuka, digunakan, atau di install. Logout akun apabila selesai melakukan transaksi online.

Namun harapan secara umum dalam langkah jangka panjangnya adalah diharapkan kepada seluruh stakeholder dan masyarakat lebih jeli dan berperan aktif membangun literasi digital (cakap
Teknologi, pandai memilah dan memilih informasi, bijak bersosial media, turut berlomba berperan aktif dalam berinovasi menghadapi tantangan transformasi digital).

Mengingat pesan dari Bapak Persandian dr. Roebino Kertopati “ingatlah. Bahwa kechilafan satu orang saja cukup sudah menjebabkan keruntuhan negara”. Dimana data menjadi asset berharga yang dapat dimiliki (dalam bentuk manfaat yang baik atau bahkan merugikan).*

Oleh:

Winda andrini wulandari, S. Kom, M. Kom, CEH, CITAP

Winda Andrini Wulandari, S. Kom, M. Kom, CEH, CITAP
*Salah satu staf pengajar di PTS Kalsel
*Staf monitoring, evaluasi, dan audit persandian dari bidang persandian dan keamanan
informasi, Dinas Komunikasi dan Informatika Provinsi Kalimantan Selatan

Editor: Tim Redaksi - Apahabar.com


Share :

Baca Juga

Opini

Belajar Tatap Muka, Kini Tak Sekadar Wacana
apahabar.com

Opini

Evaluasi Protokol Kesehatan Dalam Penanganan Jenazah Covid-19
apahabar.com

Opini

Komisi III Labrak Etika Publik
JMSI

Opini

Bayi Mungil itu bernama JMSI
apahabar.com

Opini

Belajar Sabar dari Si Gila
Ilham

Opini

“Beyond Help”: Pandemi Covid-19 di Tanah Air
apahabar.com

Opini

Palangka Raya: Jejak Rusia dan Kandidat Ibu Kota dari Masa ke Masa
apahabar.com

Opini

Menuding Yahudi, Meludahi Wajah Sendiri
error: Dilarang copy paste artikel berita tanpa menyertakan link url : https://apahabar.com